Lawatan Putin ke Cina | Fokus | DW | 20.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Lawatan Putin ke Cina

Akankah Cina dan Rusia membentuk kubu adi daya baru?

Presiden Rusia dan Kepala Negara Cina

Presiden Rusia dan Kepala Negara Cina

Bila Presiden Rusia Vladimir Putin melawat Cina Selasa (21/03) dan Rabu (22/03), kemungkinan besar ia tidak akan mendengar kritik dan kecaman tajam dari sang tuan rumah. Bahkan sebaliknya, Beijing justru merasa kedua negara itu punya beberapa kesamaan. Baik Cina maupun Rusia mendapat penilaian negatif dalam Laporan Hak Asasi Manusia Kongres Amerika Serikat yang dikeluarkan baru-baru ini. Tapi itu bukan satu-satunya kesamaan antara Cina dan Rusia.

Kedua negara yang bersaing ketat selama empat dasa warsa perang dingin itu, kini menjalin hubungan dekat. Bahkan Cina menetapkan ‘Tahun Rusia’ yang akan dibuka secara resmi oleh Presiden Vladimir Putin sendiri. Alexander Rahr, pakar Rusia di Organisasi Pengamat Hubungan Luar Negeri Jerman menyatakan:

Alexander Rahr: “Hubungan bilateral antara Cina dan Rusia belum pernah sebaik ini. Kedua negara itu melakukan pelatihan militer bersama dan kemungkinan besar, Cina dan Rusia punya pandangan dan kebijakan politik yang sama, dibanding Rusia dan dunia barat misalnya. Ambil saja contoh sengketa atom Iran. Hubungan antara Cina dan Rusia sudah tak sebatas pendekatan, mereka akan membentuk kemitraan strategis."

Kemitraan ini ditopang pandangan politik kedua negara yang mendukung kekuatan politik multipolar dan politik ekonomi yang pragmatis. Pertumbuhan ekonomi yang pesat menyebabkan Cina harus mengimpor minyak secara besar-besaran. Dan siapa lagi yang memasok sebagian besar kebutuhan minyak Cina kalau bukan Rusia.

Untuk tahun ini direncanakan pasokan minyak mentah sebanyak 15 juta ton. Karena itu, pembuatan pipeline minyak dari Sibiria ke Cina merupakan salah satu topik bahasan utama antara Presiden Rusia Vladimir Putin dan Kepala Negara Cina Hu Jintao. Kemitraan di bidang ekonomi akan menguntungkan kedua negara itu, Alexander Rahr menjelaskan:

Alexander Rahr:Di bidang ekonomi, hubungan Cina dan Rusia akan semakin erat. Apalagi, Uni Eropa enggan melonggarkan kerja sama ekonominya dengan Rusia. Dan Cina juga sedikit terisolasi di kawasan Asia karena alasan politis. Sementara antara Cina dan Rusia tidak ada pembatasan, sehingga kedua negara itu dapat saling melengkapi dan saling menguatkan.”

Posisi Cina di bidang militer juga dikuatkan dengan pembelian senjata modern dari Rusia. Kekhawatiran sejumlah petinggi di Moskow, bahwa Rusia suatu saat akan kalah dari Cina di bidang militer, saat ini masih ditutupi kepentingan komersial dari bisnis senjata dengan negara itu.

Namun bukan berarti hubungan antara Cina dan Rusia selalu mulus. Masuknya jutaan warga Cina ke kawasan timur Rusia secara ilegal menyulitkan kerja aparat imigrasi Rusia. Selain itu, masyarakat Rusia mulai was-was melihat tingkah polah tetangganya. Apalagi setelah bencana akibat kecelakaan bahan kimia di Sungai Shonghua November lalu, di mana kawasan perbatasan Rusia ikut kena imbasnya.

Karena itu, pengamat politik Alexander Rahr menilai, kerja sama antara Cina dan Rusia hanya akan bertahan selama hubungan antara Rusia dan Eropa masih tegang:

Alexander Rahr: “Rusia adalah negara Eropa. Kaum pemikir Rusia lebih berorientasi pada cara pikir Eropa. Hubungan Uni Eropa dan Rusia sedikit terganggu karena perbedaan kepentingan saat ini. Karena itu, Rusia membina hubungan dengan Cina. Tapi saya kira, hubungan Moskow dan Beijing tidak akan membentuk kubu alternatif yang dapat mengimbangi kekuatan Amerika dan dunia barat dalam kancah politik internasional.” (zer)