Laporan Tahunan Worldwatch Institute | Fokus | DW | 19.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Laporan Tahunan Worldwatch Institute

Cina dan India menjadi fokus laporan organisasi pengamat perkembangan dunia yang berbasis di Washington. “Worldwatch Institute” menuntut perubahan global dalam politik energi dan sumber daya kedua negara tersebut.

Dengan perkembangan industrinya yang pesat, Cina menjadi kekuatan ekonomi baru

Dengan perkembangan industrinya yang pesat, Cina menjadi kekuatan ekonomi baru

Bila kedua negara industri itu baru itu mengikuti pola konsumsi negara industri maju, maka dunia harus menghadapi ancaman dampak lingkungan yang negatif. Itu dikatakan Oystein Dahle, ketua “Worldwatch Institute“ di Berlin, dalam acara peluncuran laporan tahunan “Worldwatch Institute.“

Pendapat Oystein Dahle didukung Menteri Bantuan Pembangunan Jerman Heidemarie Wieczorek-Zeul. Penting bagi Cina dan India untuk menjalankan pembangunan berkelanjutan agar dunia terlindung dari instabilitas lingkungan dan politik. Dan Jerman sendiripun ingin bekerja sama dengan negara lain untuk mencari solusi bagi tantangan global, tambah Wieczorek-Zeul.

Bagi pemerintah Jerman, Cina dan India memiliki peran penting baik secara regional maupun internasional, karena posisinya sebagai kekuatan ekonomi dan politik baru. Pertumbuhan kedua negara Asia itu berdampak langsung pada Jerman, kata Heidemarie Wieczorek-Zeul.

Heidemarie Wieczorek-Zeul menambahkan, Cina menyatakan bersedia mengalihkan 15 persen sumber energinya ke sektor energi terbarukan selambatnya tahun 2020. Tapi, politik energi Cina tak hanya berdampak pada Jerman.

Menurut menteri bantuan pembangunan Jerman itu, Cina aktif berinvestasi di industri minyak, kayu dan perhutanan di sejumlah negara Afrika. Perubahan politik energi dan lingkungan Cina diharap membawa imbas positif bagi penggunaan sumber daya alam Afrika. Dengan demikian, eksploitasi kekayaan alam benua itu dapat dihindari.

Di lain pihak, ketua Yayasan Heinrich Böll Ralf Fücks mencemaskan persaingan global antar negara industri. Hal ini dikuatirkan mempengaruhi pembentukan kemitraan strategis dengan negara yang kaya sumber daya alam, tanpa mengindahkan nilai-nilai demokrasi dan hak asasi manusia. Ralf Fücks menunjukkan satu contoh. Sikap Cina dalam menanggapi kasus Atom Iran berbeda dibandingkan dengan cara negara tirai bambu itu menanggapi konflik Sudan. Ini tentu disebabkan karena kepentingan yang berbeda pula.