Laporan Tahunan Amnesty International | Fokus | DW | 23.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Laporan Tahunan Amnesty International

Tahun ketakutan. Demikian Organisasi pemantau hak asasi manusia, Amnesty International, menggambarkan situasi dunia, tahun lalu.

Sekjen amnesty international Irene Khan

Sekjen amnesty international Irene Khan

Dalam laporan tahunan terbaru yang diluncurkan di kantor pusat mereka di London dan di berbagai cabang di seluruh dunia, Amnesty Internasional menyebut, berbagai pemerintah tangan besi, rezim penindas, dan kelompok-kelompok bersenjata menjalankan politik ketakutan terhadap kalangan rakyat sipil, untuk menginjak-injak hak asasi manusia dan menciptakan dunia yang terpecah belah dan sangat berbahaya. Sekretaris Jenderal Amnesty, Irene Khan mengatakan:

"Kita menyaksikan suatu gelombang anti orang asing dan rasisme terhadap misalnya kelompok Gipsi di eropa. Kita menyaksikan bangkitnya Islamophobia dan antis Yahudi, sebagai buah dari ketakutan mengenai situasi keamanan, mengenai ancaman terorisme. Jadi kita saksikan bagaimana dunia diselimuti ketakutan, dan ketakutan itu digunakan berbagai pemerintahan untuk menciptakan suatu keamanan palsu sembari mengelak dari pertanggung-jawaban."

Salah satu tindakan menginjak-injak HAM paling terang-terangan terjadi di Darfur Sudan. Warga kulit hitam dibunuh, disiksa dan bahkan dibasmi oleh milisi Arab Janjaweed yang didukung pemerintah Sudan. Mengakibatkan ratusan ribu orang tewas dan jutaan orang terusir.

Amnesty Internasional memunculkan seorang perempuan Darfur berusia 32 tahun, Hawa Mahamet Asabala, yang terusir dan terpaksa mengungsi. Dikatakannya:

"Malam itu kami tidur lebih awal, ketika sekitar 300 sampai 400 orang milisi Arab berkuda datang menyerang desa kami, dan membakari rumah-rumah kami. Warga desa ketakutan, kalang kabut, berlarian berusaha menyaelamatkan diri. Sebagian dari kami tertembak, dan sebagian terpisahkan dari anak-anak kami, bahkan ada yang tidak berhasil menemukan anak-anaknya sampai seminggu kemudian"

Hawa Mahamet Asabala kini hidup di kamp pengungsi Gaga bersama 7 anaknya. Afrika memang masih merupakan kawasan yang catatan pelanggaran HAMnya paling parah. Salah satunya adalah gejala serdadu anak-anak. Di berbagai negara Afrika, ratusan ribu bocah, lelaki dan perempuan dipaksa menjadi tentara. Baik menjadi bagian tentara pemerintah, ataupun tentara pemberontak. Anak perempuan lebih lagi. Mereka dipaksa mengangkat senjata dan membunuh, namun juga jadi budak seks dari tentara lelaki senior. Sebagaimana digambarkan seorang anak perempuan bekas serdadu cilik pada sebuah milisi pemberontak Kongo.

"Mereka merokok dan menggunakan obat bius. Lalu sesudah mabuk, mereka melucuti pakaian anak-anak perempuan. mereka melakukan perbuatan seks di antara mereka sendiri, atau memaksa anak-anak perempuan untuk melayani nafsu seks mereka. Dan yang lain harus menyaksikan. Kami semua harus bertelanjang, juga ibu-ibu, harus telanjang di depan anak-anak mereka. Jika kami menolak, mereka akan membunuh kami. Banyak yang hamil. Bahkan anak perempuan umur 10 tahun pun ada yang sudah melahirkan bayi."

Khusus untuk Asia, Amnesty memuji munculnya kekuatan masyarakat sipil dalam memperjuangkan demokrasi. Masih banyak terjadi pelanggaran HAM di Asia. Seperti di Filipina, misalnya.Namun harapan muncul dengan kuat di benua itu. Masalahnya, kata Irene Khan di negara seperti Cina dan Vietnam, pertumbuhan ekonomi dijalankan dengan mengabaikan penghargaan terhadap hak-hak rakyatnya. Khusus mengenai Indonesia, Amnesty menyorot sejumlah masalah besar persoalan HAM. Antara lain penindasan terhadap penganut agama atau kalangan yang dipandang sesat atau berkeyakinan berbeda, penyiksaan terhadap tahanan, hukuman mati. Serta diskriminasi dan kekerasan terhadap perempuan yang makin marak, terutama di daerah yang menjalankan peraturan baru dengan dalih syariah.