Laporan Oxfam: Pembangunan Kembali di Aceh | Fokus | DW | 08.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Laporan Oxfam: Pembangunan Kembali di Aceh

Dua tahun sudah tsunami berlalu, namun puluhan ribu warga Aceh masih belum memperoleh rumah yang layak dihuni.

Badan bantuan Inggris, Oxfam

Badan bantuan Inggris, Oxfam

Meskipun sebagian besar wilayah yang hancur dan rumah-rumah di pesisiran sudah dibangun kembali, badan bantuan Inggris Oxfam dalam laporan terakhirnya mencatat, pembangunan kembali di daerah yang hancur akibat tsunami masih berlangsung lamban. Ian Small dari bdan bantuan Oxfam menuturkan:

“Mengingat daerah pesisiran di Aceh hancur total dua tahun lalu dapat dikatakan Aceh telah mencapai kemajuan yang cukup besar dan kami optimis, ini akan berkelanjutan. Namun, yang masih merisaukan adalah upaya pembangunan masih belum menjangkau warga tertentu.”

Sekitar 130.000 warga meninggal dan setengah juta lainnya kehilangan tempat tinggal di Aceh akibat tsunami.

Kebanyakan warga miskin setempat yang justru belum memperoleh rumah yang layak dihuni. Sekitar 25.000 keluarga masih tinggal di barak-barak sementara yang berdesak-desakan dan tidak bersih. Ada kekhawatiran, penyakit menyebar pada musim hujan.

Faktor kesulitan pembangunan kembali adalah soal klaim hak waris menyangkut kepemilikan tanah dan lahan yang perlu dicarikan jalan keluarnya. Sebagian besar warga Aceh tidak memiliki sertifikat kepemilikan tanah, karena sebelumnya tidak dibutuhkan. Setiap warga mengetahui siapa yang memiliki tanah yang mana. Sedangkan sebagian besar warga satu desa meninggal akibat tsunami dan batas-batas tanah sudah tidak nampak lagi. Di samping itu, ada kesulitan dalam pengiriman material bangunan karena terlampau banyak material yang dibutuhkan untuk membangun rumah-rumah dan infrastruktur kembali . Ian Small dari badan bantuan Oxfam mengatakan:

“Sebelum tsunami, sekitar 10.000 rumah dibangun di Aceh setiap tahunnya. Namun, sejak itu sekitar 50.000 sampai 100.000 rumah sudah dibangun dan jumlah kayu dan batu yang dibutuhkan sangat banyak, sehingga terjadi kemacetan dalam pengiriman material bangunan.”

Oxfam menyerukan kepada pemerintah Indonesia, agar menerapkan kebijakan-kebijakan untuk membantu warga yang tidak memiliki sertifikat atas tanah milik, sehingga mereka dapat memulai membangun rumah.

Pekan lalu, mantan Presiden Amerika Serikat Bill Clinton meninjau Aceh dan kawasan lain di Asia Tenggara yang tertimpa musibah tsunami. Ia melihat, hanya sekitar sepertiga korban tsunami telah kembali ke rumah permanen.