Laporan OPEC Tahun 2008 | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 11.07.2008
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Laporan OPEC Tahun 2008

Baik negara-negara konsumen minyak terpenting maupun organisasi negara produsen minyak OPEC melihat adanya harapan berakhirnya kenaikan harga minyak.

Kantor Pusat OPEC di Wina

Kantor Pusat OPEC di Wina

Badan Energi Dunia IEA hari Kamis (10/07) memprediksi, situasi panas di pasaran global saat ini akan sedikit menurun tahun depan. Dalam laporan tahunannya negara-negara konsumen minyak terpenting dan OPEC menyatakan, hingga 2012 permintaan atas minyak dari negara anggota OPEC bisa jadi lebih sedikit dari jumlah produksi saat ini.

Mengacu pada laporan tahunan organisasi negara-negara produsen minyak OPEC yang dikeluarkan di Wina, Profesor Martin Zagler, pakar makro ekonomi dan keuangan dari Fakultas Ekonomi, Universitas Wina, Austria, menyatakan bahwa angka-angka dalam laporan itu sangat menarik, karena banyak mengungkapkan pandangan dan strategi OPEC:

"Angka-angka OPEC mengungkapkan bahwa organisasi itu secara konstan mempertahankan kuota produksi atau menurunkannya hanya sedikit dan baru pada bulan-bulan terakhir mulai berekspansi. OPEC mengatakan, jumlah produksi cukup. Juga dikatakan bahwa OPEC sanggup memenuhi peningkatan permintaan dari Asia Tenggara. Menurut organisasi itu, OPEC bukan penyebab kenaikan harga minyak melainkan spekulasi di bursa."

Selanjutnya Martin Zagler mengutarakan, spekulasi itu sudah tentu sesuai dengan keinginan negara anggota OPEC yang menguasai 45 persen pangsa pasar:

"Pemasukan OPEC dan industri perminyakan pada tahun-tahun terakhir ini sangat besar. Spekulasi tersebut membawa keuntungan luar biasa bagi OPEC dan organisasi ini juga berupaya tidak melakukan apa pun yang dapat mengancam keuntungannya."

Namun, tentunya OPEC tidak ingin dituding sebagai penyebab tingginya harga minyak. Karena itu dalam laporannya organisasi tersebut berupaya menunjukkan bahwa mereka tidak bersalah. Demikian menurut Professor Martin Ziegler. Namun yang nyata adalah harga minyak yang melambung tinggi, dibandingkan tahun lalu kenaikan yang dicatat hingga akhir tahun ini mencapai 100 persen. Martin Ziegler beranggapan, OPEC juga bersalah:

"Kuota produksi OPEC di bawah kuota tahun 2006. Ini penurunan, jadi juga merupakan salah satu penyebab kenaikan harga. Tapi saya pikir, spekulasi di bursa punya andil yang lebih besar dalam kenaikan harga minyak."

Angka-angka ynag dikeluarkan OPEC juga membuktikan bahwa peningkatan permintaan di Asia yang dituding sebagai salah satu penyebab kepanikan, sebenarnya bukanlah sesuatu yang mengejutkan. Selain itu pakar ekonomi tersebut menilai, prediksi OPEC hingga tahun 2030 patut dicermati, yakni pada 22 tahun mendatang, permintaan tidak akan berubah. Ada pergeseran dalam jumlah permintaan yang akan lebih banyak beralih ke Asia Tenggara. Namun OPEC memperkirakan penurunan permintaan, terutama di Amerika Serikat, mengingat pedoman-pedoman baru mengenai emisi gas yang dikeluarkan industri mobil Amerika.

Dalam laporan tahunannya OPEC menunjukkan keyakinan, cadangan dan kapasitas untuk dasawarsa mendatang mencukupi. Satu-satunya hal yang mengkhawatirkan tampaknya hanyalah kenyataan bahwa harga minyak tetap mahal. Menurut Profesor Ziegler, laporan OPEC tidak akan mempengaruhi nilai pasar saat ini. Sebab itu, harga minyak tidak akan bergerak, apalagi menurun hanya karena laporan OPEC. (cs)