Laporan Komisi PBB penyelidik Kasus Hariri | dunia | DW | 15.06.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Laporan Komisi PBB penyelidik Kasus Hariri

Lebih dari satu tahun yang lalu Perserikatan Bangsa-bangsa menugaskan 180 orang ahli untuk menyelidiki kasus pembunuhan mantan Perdana Menteri Lebanon, almarhum Rafiq al-Hariri. Milyoner yang sempat dua kali menjabat Perdana Menteri itu, tewas dalam sebuah serangan bom mobil pada 14. Februar 2005 di Beirut. Bagaimana hasil penyelidikan komisi itu?

Seperti pendahulunya Jaksa Hakim Jerman Detlev Mehlis, Ketua Komisi Penyelidikan PBB yang baru, Serge Brammertz tidak mengungkapkan nama-nama yang berada di balik kasus pembunuhan almarhum Perdana Menteri Lebanon, Rafiq al Hariri. Satu tahun empat bulan setelah peristiwa itu, ia hanya menyatakan:

Serge Brammertz:

„Menurut penilaian kami yang berdasarkan penyelidikan tentang operasi, pengorganisasiannya maupun dari segi strategis, kejahatan itu tidak mungkin dilakukan oleh satu orang.“

Namun kelompok mana atau organisasi apa yang berada dibalik serangan Bom di Beirut pada tahun 2005, yang menelan korban 23 orang itu, sama sekali tidak dikatakannya. Brammertz bersama 180 orang penyelidik ahli telah melakukan investigasi terhadap segala motif pembunuhan dalam kasus ini, termasuk kemungkinan motif yang baru.

Serge Brammertz:

„Alasan untuk serangan itu bisa juga masalah keuangan, kami harus menyelidiki semua kemungkinan.“

Tampaknya, Penyelidik khusus asal Belgia ini sudah mempertimbangkan segala ketegangan dan tekanan politik yang terkait dengan kasus ini. Tekanan misalnya dari Amerika Serikat, yang menduga bahwa Suriah terlibat dalam kasus ini. Berbeda dengan pendahulunya, Serge Brammertz berhasil menanyai Presiden Suriah mengenai kasus Hariri ini.

3. O-Ton Brammertz (engl):

„Saya laporkan bahwa kerjasama dengan Suriah berlangsung baik. 10 pertanyaan yang saya ajukan dan dijawab dalam waktu yang cukup singkat“

Keterangan ini tidak menggembirakan Duta Besar AS untuk PBB, John Bolton, yang menilai bahwa Suriah tidak bersikap pro aktif dalam kasus ini.

John Bolton:

„Dalam laporanya Brammertz tidak menyatakan bahwa Suriah sepenuhnya bekerjasama. Menarik sekali bahwa ia hanya mengatakan bahwa Suriah memberikan keterangan lengkap untuk beberapa bidang. Ini artinya, ada juga pertanyaan yang tidak dijawab secara lengkap.“

Walaupun begitu Bolton merasa puas atas jalannya penyelidikan. Sementara Ketua Komisi Penyelidik Brammertz mengajukan perpanjangan waktu satu tahun untuk melakukan investigasi.

Perpanjangan masa investigasi adalah hal biasa. Di Eropa, masa investigasi yang berlangsung dua tahun sering terjadi. Dan tampaknya, Bramertz dan Komisi penyelidikan PBB tidak akan menemukan jawaban dibalik kasus pembunuhan Hariri dalam waktu dekat.

Iklan