Laporan Komisi Baker | dunia | DW | 07.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Laporan Komisi Baker

Komisi Baker dalam laporannya Rabu lalu membuat penilaian terbuka mengenai politik Presiden George W Bush di Irak.

Komisi itu menganjurkan penarikan pasukan tempur AS sampai tahun 2008 dan agar AS berunding dengan Iran dan Suriah. Presiden Bush selama ini menolak kedua hal tsb. Pertanyaannya, apa yang akan dilakukan Bush dengan ke-79 usul dari Komisi Baker? Karena, ia tidak berkewajiban untuk mengikutinya. Berikut komentar Daniel Scheschkewitz:

Pembeberan yang dilakukan jauh lebih kritis dari perkiraan semula. Dengan membayangkan suasana kacau-balau di Irak, Presiden Bush diharapkan mau menelan pil pahit. Yaitu berbicara langsung dengan Iran dan Suriah sampai menarik pulang pasukan AS secara bertahap.
Usulan dari komisi yang multipartai itu mencerminkan kompromi. Bush memang tidak perlu menjadwalkan penarikan pasukan secara tidak bijaksana, tetapi ditegaskan bahwa penugasan militer tanpa batas waktu seperti yang selama ini dipertahankan oleh Bush, bukan lagi opsi yang tepat bagi Amerika. Ini menjadi jelas setidaknya setelah kemenangan Partai Demokrat dalam pemilihan Kongres awal November lalu. Tetapi Bush tetap nampak anti-konsultasi.
Bahkan Menteri Pertahanan Donald Rumsfeld, salah seorang penggagas Perang Irak, sebelum dibebas-tugaskan masih mendesak Bush agar mengurangi jumlah pasukan. Sia-sia. Bush tetap yakin akan keberhasilan di Irak, walaupun para jendral dan menteri pertahanan mendatang mengatakan, bahwa saat ini kemungkinannya Amerika justru akan kalah.
Kini kelompok Republik yang moderat dari lingkungan Bush senior berusaha menyelamatkan apa yang masih bisa diselamatkan di Irak, walaupun tidak banyak. Negeri itu dilanda perang saudara antara kelompok-kelompok etnis dan agama, yaitu kelompok Sunni, Syiah dan Kurdi. Penyekatan yang nampaknya tidak bisa dihentikan lagi. Tetapi apa yang masih dapat dan harus dihindarkan adalah bahwa hal itu menjalar secara menyeluruh dengan segala dampaknya bagi kawasan Timur Tengah dan dunia.
Hanya saja untuk itu Presiden Bush harus mewujudkan usul-usul Komisi Baker secepatnya. Termasuk, menyatakan kesediaan untuk berunding dengan Suriah dan Iran, dimana semua masalah, termasuk program atom Iran, juga dibicarakan.
Penolakan pemerintahan Bush untuk berbicara dengan negara-negara itu sama sekali tidak produktif dan kekanak-kanakan. Mantan menlu James Baker yang sudah berpengalaman, mungkin merupakan orang yang tepat untuk menjalin pembicaraan. Setidaknya dulu ia berhasil mengikutkan Suriah dalam koalisi-anti-Irak, selama berkecamuknya Perang Teluk yang pertama, untuk membebaskan Kuwait.
Walaupun demikian Baker dan usul-usulnya juga bukan merupakan sarana yang mutlak ampuh. Tidak ada yang punya jimat untuk menyelesaikan masalah Irak. Sebab pemerintahan Bush sudah terlalu lama berada di jalur yang salah dan mengabaikan peringatan sejumlah pakar dan dunia internasional. Sekarang mungkin sudah terlambat.
Tetapi usul-usul yang benar dari Komisi Baker, mungkin merupakan peluang terakhir untuk mencegah Irak terjerumus dalam kekacauan total. Jerman sepatutnya memanfaatkan bobot politik luar negerinya untuk melakukan perubahan. Bukan untuk menyelamatkan warisan masa kepresidenan Bush, melainkan untuk mencegah kehancuran total.

Iklan