Laporan ICG: Noordin terdesak | Fokus | DW | 05.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Laporan ICG: Noordin terdesak

Penggerebekan terhadap tempat persembunyian pengikut Noordin M. Top di Wonosobo merupakan pukulan berat bagi jaringan teror Noordin di Indonesia

Noordin bertanggung jawab atas beberapa serangan bom di Indonesia

Noordin bertanggung jawab atas beberapa serangan bom di Indonesia

Demikian menurut laporan International Crisis Group (ICG), kelompok pengamat konflik yang bermarkas di Brussel. Penggerebekan tanggal 29 April lalu menewaskan dua orang kepercayaan Noordin M. Top, yaitu Baharudin Soleh alias Abdul Hadi dan Gempur Budi Angkoro alias Jabir. Dalam laporan ICG berjudul “Terorisme di Indonesia: Jaringan Noordin“ yang diluncurkan hari Jumat (05/05) pukul 17 WIB dikatakan, kini Noordin M. Top makin terpojok karena kehilangan dua tokoh utama jaringannya. Baharudin Soleh alias Abdul Hadi dikatatan terlibat dalam penyiapan kader pembom bunuh diri yang menyerang Kedutaan Besar Australia tahun 2004. Sementara Jabir adalah ’chief of staff’ Noordin.

Polisi Indonesia menkhawatirkan bahwa buronan nomer satu Asia Tenggara itu akan melarikan diri ke luar negeri. Namun, menurut Sidney Jones, Direktur ICG untuk Asia Tenggara, kemungkinan Noordin M. Top kabur ke luar negeri setelah peristiwa itu, sangat kecil karena wajah Noordin sudah dikenal dan polisi Indonesia memperketat pengawasan terhadap pergerakan pendukung Noordin di Jawa Tengah.

Sidney Jones menambahkan, Noordin tidak dapat mengharapkan dukungan dari kelompok mainstream Jemaan Islamiyah (JI). Karena, bagi sebagian besar anggota JI, kelompok Noordin yang bergerak sendiri merupakan sempalan yang sudah menyimpang dari JI. Menurut laporan ICG, kelompok Noordin yang kekurangan dana, kader baru dan senjata sempat mendekati dua organisasi di luar JI yang bergerak di Ambon dan Poso. Namun kedunya menolak untuk bergabung dengan Noordin.

ICG memprediksi, penangkapan Noordin saat ini hanyalah masalah waktu. Walau begitum, Sidney Jones mengingatkan bahwa masih ada nama besar lain selain Noordin M. Top. Misalnya Zulkarnaen, pemimpin sayap militer JI yang juga lolos dari kejaran polisi selama empat tahun terakhir. Zulkarnaen dikatakan sempat aktif di Ambon dan diduga memiliki kaitan dengan jaringan berhaluan keras di Mindanao. Sehingga, andai Noordin M. Top tertangkap pun, bukan berarti jaringan teroris di Indonesia akan mati dengan sendirinya. Justru ada kemungkinan, jaringan yang sudah dibangun Noordin akan dimanfaatkan kelompok berhaluan keras lainnya.