Laporan Dana Kependudukan Dunia PBB 2006 | Fokus | DW | 07.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Laporan Dana Kependudukan Dunia PBB 2006

191 juta migran hidup tersebar di seluruh dunia. Angka ini adalah yang tertinggi yang pernah dicatat sampai saat ini. Hampir separo dari jumlah itu adalah perempuan.

Menteri Bantuan Pembangunan Jerman Wieczorek-Zeul di Libanon

Menteri Bantuan Pembangunan Jerman Wieczorek-Zeul di Libanon

Para perempuan migran memainkan peranan penting dalam pengentasan kemiskinan di negara berkembang. Demikian menurut laporan mengenai penduduk dunia tahun 2006 yang berjudul „Jalan harapan – Perempuan dan migrasi internasional“. Versi Jerman dari laporan tersebut disampaikan oleh Yayasan Kependudukan Dunia Jerman dan Dana Kependudukan PBB serta Kementrian Pembangunan Jerman di Berlin, Rabu kemarin (06/09).

Pada tahun 2005 para migran diperkirakan telah mengirim sekitar 232 milyar dollar AS ke negara asalnya. 167 milyar dari total tersebut mengalir ke negara berkembang dan jumlah ini bahkan 60 milyar dollar melebihi bantuan pembangunan internasional. Dugaan malahan menyebut jumlah sebesar dua kali lipat, mengingat banyak migran yang mengirim uang secara tunai untuk menghindari bea di bank. Bettina Maas dari Dana Kependudukan Dunia PBB mengatakan, perempuan mengirimkan uang kepada keluarganya di tanah air jauh lebih banyak dari kaum pria. Bettina Maas mengatakan:

“Misalnya perempuan migran dari Bangladesh yang bekerja di Timur Tengah, mengirimkan 72 persen dari gajinya untuk keluarga di negara asalnya. Sebagian besar dari kiriman digunakan untuk kesehatan, pendidikan anak-anak dan keluarganya.”

Dengan demikian, perempuan migran memainkan peranan penting dalam pengentasan kemiskinan dan pembangunan negaranya. Demikian ditegaskan Bettina Maas yang mewakili PBB.

Namun migrasi juga menyimpan sisi yang menyedihkan. Setiap tahun, jutaan migran perempuan menjadi korban perdagangan manusia, pelecehan dan pemerasan tenaga kerja. Untuk memperbaiki kondisi tersebut diperlukan tindakan politik yang tegas, ujar Maas. Kesehatan dan hak asasi manusia harus dilindungi, misalnya melalui penghapusan undang-undang yang diskriminatif, melalui UU perlindungan kerja bagi perempuan dan melalui penyuluhan hak-hak para migran.

Maas juga menyinggung bahwa penyebab dari migrasi itu tidak hanya kemiskinan tetapi juga karena negara industri tidak punya cukup tenaga kerja dengan kualifikasi tinggi maupun yang rendah. Misalnya, sekitar 20. 000 dokter dan perawat dari Afrika meninggalkan tanah airnya untuk mencari nafkah di luar negeri, padahal di benua tersebut terdapat epidemi AIDS yang memerlukan banyak tenaga medis.

Mantan Ketua Parlemen Jerman, Rita Süßmuth yang menjabat sebagai anggota kuratorium Yayasan Kependudukan Dunia Jerman mengatakan:

“..yang penting adalah bagaimana saya melaksanakan politik migrasi yang membawa keuntungan bagi negara penerima, negara asal dan para migran itu sendiri. Dulu kita bertanya: Bagaimana kita menghindari migrasi paksa? Sekarang pertanyaan berbunyi: Bagaimana kita membantu pembangunan di negara asalnya. Jadi kita mengaitkan pemulangan migran dengan bantuan pembangunan.”

Sementara Menteri Bantuan Pembangunan Jerman Heidemarie Wieczorek-Zeul melihat migrasi sebagai tema politik pembangunan yang penting. Yaitu, mencegah migrasi dengan memberikan perspektif yang baik di negara asal para migran, misalnya dalam bidang kesehatan, pendidikan, lapangan kerja dan HAM. Wieczorek-Zeul mengatakan:

„Kalau kita menginvestasi dalam persamaan hak, kesehatan di negara berkembang, jika kita mengupayakan pembangunan puskesmas, penyediaan perawat terdidik dan dokter-dokter, kalau kita menjelaskan masalah penyakit AIDS, kalau kita mendesak agar negara bersangkutan memberantas kemiskinan dan mengupayakan akses pendidikan dan lowongang kerja, maka kita telah ikut mengusahakan agar migrasi tidak akan dilakukan, dan orang-orang memiliki masa depan yang baik sehingga dapat ikut menbangun negaranya sendiri.