Langkah Pendekatan Israel-Hamas? | Fokus | DW | 26.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Langkah Pendekatan Israel-Hamas?

Antara Israel dan kelompok militan palestina Hamas untuk pertama kalinya terlihat sinyal pendekatan.

Ismail Haniya menerima mandat membentuk pemerintahan dari presiden Mahmud Abbas.

Ismail Haniya menerima mandat membentuk pemerintahan dari presiden Mahmud Abbas.

Dalam sebuah wawancara dengan harian Washington Post, bakal Perdana Menteri Palestina Ismail Haniya menyatakan, jika Israel menyetujui pendirian Negara Palestina termasuk Jerusalem Timur, Hamas bersedia mengakui eksistensi Israel. Wawancara itu dipublikasi Washington Post di situs internetnya.

Menanggapi wawancara tersebut, anggota kabinet Israel Meir Scheetrit menerangkan, Hamas mulai berbicara dengan bahasa lain. Ia mewnambahkan, jika Hamas mengakui eksistensi Israel, Israel tidak punya hambatan berbicara dengan Hamas dan mencapai kesepakatan.

Ini merupakan sinyal pendekatan pertama antara Israel dan Hamas. Namun tokoh Hamas Ismail Haniya mengatakan kepada wartawan di Gaza, ia tidak secara langsung menyebut soal pengakuan eksistensi Israel dalam wawancara dengan Washington Post.

Sementara itu, Amerika Serikat tetap akan menyalurkan bantuan dana ke Palestina setelah Hamas mengambil alih pemerintahan. Demikian disampaikan utusan khusus Amerika Serikat, wakil menteri luar negeri David Welch setelah bertemu dengan presiden Palestina Mahmud Abbas di Ramallah. Welch mengatakan, rakyat Palestina tidak boleh dibiarkan sendiri dalam situasi kritis ini. Presiden Mahmud Abbas menegaskan kembali keputusannya untuk meletakkan jabatan, seandainya Hamas tidak mau mengakui perjanjian dengan Israel dan menolak menghentikan kekerasan.

Piagam pendirian Hamas menyebutkan penghancuran Israel sebagai tujuan kelompok itu. Setelah kemenangan Hamas dalam pemilu parlemen di Palestina, berbagai kalangan menyerukan kepada Hamas agar mengakui eksistensi Israel.