Kunjungan Uskup Belo di Timor Leste | Fokus | DW | 19.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kunjungan Uskup Belo di Timor Leste

Kedatangannya disambut dengan tangisan para pengungsi di bandara internasional di Dili yang dipenuhi oleh tenda pengungsian.

Sepuluh tahun yang lalu, kedatangan Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo selalu disambut dengan suka cita, berbeda sekali dengan kunjungannya Rabu (18/10) kemarin di Dili, Timor Leste. Uskup Belo disapa dengan tangisan para pengungsi di bandara internasional di Dili yang dipenuhi oleh tenda pengungsian.

Uskup Carlos Filipe Ximenes Belo, peraih penghargaan Nobel Perdamaian tahun 1996, berkunjung ke tanah kelahirannya Timor Leste. Usai mendarat di Bandara Internasional Nicolau Lobatu Dili, Uskup yang kini bertugas di Mozambik ini mengatakan, bahwa kedatangannya adalah untuk menyampaikan rasa solidaritasnya kepada umatnya yang tengah berada dalam keadaan yang tidak menentu.

Belo juga menambahkan, bahwa kedatangannya saat ini bukan untuk memberikan solusi politik bagi negara Timor Leste, melainkan untuk memperkuat keyakinan dan perdamaian. Ia menilai pembunuhan antar sesama di Timor Leste terjadi karena kesalahan semua orang. Termasuk dirinya.

Kemudian Uskup Belo memohon pengampunan dan menghimbau kepada semua orang untuk saling menghargai dan saling mencintai. Ia juga menambahkan bahwa sudah saatnya bagi masyarakat Timor Leste untuk menghentikan peperangan.

Kerusuhan di Timor Leste memang belum berakhir. Kerusuhan yang bermula bulan April dan Mei yang lalu telah memecah angkatan bersenjata Timor Leste menjadi beberapa fraksi. Kemudian peperangan terjadi. Hingga kini setidaknya 33 orang tewas dan 150 ribu warga dipaksa mengungsi. Kehadiran pasukan penjaga perdamaian internasional dan pembentukan pemerintahan yang baru hanya sempat membawa perdamaan sesaat bagi negara ini.