Kunjungan Sri Paus ke Amerika Latin dan Teologi Pembebasan | Seri Uni Jerman | DW | 09.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Seri Uni Jerman

Kunjungan Sri Paus ke Amerika Latin dan Teologi Pembebasan

Kunjungan Sri Paus yang pertama ke Amerika Latin penting, bukan hanya karena tema yang akan dibicarakan, melainkan juga karena semakin meluasnya ajaran teologi pembebasan di kawasan tersebut.

Persiapan kedatangan Sri Paus di Brasil

Persiapan kedatangan Sri Paus di Brasil

Dua tahun setelah mulai memimpin gereja Katholik sedunia, hari Rabu (09/05) Paus Benediktus ke XVI untuk pertama kalinya berkunjung ke Amerika Latin. Sri Paus akan berada di Brasil selama empat hari. Dengan 125 juta umat Katholik yang hidup di Brasil, negara itu menjadi negara dengan jumlah anggota gereja Katholik paling besar di dunia.

Tema utama yang akan dibicarakan selama kunjungan Sri Paus adalah kemiskinan di seluruh kawasan Amerika Latin dan sikap pemimpin gereja Katholik terhadap alat kontrasepsi dan aborsi. Selain itu, Sri Paus diduga akan menyatakan penolakan terhadap teologi pembebasan yang menyebar luas di Amerika Latin.

Teologi Pembebasan

Teologi pembebasan adalah aliran yang berkembang di kawasan itu sejak tahun 60 an. Kemiskinan, kelaparan dan keadaan ekonomi yang buruk di negara-negara dunia ketiga menyebabkan sejumlah ahli teologi mengangkat ajaran Kristen bukan hanya di gereja, melainkan juga di panggung politik.

Mereka mendasari interpretasinya atas keyakinan teologis, bahwa Tuhan menginginkan keselamatan manusia. Bagi teologi pembebasan, keselamatan bukan hanya secara spiritual melainkan juga dalam realita di dunia, dan itu tidak berfungsi jika situasi sosial dan politik tidak mendukung.

Teologi dan Kesengsaraan

Aliran tersebut berasal dari daerah pemukiman kumuh di daerah-daerah bekas koloni Eropa di Amerika Latin. Petani, orang-orang tuna aksara dan buruh di daerah kumuh bersama-sama berusaha memecahkan masalah sehari-sehar. Mereka mulai menggunakan interpretasi lain atas sejumlah ayat kitab suci Alkitab, dan mereka juga mengaplikasikan teks Alkitab ke dalam situasi hidup mereka sendiri.

Teologi ini bukan lagi cabang studi intelektual untuk kaum elit, melainkan interpretasi Alkitab yang dekat dengan kehidupan sehari-hari dan dapat dipraktekkan. Dengan demikian, ajaran itu lebih mudah dimengerti.

Teologi Sebagai Kekuatan Revolusioner

Seiring dengan meningkatnya arti teologi pembebasan bagi masyarakat, ajaran itu juga menjadi instrumen bagi kekuatan revolusioner di Brasil, Argentina, Chile dan Peru. Semakin banyak gereja dan pemimpin gereja, yang mendukung perjuangan rakyat untuk bebas dari kesengsaraan.

Akhirnya seluruh uskup Katholik di Amerika Latin mendukung apa yang disebut „opsi untuk rakyat miskin“ sebagai pegangan utama politik gereja. Hal ini berarti, gereja di kawasan itu sepenuhnya mendukung rakyat miskin dan melihat diri sendiri dari perspektif yang baru.

Aktivis Teologi Pembebasan

Pakar terkenal aliran teologi pembebasan adalah Leonardo Boff. Ia adalah ahli teologi Katholik dan aktivis hak asasi manusia. Tahun 1985 lalu, Kardinal Joseph Ratzinger, yang sekarang menjadi Paus Benediktus XVI menetapkan larangan menyebarkan ajaran bagi Boff, karena menerbitkan sejumlah artikel tentang teologi pembebasan. Beberapa waktu kemudian Boff menikah dan kehilangan seluruh jabatannya di gereja Katholik. Dalam konteks ini kunjungan pertama Sri Paus ke Amerika Latin menjadi semakin penting. (ml)

  • Tanggal 09.05.2007
  • Penulis Silke Wünsch
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CTBJ
  • Tanggal 09.05.2007
  • Penulis Silke Wünsch
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CTBJ