Kunjungan SBY di Myanmar | Fokus | DW | 01.03.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kunjungan SBY di Myanmar

Indonesia diharapkan dapat memberi masukan positif agar proses demokratisasi berjalan lebih baik di Myanmar.

Pagoda Shwedagon, Myanmar

Pagoda Shwedagon, Myanmar

Presiden Susilo Bambang Yudhoyono memulai lawatan dua hari ke Burma, hari Rabu ini. Burma atau Myanmar adalah persinggahan ketiga SBY dalam lawatan Asianya. Sebelumnya, presiden mengunjungi Brunei dan Kamboja. Di Yangoon, SBY melakukan kunjungan kehormatan kepada pimpinan junta militer Than Shwe. Presiden Indonesia adalah kepala negara ASEAN pertama yang mengunjungi Mynamar, sejak ASEAN secara terbuka menuntut negara itu mempercepat proses demokratisasinya.

Sejak tahun 1990, Burma atau Myanmar dikuasai junta militer yang secara resmi menyebut dirinya State Peace and Development Council. Junta militer Mynanmar belakangan sering menjadi sasaran kritik negara-negara ASEAN, karena dinilai terlalu lamban dalam implementasi tujuh langkah yang dirumuskan dalam ’roadmap to democracy’. Kritik dan kecaman negara ASEAN memaksa Myanmar untuk menarik diri dari posisi kepemimpinan ASEAN. Seharusnya, tahun ini Myanmar yang mendapat giliran untuk memimpin organisasi Asia Tenggara itu.

Para pengamat internasional menilai, Indonesia termasuk negara yang paling kritis terhadap pemerintah Myanmar. Misalnya, dalam perlakuan terhadap pemimpin oposisi Aung San Suu Kyii. Penerima hadiah nobel perdamaian itu ditahan berkali-kali dan sampai saat ini masih berada dalam tahanan rumah. Sebelum lawatan SBY ke Mynanmar, Komisi I DPR sempat menyampaikan petisi yang berisi desakan, agar presiden mengagendakan pertemuan dengan Aung San Suu Kyii. Namun, untuk lawatan kali ini, presiden tampaknya tidak menjadwalkan pertemuan dengan pemimpin Liga Demokrasi Nasional itu.

Walau begitu, sejumlah pengamat masih menaruh harapan, Indonesia, dan Presiden SBY khususnya, dapat memberi masukan positif agar proses demokratisasi berjalan lebih baik di Myanmar. Menurut pakar politik Win Naing, Indonesia dan Mynnmar mempunyai banyak kesamaan. Karena itu, SBY lah yang paling mungkin memberikan masukan dengan contoh proses demokratisasi Indonesia.

Selain pertemuan dengan pimpinan junta militer Than Shwe, Presiden Yudhoyono menghadiri penanda-tanganan nota kesepahaman antara Indonesia dan Myanmar mengenai pembentukan komisi kerja sama bilateral antar dua negara. Hari Kamis (2/3) besok, Presiden Yudhoyono akan mengunjungi tempat suci umat Budda Shwedagon Pagoda dan melakukan penanaman pohon di Taman Bangsa-Bangsa. (zer)