Kunjungan PM Inggris ke Irak | Fokus | DW | 18.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kunjungan PM Inggris ke Irak

Kunjungan Perdana Menteri Inggris Tony Blair ke Irak hari Minggu (17/12) dihantui rangkaian penculikan massal di Bagdad.

Tony Blair berjabat tangan dengan PM Nuri al Maliki

Tony Blair berjabat tangan dengan PM Nuri al Maliki

Lebih dari 20 pegawai kantor bantuan Bulan Sabit Merah Iraq diculik oleh puluhan pria bersenjata yang memakai seragam polisi. Nada Doumani, juru bicara dari Komite Palang Merah Internasional mengecam serangan terhadap warga sipil dan pekerja kemanusiaan tersebut. Menurut Doumani ini adalah pelanggaran terhadap hukum kemanusiaan internasional, karena gedung tersebut jelas-jelas ditandai dengan simbol Bulan Sabit Merah. Ini adalah penculikan massal kedua yang terjadi di Bagdad dalam tiga hari terakhir.

Laporan mengenai penculikan tersebut diterima oleh Perdana Menteri Inggris Tony Blair saat ia baru saja hendak memulai pembicaraan dengan pihak pemerintahan Irak. Ada beberapa tema yang menjadi fokus utama pembicaraan Blair dan Nuri al Maliki. Diantaranya, pelatihan angkatan bersenjata Irak dan upaya agar negara-negara tetangga Irak tidak lagi mendukung kelompok-kelompok militan. Blair sendiri dalam konferensi pers usai pembicaraan tersebut, secara jelas menunjukkan dukungannya bagi usaha Maliki dalam mempersatukan negaranya yang tengah terpecah belah oleh perang.

Tony Blair: Saya telah menekankan kebersediaan kami untuk berada sepenuhnya di belakang pemerintahan Irak dan warga Irak. Kami akan memastikan bahwa demokrasi Irak tidak akan dirusak oleh terorisme, aliran tertentu, dan oleh mereka yang ingin hidup dalam kebencian dan bukan dalam perdamaian. Kami akan terus mendukung Irak dalam semua usaha yang penting bagi Irak, wilayah sekitarnya dan seluruh dunia.“

Blair dan Maliki juga mengungkapkan bahwa rencana pasukan Inggris untuk melakukan pengalihan komando wilayah kepada pasukan Irak berjalan dengan baik. Namun, tanggal pasti pengalihan tersebut tidak disebutkan. Saat ini masih ada lebih dari 7.000 tentara Inggris yang bertempur melawan kelompok militan dan melatih pasukan Irak di kota Basra, yang kemudian juga disinggahi oleh Blair.

Maliki sendiri memang telah menunjukkan bahwa ia ingin mencapai kesepekatan antara kelompok agama dan kelompok etnis di negaranya. Buktinya adalah dengan adanya konferensi perdamaian nasional. Konferensi yang dimulai Sabtu (16/12) menandakan usaha pemerintahan koalisi dengan melibatkan mantan anggota militer Saddam Hussein dan bekas partai Saddam Hussein Partai Baath ke dalam proses politik.

Maliki juga menawarkan anggota militer dari masa Saddam Hussein untuk kembali bergabung dengan angkatan bersenjata Irak yang sekarang. Ia menjelaskan bahwa angkatan bersenjata Irak membuka pintu bagi para mantan tentara yang masih ingin mengabdi bagi negaranya.

Setelah invasi Amerika Serikat ke Irak tahun 2003 yang lalu, militer Irak yang lalu dibubarkan. Dan program pembersihan kabinet pemerintahaan dari pengaruh partai Baath dimulai. Ini berarti : puluhan ribu anggota partai yang bekerja bagi Saddam Hussein dipecat dari kantor pemerintahan. Banyak kemudian mereka yang dengan cara ini tiba-tiba menjadi pengangguran dan seperti Saddam Hussein adalah kelompok Sunni, memilih untuk beralih ke senjata. Mereka bertemur melawan tentara-tentara asing di negara mereka dan melawan pemerintahan baru yang didominasi kaum Syiah.