Kunjungan Paus ke Turki Tidak Batal | Fokus | DW | 20.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kunjungan Paus ke Turki Tidak Batal

Sejumlah protes terhadap Sri Paus masih terdengar di beberapa negara. Sementara, media Turki sudah mengumumkan program kunjungan Paus Benediktur ke XVI ke negara itu.

Paus tetap dijadwalkan kunjungi Turki

Paus tetap dijadwalkan kunjungi Turki

Akhir November mendatang, Sri Paus akan berada di Turki selama empat hari, mengunjungi Ankara, Ephesus dan Istanbul. Selain menyampaikan kritikan terhadap Sri Paus, Perdana Menteri Turki, Recep Tayyip Erdogan juga menekankan, bahwa Turki tidak ingin terhambatnya dialog antar budaya dan agama. Senada dengan itu Menteri Luar Negeri Turki Abdullah Gül mengutarakan:

"Tema ini sudah banyak dibahas, baik di lingkungan Islam maupun Kristen. Saat banyak negara dan pemerintahan mengupayakan saling pengertian antar kebudayaan, memang kutipan Sri Paus tidak pada tempatnya. Walaupun begitu, bagi kami tidak ada perubahan sehubungan kunjungan Paus ke Turki."

Di lingkungan pemerintahan, kunjungan Sri Paus justru dilihat sebagai kesempatan bagus untuk memberikan dasar baru bagi hubungan dunia Islam dan Kristen. Sikap para pemimpin Turki yang melihat ke depan, juga ditunjukkan Ketua Badan keagamaan Turki, Ali Bardagoklu. Minggu lalu, ia mengecam keras Sri Paus. Namun Bardagoklu juga menyatakan bahwa Paus Benediktus ke XVI telah menunjukan keinginannya mendukung perdamaian di dunia dengan menyatakan penyesalannya. Bardagoklu malah mengkritik aksi-aksi protes yang menggunakan kekerasan di beberapa negara dan ancaman yang dilontarkan terhadap Sri Paus.

Pemerintahan Turki tampaknya menjalankan strategi ganda. Di satu pihak mengkritik Paus, di pihak lain mengupayakan agar reaksi terhadap Paus tetap terkendali. Di Ankara ditekankan, bahwa reaksi di Turki lebih moderat dibandingkan di negara-negara lainnya. Memang berkaitan dengan kutipan itu, hanya berlangsung satu protes di Turki. Protes setengah jam itu diorganisir kelompok ulama. Sementara media Turki memang masih membahas tema itu, tapi kebanyakan warga Turki tampak tidak tertarik. Seperti dikatakan seorang buruh, Ömer Aydin:

"Itu sama sekali tidak menarik buat saya. Mungkin memang ditulis di koran-koran, tapi saya tidak mengikutinya. Urusan saya hanya untuk mencari nafkah, sudah banyak."

Reaksi di Turki terhadap kutipan Sri Paus hanya terlontar dari sebuah kelompok kecil. Di Ankara, mereka mengajukan tuntutan hukum terhadap Sri Paus, yang dinilai melecehkan Turki. Namun, karena proses hukum membutuhkan izin dari menteri hukum dan peradilan, tampaknya tuntutan itu tidak akan menjadi perkara.