Kunjungan Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Israel | Fokus | DW | 13.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kunjungan Menlu Jerman Frank-Walter Steinmeier ke Israel

Hari ini ia mula-mula bertemu dengan penjabat PM Ehud Olmert. Besok ia akan mengunjungi wilayah-wilayah Palestina, Yordania dan dalam perjalanan pulangnya ia akan singgah pula di Turki.

Frank Walter Steinmeier di Israel

Frank Walter Steinmeier di Israel

Bagi Menlu Frank Walter Steinmeier perjalanan ini merupakan beban tersendiri. Kalau akhir Januari lalu rencana kunjungannya ke Israel dan wilayah-wilayah Palestina sudah dibatalkan karena harus membahas soal politik Irak dalam parlemen Jerman, maka kunjungannya kali ini dibayangi oleh memburuknya kondisi kesehatan PM Ariel Sharon. PM Israel yang sejak terkena stroke lima minggu lalu, masih berada dalam keadaan koma.
Tema pembicaraan antara Jerman, Israel dan Palestina tidaklah kurang. Mula-mula kemenangan kelompok radikal Hamas dalam pemilihan parlemen Palestina tanggal 25 Januari lalu. Ketika Kanselir Angela Merkel berkunjung ke Israel dua minggu sebelumnya, dikemukakannya tiga hal yang harus dipenuhi, bila Hamas hendak menjadi mitra bicara.

Menurut Merkel, pertama, Hamas mengakui hak eksistensi Israel. Kedua menegaskan tidak akan menggunakan kekerasan lagi, dan ketiga, mengakui pula kemajuan yang sudah dicapai dalam proses perdamaian.

Persyaratan yang disepakati antara UE dan AS itu juga ditegaskan kembali oleh Steinmeier dalam pertemuannya dengan PM Ehud Olmert. Steinmeier mengemukakan, berdasarkan latar belakang sejarahnya, solidaritas Jerman terhadap Israel tidak dapat diganggu-gugat. Juga setelah pemilu di wilayah-wilayah otonomi Palestina. Israel sendiri mengamati perkembangan Hamas dengan sangat kritis dan berdasarkan pernyataan-pernyataan terbaru Hamas, tidak diyakini bahwa organisasi itu akan menyesuaikan diri.
Steinmeier mengemukakan pula perkembangan selanjutnya tergantung dari apakah Hamas menganggap diri sebagai kekuatan politik dan mengakui pula bahwa Demokrasi dan penggunaan kekerasan sama sekali tidak sejalan. Dalam pertemuan dengan Ehud Olmert Menlu Steinmeier juga membahas undangan presiden Rusia Vladimir Putin bagi pemimpin Hamas untuk berdialog. Ini berarti Putin meninggalkan kebijakan bersama terhadap kelompok radikal itu. Israel mengamati upaya Rusia itu dengan kritis, karena waktunya dianggap masih terlalu dini.
Seperti halnya dalam kunjungan Kanselir Merkel, tema pembicaraan lainnya adalah Iran. Dua minggu lalu Kanselir Merkel membeberkan berbahayanya konflik seputar program atom iran yang terus meruncing. Selain itu dikecamnya pula pernyataan-pernyataan antisemitis dari presiden iran Mahmud Ahmadinejad. Israel sendiri mengritik, bagaimana Teheran memperuncing konflik seputar karikatur Nabi Muhammad.
Seperti halnya setiap tamu negara, Menlu Steinmeier juga akan mengunjungi monumen holocaust Yad Vashem, sore ini waktu setempat. Saat kunjungan Kanselir Merkel, Ehud Olmert menonjolkan hubungan istimewa Jerman-Israel, dan dikemukakannya pula, bahwa di kedua negara kini sudah muncul generasi baru.

Menurut Olmert, masalahnya, apakah peristiwa yang lampau dapat menjadi basis bagi harapan baru dan menciptakan peluang baru, agar hal itu tidak boleh terulang lagi.

Steinmeier kemudian akan melanjutkan pertemuan dengan menlu Israel Zippi Livni dan ketua Partai Buruh Amir Peretz. Tetapi mengingat suksesnya kunjungan Angela Merkel, dari kunjungan menlu Steinmeier tidaklah dapat diharapkan adanya aspek-aspek baru. Oleh sebab itu perhatian masyarakat umum pun hanya sekedarnya saja.
Hari Selasa besok Menlu Steinmeier akan bertemu dengan Presiden Palestina Mahmud Abbas di Ramallah, tetapi tidak ada rencana untuk bertemu dengan wakil-wakil Hamas.