Kuliah di Jerman: Tentang Kampus, Teman dan Profesor | BLOG: Eropa menurut warga Indonesia dan Indonesia di mata warga Eropa | DW | 26.10.2018
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

DWNesiaBlog

Kuliah di Jerman: Tentang Kampus, Teman dan Profesor

Profesor memperkenalkan diri, lalu memulai kuliah dengan bertanya tentang definisi manajemen. Beberapa mahasiswa mengangkat tangan, namun profesor menunjuk mahasiswi Jerman yang tidak angkat tangan. Oleh: Iyar Chaniago

Tak percaya rasanya bisa berstatus mahasiswa di salah satu perguruan tinggi negri di Jerman. Hati berbunga-bunga seperti mendapatkan surat cinta dari pacar. Tidak bisa tidur dengan nyenyak dan juga selalu mencari informasi-informasi lebih lanjut tentang kota tujuan, kampus tujuan dan kehidupan di kota tujuan. Tak ketinggalan mencari informasi tentang tempat tinggal murah meriah untuk mahasiswa.

Proses registrasi berlangsung dengan cepat secara online dan dokumen-dokumen pendukung untuk terregistrasi wajib dikirim melalui pos, seperti surat terdaftar asuransi dan bukti pembayaran administrasi dan tiket semesteran. Satu mingu setelahnya, saya menerima surat dari kampus yang menyatakan bahwa saya resmi menjadi mahasiswa Fachhochschule Mainz dan tiket semesteran juga jadwal pengenalan kampus dilampirkan dalam surat tersebut.

Iyar Chaniago, indonesischer Student in Mainz (Iyar Chaniago)

Iyar Chaniago

Senin pagi minggu pertama di bulan Oktober, kami semua mahasiswa baru berkumpul di ruang aula dan mengikuti seremoni penyambutan mahasiswa baru fakultas teknik yang terdiri dari pidato-pidato dari pejabat-pejabat kampus dan jurusan. Selesai mendengarkan pidato para pejabat, kami mahasiswa baru dipisah-pisah sesuai dengan jurusan masing-masing.

Saya masuk dalam jurusan "Technisches Gebäudemanagement" dibawah fakultas teknik dan kami langsung diantar ketua jurusan tersebut ke sebuah ruangan untuk diperkenalkan dengan mata kuliah yang akan kami dapatkan di jurusan dan prosedur-prosedur administrasi dalam pelaksanaan perkuliahan. Tak lupa kami diperkenalkan juga dengan perpustakaan yang nantinya akan menjadi tempat kami bersibuk-sibuk ria untuk menyelesaikan tugas-tugas kuliah dan belajar untuk ujian akhir semester.

Dalam pengenalan kampus, kami juga diberikan waktu spesial untuk materi kompetensi sosial. Dalam materi tersebut kami diberi tugas-tugas berdurasi 5 – 10 menit dengan metode kerja kelompok. Untuk setiap tugas kami harus membentuk kelompok baru, sehingga mau tidak mau kami harus berbicara, berkenalan dan mengerjakan tugas dengan cepat. Dari kelas kompetensi sosial inilah kami mengenal lebih dekat teman-teman yang akan berjuang bersama ke depannya.

Profesor dan teman kuliah yang membuat tertawa

Hari pertama perkuliahan dimulai dengan mata kuliah manajemen. Profesor datang dan memperkenalkan diri dan juga menceritakan pengalamannya dalam bidang terkait, dalam hal ini "Technisches Gebäudemanagement". Selanjutnya Profesor memulai pengajarannya dengan bertanya tentang apa definisi manajemen kepada mahasiswa di kelas.

Beberapa mahasiswa mengangkat tangannya dengan semangat untuk menjawab pertanyaan profesor, namun profesor menunjuk seorang mahasiswi Jerman yang tidak ikut mengangkat tangan.

"Sie. Was werden Sie sagen, wenn Ihre Oma fragt, was Management bedeutet?" (Apa yang akan Anda katakan kepada nenek Anda, jika ia bertanya apa itu manajemen?).

Mahasiswi tersebut hanya senyum dan menjawab: "Meine Oma wird mich das nicht fragen.' (Nenek saya tidak akan menanyakan itu kepada saya)".

Jawaban dari mahasiswi tersebut membuat kami bingung. Kenapa dia menjawab demikian? Pastinya kami semua di kelas juga bertanya dalam hati, kenapa mahasiswi tersebut tidak langsung menjawab apa definisi manajemen menurut pengetahuannya?

Profesorpun kemudian bertanya lebih lanjut: "Warum denn nicht?" (kenapa tidak?).

Setelah menunggu sesaat, akhirnya kami mendengar jawaban mahasiwi tersebut dan saya tak mengira bahwa jawabannya membuat kami semua tertawa.

"Weil meine Oma schon lange gestorben ist." (Karena nenek saya sudah lama meninggal) begitulah jawaban dia dan profesor ternyata tidak marah dengan jawaban seperti itu.

Kuliah yang tidak menegangkan

Kesan pertama, berkuliah di Jerman sangatlah positif dan tidak menegangkan. Yang membuat tegang adalah ketika kami ditugaskan membentuk kelompok dan setiap kelompok mendapatkan tema tersendiri untuk didiskusikan. Sangat menegangkan buat saya, karena setiap anggota dalam kelompok wajib mengeluarkan pendapat dan tema yang diberikan untuk kelompok kami tidak saya kuasai sama sekali karena hambatan pengetahuan dan pengalaman.

Selain itu, faktor bahasa membuat saya tidak percaya diri untuk berbicara. Saat itu bahasa Jerman saya masih terbatas dan juga mengalami masalah dalam memahami tema. Setelah selesai berdiskusi dalam kelompok masing-masing, kelompok diminta mempresentasikan hasil diskusi di depan kelas dan menjawab pertanyaan-pertanyaan dari kelompok lainnya.

Setelah melewati beberapa semester di jurusan tersebut, akhirnya saya memasuki fase pembuatan tugas akhir. Waktu yang diberikan untuk penyelesaian tugas akhir hanya tiga bulan. Meskipun singkat, namun waktu tiga bulan tersebut bisa saya lalu dengan baik dan mendapatkan jadwal untuk mempresentasikan hasil karya di depan pembimbing dan hadirin undangan yang datang ke acara tersebut.

Setelah menjalani tahapan-tahapan yang tidak mudah untuk dilalui, saya akhirnya mendapatlkan gelar Bachelor of Engineering (B.Eng).

**DWNesiaBlog menerima kiriman blog tentang pengalaman unik Anda ketika berada di Jerman atau Eropa. Atau untuk orang Jerman, pengalaman di Indonesia. Kirimkan tulisan Anda lewat mail ke: dwnesiablog@dw.com. Sertakan 1 foto profil dan dua atau lebih foto untuk ilustrasi. Foto-foto yang dikirim adalah foto buatan sendiri.