Kuba Pasca-Castro | Fokus | DW | 02.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Kuba Pasca-Castro

Masih harus ditungg, ke arah mana haluan politik Kuba akan bergerak.

Fidel dan Raul Castro

Fidel dan Raul Castro

Fidel Castro sudah lama tidak tampil di politik aktif Kuba karena alasan kesehatan. Adiknya, Raul yang saat ini menjabat sebagai presiden interim menjelaskan, Fidel akan kembali memimpin negara itu. Juga media gencar mempublikasi foto Fidel Castro bersama pemimpin negara Amerika Selatan yang mengunjunginya di rumah sakit. Namun spekulasi mengenai kesehatannya tetap terdengar. Dan di Amerika Serikat, strategi main sudah disiapkan untuk masa Kuba pasca Castro.

Sebagai presiden interim Kuba, Raul Castro mengajak Amerika Serikat membahas permasalahan antara kedua negara itu. Salah satunya, embargo ekonomi Amerika Serikat terhadap Kuba yang sudah berlangsung selama 40 tahun. Namun negara adikuasa itu menolak dan berbalik menuntut agar pemerintahan Kuba mengambil langkah-langkah menuju demokratisasi. Menteri Perdagangan Amerika Serikat Carlos Gutierez, yang merupakan keturunan Kuba, menilai hal itu tidak mungkin terjadi bila Raul Castro masih berada dipucuk pimpinan negara pulau itu.

Di sebuah diskusi yang diselenggarakan lembaga American Enterprise Institute. Gutierez menyatakan: "Kami tidak akan bekerjasama dengan rejim yang menyatakan Amerika Serikat sebagai musuhnya dan menentang semua nilai-nilai yang kami."

Carlos Gutierez menegaskan, bagi pemerintah Amerika Serikat, mengubah sistem politik menjadi demokrasi ala Barat merupakan satu-satunya solusi bagi Kuba. Namun Gutierez yang bersama Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice memimpin sebuah Komisi untuk Kuba, mengatakan, perubahan itu adalah urusan warga Kuba. Ia menuturkan: "Kami menyadari bahwa masa depan Kuba berada di tangan warga Kuba sendiri.“

Warga Kuba yang bersuaka di Amerika Serikat dan menunggu kematian Fidel Castro dan hancurnya rejim komunis di negara mereka, pasti tidak menyukai pesan ini. Apalagi karena, seperti diterangkan Gutierez, Amerika Serikat tidak bermaksud menggunakan desakan militer di Kuba. Gutierez mengatakan: "Kami tidak punya rencana militer untuk menduduki pulau itu, kami tidak akan mengambil alih hak milik tanah dan juga tidak akan mendukung kelompok-kelompok lokal yang akan berusaha mengambil alihnya.“

Menurut Gutierez, Amerika Serikat bersedia memberikan bantuan kemanusiaan. Hal ini dikonfirmasi oleh Caleb McCarry dari Kementrian Luar Negeri Amerika Serikat. Jabatan resminya, Koordinator Perubahan Demokrasi di Kuba. McCarry tidak mau berbicara banyak mengenai rencana pemerintah Amerika Serikat, namun mengakui bahwa negara adikuasai itu gencar menyiarkan acara-acara radio dan televisi agar bisa diterima di Kuba. McCarry mengatakan: "Pesan kami jelas, pikirkan masa depan negara Anda penuhi tanggung jawab kepada rakyat, dan bukan kepada sebuah sistem yang bobrok.“

Selain menyiarkan propaganda, yayasan ini memantau pelanggaran HAM yang berkaitan dengan pemerintahan Kuba. Tujuannya, agar di akhir masa pemerintahan diktatur di Kuba itu, tidak ada tindakan balas dendam.