KTT UE-Rusia di Samara Tidak Hasilkan Kesepakatan | dunia | DW | 19.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

KTT UE-Rusia di Samara Tidak Hasilkan Kesepakatan

Kanselir Jerman hari Jumat 18. 05 mengakui di Samara, Rusia, bahwa banyak masalah menumpuk yang tidak dapat dipecahkan dalam pertemuan puncak UE dan Rusia. Jumpa pers pada akhir KTT bahkan dibayangi dengan saling tuduh.

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Wladimir Putin Dalam Jumpa Pers di Samara

Kanselir Jerman Angela Merkel dan Presiden Rusia Wladimir Putin Dalam Jumpa Pers di Samara

Menjelang pertemuan puncak atau KTT Uni Eropa-Rusia di Samara, Rusia, tema menyangkut perisai peluru kendali, sengketa tugu peringatan, pemasokan daging, jaminan energi adalah tema yang berulang kali dibicarakan sebagai tema utama KTT. Ketika KTT tersebut berakhir Jumat kemarin (18/05) tema itu ternyata hanya disinggung sedikit. Dalam jumpa pers seusai KTT itu, Kanselir Jerman Angela Merkel selaku Ketua Dewan Uni Eropa saat ini dan Presiden Rusia Wladimir Putin menyimpulkanbahwa Uni Eropa dan Rusia akan meningkatkan kemitraan strategisnya. Selanjutnya Kanselir Jerman Merkel mengatakan, orang tidak selalu berhasil untuk meyakinkan pihak lain.

Tema utama pembicaraan KTT di Samara tersebut tenyata lain daripada yang diduga sebelumnya. Dalam jumpa pers itu diutarakan kemarahan yang sudah menumpuk terhadap demokrasi Rusia yang dinilai kurang. Selain itu juga kegusaran atas pengucilan negara anggota UE, Polandia oleh Moskow. Kanselir Jerman Merkel juga menyatakan keprihatinannya karena pemimpin oposisi dihalangi untuk mengikuti demonstrasi di Samara. Ini merupakan tudingan langsung atas kasus mantan juara dunia catur dan pemimpin oposisi Garri Kasparov, penulis Eduard Limonov, pegiat HAM Lev Ponomarjov dan para penentang pemerintah Rusia lainnya yang ditahan di bandara Moskow.

Dalam jumpa pers itu Putin kemudian membela diri dengan mengatakan, dia sendiri tidak menentang demonstrasi, tetapi itu harus dilaksanakan sesuai dengan undang-undang yang berlaku. Ditambahkannya bahwa para penentang pemerintah memprovokasi aparat keamanan. Bersamaan dengan itu Putin menekankan hak pemerintah untuk mengambil langkah prefentif, sama seperti yang dilakukan di negara lain, termasuk Jerman yang melancarkan razia di Hamburg terhadap penentang KTT G8. Atas tudingan Putin itu, Kanselir Jerman Merkel menjawab:

„Saya mengerti jika demonstran menggunakan kekerasan, batu, senjata atau apa pun juga yang berujung dengan penangkapan. Ini adalah tindakan yang benar. Hak berdemonstrasi tidak berarti mempertanyakan monopoli negara untuk menggunakan kekerasan. Tetapi jika seseorang belum melakukan sesuatu, tetapi hanya sedang pergi untuk berdemonstrasi, menurut pendapat saya, itu adalah sesuatu yang lain.“

Putin juga secara emosional menanggapi pertanyaan tentang pembunuhan terhadap wartawati Rusia, Anna Politkovskaja dan mantan agen dinas rahasia Alexander Litvinenko dan kaitannya dengan keinginan untuk melaksanakan kemitraan strategis dengan UE. Putin menepis dengan mengatakan, itu adalah kasus kehakiman. Kemitraan dengan AS juga tidak dipertanyakan meskipun di negara itu terdapat masalah dengan Guantanamo dan hukuman mati. Demikian Putin dalam jumpa pers seusai pertemuan puncak Uni Eropa-Rusia di Samara.

Tanpa peduli intimidasi aparat keamanan Rusia, sekitar 100 penentang pemerintah melancarkan aksi unjuk rasa di Samara hari Jumat kemarin (18/05) yang berujung dengan penangkapan sejumlah demonstran.

Iklan