KTT Produsen dan Konsumen Minyak di Jeddah | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 23.06.2008
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

KTT Produsen dan Konsumen Minyak di Jeddah

Hasil perundingan di Jeddah dianggap tidak memiliki resolusi yang jelas. Sehingga, harga minyak tetap meningkat.

Raja Abdullah II: Arab Saudi akan meningkatkan produksi minyaknya menjadi 9,7 juta barel.

Raja Abdullah II: Arab Saudi akan meningkatkan produksi minyaknya menjadi 9,7 juta barel.

Minyak jenis light sweet untuk penyerahan bulan Agustus naik menjadi 136,30 Dolar Amerika per barel, sedangkan minya Brent North Sea menjadi 135,80 Dolar. Pada penutupan KTT tersebut, menteri perminyakan Arab Saudi Ali al Naimi mengatakan, 'Setiap negara harus melakuan segala cara untuk meringankan situasi yang sulit ini. Namun, apa yang harus dilakukan secara konkrit tidak ia jabarkan. Raja Arab Saudi Abdullah membenarkan bahwa negaranya akan meningkatkan produksi minyak mulai 1 Juli. Ia sendiri tampak berusaha menenangkan para konsumen melalui pidato sambutannya.

"Politik Arab Saudi selalu berusaha mencapai harga minyak yang fair semenjak terbentuknya OPEC. Harga yang tidak akan merugikan produsen dan konsumen. Kesejahteraan dunia dan kepentingan nasional sama pentingnya bagi kami. Jumlah produksi minyak pun telah meningkat setiap harinya dalam beberapa bulan terakhir. Dari 9 juta menjadi 9,75 juta barel. Kami siap untuk terus memenuhi kebutuhan tambahan."

Menteri Ali al Naimi menjelaskan, Arab Saudi siap menambah produksi barel minyak mentah, yaitu 9,7 juta barel per hari dan juga lebih dari itu, jika ini merupakan tuntutan konsumen.

"Jika Arab Saudi meningkatkan atau mengurangi produksi, maka terjadi berdasarkan permintaan pelanggan. Tetapi kami juga berharap bahwa negara konsumen menyesuaikan diri dengan peraturan yang ada. Misalnya, mengijinkan investasi dalam kilang minyak dan produksi hasil minyak di laut dan daratan mereka. Kami menginginkan kerjasama dalam bidang ini dan kami telah mencapai kesepatakannya. Saya harap mereka akan menepatinya. Baik produsen dan kosumen harus bekerja sama untuk menjaga kestabilan kestabilan pasar. Tidak bisa hanya dari satu pihak saja."

Kerjasama yang direncanakan antara kedua pihak adalah hasil yang paling nyata dari KTT di Jeddah. Perdana Menteri Inggris Gordon Brown memaparkan keuntungan kerjasama tersebut.

"Saya mengusulkan agar Inggris dan negara konsumen lainnya membuka pasar mereka bagi investasi baru para produsen minyak. Juga bagi dana investasi negara-negara dalam bentuk produksi energi seperti nuklir misalnya. Cara ini mempersiapkan produsen akan masa depan tanpa minyak. Sebaliknya, produsen harus meningkatkan investasi dalam produksi minyak untuk bersama dengan investor mengamankan tawaran yang lebih tinggi. Ini akan mengubah konflik kepentingan produsen dan konsumen menjadi kepentingan bersama dari negara produsen dan konsumen."

Kesepakatan tidak tercapai tentang apa yang menyebabkan harga minyak mencapai lebih dari 130 Dolar per barel. Sementara pihak konsumen terus menyalahkan kebutuhan minyak yang terus meningkat dan persediaan yang terus berkurang, pihak produsen juga selalu mengatakan minyak yang ada di pasaran adalah cukup. Raja Abdullah meminta para peserta KTT di Jeddah untuk tidak termakan omongan yang tidak benar dan mencari alasan sebenarnya yang menyebabkan kenaikan minyak.

"Banyak alasan kenaikan cepat harga minyak. Spekulasi pasar bagi kepentingan sendiri, kebutuhan minyak yang lebih besar dari negara-negara ambang industri dan meningkatnya pajak bensin di beberapa negara konsumen."

Penurunan pajak energi dan penentuan harga yang lebih transparan adalah dua hal yang masih menjadi pekerjaan rumah produsen minyak dan negara konsumen. Apakah permintaan negara konsumen tentang produksi minyak yang lebih banyak akan dipenuhi akan diputuskan awal September ini pada konferensi OPEC. Venezuela, Aljazair dan Iran memang telah mengumumkan bahwa mereka menolak peningkatan produksi. Namun, yang akan memutuskan pada akhirnya adalah Arab Saudi yang memiliki paling banyak minyak di negaranya. (vlz)