1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikTimur Tengah

KTT NATO: Trump Umumkan Gencatan Senjata Iran Berakhir

Rizki Nugraha with AP, Reuters, AFP
8 Juli 2026

KTT NATO di Ankara sejatinya diniatkan buat mendemonstrasikan komitmen Eropa membiayai pertahanan bersama. Namun kehadiran Presiden AS Donald Trump yang dibarengi serangan AS ke Iran mengubah agenda pertemuan tersebut.

https://p.dw.com/p/5GkYx
Donald Trump di Ankara
Presiden AS Donald Trump dalam pertemuan dengan Sekretaris Jendral NATO Mark Rutte di sela-sela KTT NATO di Ankara, Turki, Rabu (8/7).Foto: Alex Brandon/AP Photo/picture alliance

Jelang hari terakhir konferensi, Presiden Amerika Serikat Donald Trump membawa kejutan bagi para pemimpin Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO) yang berkumpul di Ankara, Turki, dengan melancarkan serangan ke Iran pada Selasa (7/7) malam, serta mencabut izin yang memungkinkan Teheran menjual minyaknya di pasar dunia. "Gencatan senjata dengan Iran telah berakhir," kata dia, seperti dilansir AFP.

Perkembangan ini mengubah arah pembahasan KTT NATO yang semula difokuskan pada peningkatan belanja pertahanan negara-negara anggota dan dukungan bagi Ukraina dalam menghadapi Rusia.

Serangan teranyar AS merupakan balasan setelah tiga kapal dagang diserang di Selat Hormuz. Aksi itu sekaligus memperlihatkan rapuhnya kesepakatan sementara yang mengakhiri konflik berbulan-bulan antara Amerika Serikat dan Iran. Trump memerintahkan serangan sesaat setelah meninggalkan jamuan makan malam yang digelar Presiden Turki Recep Tayyip Erdogan bersama para pemimpin dari 32 negara anggota NATO menjelang sidang utama pada Rabu (8/7).

Trump tidak secara langsung menyinggung serangan itu pada Selasa malam. Jarang terjadi seorang presiden Amerika Serikat memerintahkan operasi militer ketika berada di luar negeri. Salah satu pengecualian terjadi pada 2011, ketika Presiden Barack Obama menyetujui serangan ke Libya saat berkunjung ke Brasil.

Sejumlah sekutu Eropa dan Kanada sebelumnya mengkhawatirkan Trump akan kembali melontarkan keluhan terkait perang Amerika Serikat dan Israel melawan Iran—konflik yang tidak pernah mereka diajak bahas sebelumnya. Trump sempat menuntut "loyalitas" dari sekutu-sekutunya dan menyebut NATO sebagai "macan kertas" setelah beberapa negara menolak memberikan akses penuh ke pangkalan militer mereka bagi pasukan Amerika Serikat untuk menyerang Iran.

Dalam pertemuan dengan Erdogan pada Selasa, Trump mengatakan permintaannya kepada negara-negara NATO untuk membantu perang melawan Iran merupakan bentuk ujian terhadap kesetiaan para sekutu.

Gencatan Senjata AS-Iran Terancam Usai Serangan Balasan Dua Hari Beruntun

Dia menuduh sejumlah negara Eropa menolak memberikan akses wilayah udara dan pangkalan militernya kepada pasukan Amerika Serikat selama perang berlangsung.

"Italia menolak kami, Jerman menolak kami, dan Prancis juga menolak kami," kata Trump. "Tidak apa-apa. Tetapi mengapa kami menghabiskan ratusan miliar dolar sementara mereka tidak berada di pihak kami?"

Sebaliknya, para pejabat Eropa menyatakan mereka umumnya tetap menghargai komitmen kepada AS, meski tidak diajak berkonsultasi soal konflik yang turut mengguncang perekonomiannya sendiri.

Melobi Donald Trump

KTT NATO dirancang sebagai ajang untuk mendemonstrasikan kesatuan aliansi Transatlantik. Pesan itu menjadi semakin penting ketika Rusia melanjutkan invasinya ke Ukraina, dan masih menebar ancaman di Eropa.

Bulan lalu, Sekretaris Jenderal NATO Mark Rutte mendatangi Washington untuk meredakan ketegangan dengan Trump. Dia memuji apa yang disebutnya sebagai "Trump Trillion", yakni tambahan belanja pertahanan sebesar US$ 1,2 triliun yang dikucurkan negara-negara Eropa dan Kanada, sejak Trump pertama kali menjabat pada 2017.

Setibanya para pemimpin NATO di Ankara pada Selasa, dia menggelar acara khusus untuk memamerkan berbagai kontrak pembelian persenjataan yang akan didanai Eropa. Sebagian besar kontrak pembelian diberikan kepada perusahaan-perusahaan AS, yang diharapkan akan menciptakan ribuan lapangan kerja bagi warga Amerika.

Rutte juga membela serangan teranyar AS ke Iran. Menurutnya, tindakan Trump "mutlak diperlukan" karena Iran dinilai melanggar kesepakatan gencatan senjata.

"Ketika gencatan senjata berlaku dan Iran pada dasarnya melanggarnya, sangat penting bagi Amerika Serikat untuk merespons secara tegas," kata dia, seperti dilansir Reuters.

Para diplomat NATO berharap upaya pendekatan tersebut dapat memuaskan Trump. Namun, sang presiden bersikeras pada kritiknya.

Potensi Trump Tinggalkan NATO

Menjelang pembukaan KTT, dia kembali mengungkit Greenland, dan menegaskan bahwa Amerika Serikat seharusnya menguasai pulau semiotonom di bawah Denmark tersebut. Pernyataan itu bertentangan dengan prinsip dasar NATO yang mewajibkan seluruh anggota melindungi wilayah satu sama lain, bukan malah saling mencaplok satu sama lain.

Perdana Menteri Denmark Mette Frederiksen kembali menolak tuntutan itu. "Greenland tentu saja tidak untuk dijual," ujarnya.

Dia menegaskan seluruh negara, termasuk para sekutu NATO, harus menghormati hak rakyat Greenland untuk menentukan nasib sendiri serta menghormati kedaulatan dan integritas wilayah Denmark.

Frederiksen juga mengatakan Denmark siap mempertahankan setiap jengkal wilayah NATO, termasuk wilayahnya sendiri, jika terjadi serangan, dan yakin seluruh anggota aliansi akan memenuhi kewajiban saling membela.

Gonjang-ganjing pertahanan Eropa

Trump sejak lama menilai Amerika Serikat memikul beban terbesar dalam membiayai pertahanan NATO. Dalam KTT tahun lalu, para anggota sepakat mengalokasikan belanja pertahanan setara 5 persen produk domestik bruto (PDB), terdiri atas 3,5 persen untuk anggaran militer dan 1,5 persen untuk pembangunan infrastruktur seperti jalan, jembatan, dan pelabuhan guna mempercepat mobilisasi pasukan saat terjadi konflik.

Menjelang KTT tahun ini, Rutte meminta seluruh anggota menyampaikan rencana yang jelas, konkret, dan kredibel untuk mencapai target tersebut.

Data terbaru NATO yang dirilis Selasa menunjukkan Slovenia, Belgia, Spanyol, dan Republik Ceko masih kesulitan memenuhi target lama, yakni belanja pertahanan sebesar 2 persen dari PDB. Kondisi itu diperkirakan akan menjadi sorotan pemerintahan Trump. 

Apakah Pasukan AS akan Ditarik dari Jerman?

Washington mendorong terbentuknya "NATO 3.0", yakni aliansi yang lebih ramping dan lebih mematikan, dengan Eropa memikul tanggung jawab utama atas keamanan kawasan, termasuk membantu Ukraina menggunakan persenjataan konvensional. Amerika Serikat akan tetap menyediakan perlindungan nuklir.

Namun hingga kini, negara-negara Eropa dan Kanada masih menunggu kejelasan mengenai rencana Trump mengurangi jumlah pasukan Amerika Serikat di Eropa.

Departemen Pertahanan Amerika Serikat tengah melakukan peninjauan selama enam bulan terhadap keberadaan pasukannya di Eropa. Besarnya pengurangan jumlah serdadu akan bergantung pada seberapa cepat negara-negara Eropa meningkatkan belanja pertahanan, dan apakah mereka bersedia memberikan akses yang lebih luas terhadap pangkalan militer mereka.

Zelensky kembali minta keanggotaan NATO

Sementara itu, Presiden Volodymyr Zelensky kembali mewacanakan keanggotaan Ukraina di NATO. Menurut dia, militer Ukraina telah memiliki pengalaman tempur yang justru akan memperkuat kemampuan pertahanan aliansi.

Zelensky, yang dijadwalkan bertemu Trump di Ankara pada hari Rabu, menyoroti kemampuan pasukan Ukraina menyerang jauh ke dalam wilayah Rusia, termasuk menghantam kilang minyak dan fasilitas energi. Dia mengklaim tentaranya rata-rata "menyingkirkan" sekitar 30 ribu personel militer Rusia setiap bulan.

Sejumlah negara di Eropa Utara, Tengah, dan Timur semakin khawatir Rusia tengah mempersiapkan serangan hibrida terhadap Eropa, yakni perpaduan antara operasi militer konvensional dan serangan siber, di tengah kesulitan Presiden Vladimir Putin meraih kemenangan di Ukraina.

Selain bertemu Zelensky, Trump juga dijadwalkan menemui Presiden Suriah Ahmad al-Sharaa. Mantan pemimpin kelompok pemberontak yang menggulingkan Bashar al-Assad pada Desember 2024 itu kini mendapat dukungan Trump untuk membangun kembali Suriah dan memulihkan hubungan dengan Barat.

Trump berulang kali mengatakan pasukan al-Sharaa akan lebih efektif dalam menumpas Hizbullah di Lebanon ketimbang militer Israel . Pernyataan itu memicu kekhawatiran di Lebanon dan Israel. Namun al-Sharaa menegaskan bahwa dirinya tidak punya niat untuk menginvasi jiran sendiri.

Editor: Ayu Purwaningsih

 

Lewatkan bagian berikutnya Topik terkait