KTT NATO di Riga | dunia | DW | 29.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

KTT NATO di Riga

Sekretaris Jenderal NATO Jaap de Hoop Scheffer menyatakan situasi di Afghanistan tetap terkuasai walaupun perlawanan hebat Taliban.

Bendera anggota NATO di Riga

Bendera anggota NATO di Riga

Dalam pembukaan KTT NATO di Riga, Sekretaris Jenderal NATO Jaap de Hoop Scheffer mengatakan pembatasan tugas pasukan NATO menghambat tugas secara keseluruhan. Seperti yang dilakukan Jerman dan sejumlah negara anggota lainnya. Angkatan Bersenjata Jerman hanya boleh ditugaskan untuk keadaan darurat di kawasan Selatan Afghanistan. Hal yang dikritik secara tidak langsung oleh sejumlah anggota NATO seperti Amerika Serikat, Inggris dan Belanda.

Presiden Amerika Serikat George W. Bush sebelum tiba di Riga mengatakan, anggota NATO seharusnya juga melaksanakan tugas berat seperti tugas perang. Kanselir Jerman Angela Merkel yang akan bertemu dengan Bush untuk pembicaraan empat mata, secara tegas mengatakan, ke-2.800 tentara Jerman selanjutnya tetap ditugaskan untuk pembangunan kembali di utara Afghanistan.

Dalam sebuah pesan video lewat internet Merkel menjelaskan: "Kami ingin agar tugas NATO di Afghanistan berhasil. Untuk itu diperlukan strategi bersama. Jerman akan melakukan bagian tugasnya.“

Dalam jamuan makan malam dengan kepala negara dan pemerintahan NATO, Merkel akan mendesak pengkaitan lebih erat antara tugas militer dengan pembangunan kembali. Ia akan mengumumkan rencana pemerintah Jerman untuk pembangunan jalan di kawasan selatan Afghanistan.

Di Riga, sekjen NATO de Hoop Scheffer juga menekankan masalah utamanya, masih kurang sekitar 2.500 tentara di selatan Afghanistan dari jumlah yang disanggupi. Hal yang tidak dapat diterima lebih lama lagi. Tapi tentang peluang munculnya kesediaan tambahan pasukan selama KTT NATO, Scheffer merasa skepsis.

Sementara itu di Riga, negara-negara Balkan yang ingin bergabung dengan NATO didesak untuk melanjutkan upaya reformasinya. Kroasia dapat memperhitungkan undangan keanggotaan NATO tahun 2008, selanjutnya Makedonia dan Albania. Sementara bagi Bosnia-Herzegovina, Montenegro atau Serbia masih belum ada waktu yang pasti. Meskipun demikian keraguan tentang perluasan NATO dibantah de Hoop Scheffer

"Saya tidak melihat kelelahan NATO. Tapi saya melihat kelelahan perluasan Uni Eropa. Saya mencoba menjelaskan, kelelahan ini jangan sampai merambah NATO. Tentu saja setiap negara yang ingin masuk ke NATO harus memenuhi kriteria. Tapi belum dapat ditetapkan waktu yang pasti.”

Keanggotaan Georgia, menurut informasi dari lingkungan NATO, tidak akan dibahas saat ini. Dengan negara bekas Uni Sovyet yang hubungannya dengan Rusia kini semakin tegang, harus dilakukan dialog intensif. Sedangkan kelanjutan Ukraina bergabung dengan NATO masih belum jelas setelah terjadinya pergantian pemerintah di negara itu. Dan untuk masalah Irak NATO lebih suka berdiam diri.

Iklan