KTT Iklim Uni Eropa Tetapkan Porsi Energi Terbarukan | Fokus | DW | 09.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

KTT Iklim Uni Eropa Tetapkan Porsi Energi Terbarukan

Di hadapan para pemimpin negara Uni Eropa, Kanselir Merkel berjanji akan menyusun peraturan yang mengikat mengenai pembangunan energi terbarukan.

Orang-orang tandatangani poster bintang di depan lokasi KTT Iklim di Brussel

Orang-orang tandatangani poster bintang di depan lokasi KTT Iklim di Brussel

Kesepakatan yang dicapai mengenai jaminan energi dan perlindungan iklim dalam Konferensi Tingkat Tinggi Uni Eropa awal tahun ini merupakan rencana yang sangat ambisius. Demikian diungkapkan Ketua Komisi Eropa Jose Manuel Barroso. Para kepala negara dan kepala pemerintahan negara-negara Uni Eropa setuju untuk mengurangi kadar emisi gas karbondioksida hingga 20 persen sampai tahun 2020. Jika penghasil gas rumah kaca terbesar dunia seperti Amerika Serikat dan Cina mengikuti jejak Uni Eropa, maka Uni Eropa ingin mengurangi kadar emisi gas asam arang hingga 30 persen.

Pada tahun 1997 Uni Eropa menetapkan dalam Protokol Kyoto, pengurangan delapan persen kadar emisi gas rumah kaca hingga tahun 2012. Suatu rencana yang ambisius tapi hingga saat ini target itu masih belum tercapai. Uni Eropa baru benar-benar berhasil mengurangi satu persen kadar emisi gas asam arang. Masih ada lagi rencana yang lebih ambisius, yaitu menaikkan porsi penggunaan energi terbarukan yang saat ini 6,5 persen menjadi 20 persen hingga tahun 2020. Suatu keputusan yang memerlukan standar ideal. Kanselir Jerman Angela Merkel mengemukakan:

„Ini merupakan gebrakan berkualitas, yang menjamin kemampuan inovasi bagi kita. Dan ini akan membawa Uni Eropa ke peranannya sebagai panutan, yang memang diinginkan, dan juga membuat kita dapat diandalkan di mata internasional.“

Untuk itu diperlukan peraturan yang mengikat. Peraturan itulah yang menjadi perdebatan di antara negara-negara anggota Uni Eropa karena posisi masing-masing negara berbeda. Mulai dari Malta, dengan penggunaan sumber energi terbarukan kurang dari satu persen, sampai Latvia sudah menggunakan 36 persen energi dari sumber energi terbarukan. Banyak negara anggota menuntut agar pembagian beban dilakukan secara adil dan pada tempatnya. Dalam mengolah perencanaan untuk mewujudkan kesepakatan KTT Iklim, Komisi Eropa ingin membantu mengatasi kekhawatiran ini. Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso menekankan:

„Jelas, tujuan nasional harus mencerminkan situasi nasional. Seperti yang sudah dikatakan, target 20 persen yang mengikat merupakan target keseluruhan Uni Eropa, bukan target yang harus dicapai masing-masing negara. Komisi Eropa akan mengajukan usulan pertama paling cepat kuartal ketiga tahun ini. Saya meyakinkan rekan-rekan di Dewan Eropa bahwa semua dilakukan secara adil dan dengan masing-masing negara anggota.“

Prancis sebagai produsen energi atom terbesar meminta agar energi atom dipertimbangkan sebagai energi ramah lingkungan. Presiden Prancis Jacques Chirac mengatakan:

„Energi terbarukan saja tidak akan cukup untuk mencapai sasaran kebijakan politik kita. Untuk itu Prancis ingin mengikutsertakan dalam skala besar sumber energi terbarukan yang juga rendah emisi karbondioksidanya, yaitu energi atom.“

Tentu saja Kanselir Merkel menolak usulan Chirac. Menurut Angela Merkel, energi atom bukanlah energi terbarukan. Hanya saja, mengingat keresahan akan pengadaan energi yang terjamin dan hendak dikuranginya emisi gas rumah kaca, disadari bahwa energi atom juga memainkan peranan.