KTT Iklim Uni Eropa di Brussel Dimulai | Fokus | DW | 09.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

KTT Iklim Uni Eropa di Brussel Dimulai

Kanselir Jerman Angela Merkel sebagai pemimpin KTT ingin menetapkan tujuan perlindungan iklim.

Kanselir Jerman Angela Merkel

Kanselir Jerman Angela Merkel

Di KTT Iklim yang berlangsung hingga Jumat (09/03), Angela Merkel menyinggung penolakan Prancis dan Ceko untuk mengganti sumber energi mereka dengan energi terbarukan. Kanselir Jerman Angela Merkel menginginkan upaya yang berarti dalam perbaikan iklim. Ini ditegaskannya menjelang pertemuannya dengan ke-26 kepala negara dan kepala pemerintahan negara Uni Eropa di Brussel, Kamis (08/03).

"Saya berharap kita berhasil menetapkan sasaran yang ambisius. Saya yakin Eropa dapat menjadi pelopor dalam perbaikan iklim dan kebijakan energi, yaitu bila kita berhasil menetapkan sasaran yang jelas.“ Demikian ditegaskan Merkel.

Selaku Ketua Dewan Eropa Merkel mendukung rencana Komisi Eropa untuk mengurangi kadar emisi gas rumah kaca sebanyak 20 persen dari emisi tahun 1990. Jika negara industri lain di dunia ingin turut serta, itu berarti Eropa bahkan dapat mengurangi emisi gas karbondioksida hingga 30 persen.

Sebelum dimulainya KTT Iklim, usulan Kanselir Merkel yaitu meningkatkan penggunanan energi terbarukan sebanyak 20 persen sudah menimbulkan diskusi hangat. Saat ini, penggunaan energi terbarukan di Uni Eropa baru berkisar 6,5 persen. Irlandia, Austria, Belgia dan Denmark yang memang telah menggunakan energi terbarukan seperti angin, air, atau sinar matahari lebih dari jumlah rata-rata, menyambut usulan tersebut.

Perdana Menteri Denmark Anders Fogh Rasmussen menyatakan: "Saya pikir Uni Eropa harus ramah lingkungan dan untuk itu diperlukan peraturan yang mengikat. Kita harus lebih fokus pada energi terbarukan.“

Tetapi lebih dari sepuluh negara Uni Eropa menolak ketentuan mengikat yang diusulkan Merkel, terutama Prancis sebagai produsen terbesar energi atom di Eropa. Presiden Prancis Jacques Chirac menginginkan peran energi nuklir juga diperhitungkan dalam aksi perlindungan iklim. Sementara Perdana Menteri Luxemburg Jean-Claude Juncker mengusulkan penggunaan sumber energi ganda yang disesuaikan dengan kondisi masing-masing negara.

"Misalnya kami tentunya tidak dapat menggunakan energi angin sebanyak negara-negara yang dapat memasang kincir angin di daerah pesisir lautnya. Jika kami dapat bekerja sama dengan Belgia dan Belanda dan surplus penggunaan energi alternatif juga diperhitungkan bagi Luxemburg, maka ini merupakan penyelesaian di tingkat Eropa.“

Tapi itu juga berarti upaya yang sulit untuk menjaga keseimbangan antara pendukung energi atom dan pendukung energi terbarukan. Ini juga disadari oleh Kanselir Angela Merkel. "Kita masih harus terus berunding dengan gigih. Tapi saya harap kita dapat membuahkan hasil demi terciptanya lapangan kerja dan peranan Uni Eropa sebagai pelopor.“