KTT ASEM: Perangi Terorisme dan Pemanasan Global | Fokus | DW | 12.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

KTT ASEM: Perangi Terorisme dan Pemanasan Global

Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Eropa dan Asia KTT ASEM ke 6 di Helsinki, Finlandia, kali ini memfokuskan diri pada perang melawan pemanasan global, dialog antar budaya dan globalisasi.

Barosso kecewa dengan tersendatnya perundingan perdagangan bebas dunia

Barosso kecewa dengan tersendatnya perundingan perdagangan bebas dunia

ASEM yang dibentuk sejak tahun 1996 ini merupakan forum dialog Asia Eropa yang beranggotakan 38 negara. Terdiri atas 25 negara Uni Eropa, Komisi Eropa, 10 negara-negara Asia Tenggara ASEAN, dan 3 negara Asia Timur Laut, Jepang, Cina, Korea Selatan. Pada pertemuan kali ini, Komisi Eropa mendesak demokratisasi di Burma. Pertemuan negara-negara Eropa-Asia kali ini juga membahas kemungkinan perluasan keanggotaan dan penguatan keamanan regional.

Musik etnik mengiringi pembukaan Konferensi Tingkat Tinggi Negara-negara Eropa-Asia ASEM, di Helsinki Finlandia. Berbagai topik kerjasama Asia-Eropa dibicarakan dalam pertemuan penting tersebut. Presiden Indonesia Soesilo Bambang Yudoyhono, mengingatkan kembali para anggota ASEM tujuan yang ingin diraih dari forum yang sudah berlangsung sepuluh tahun ini. Menurut SBY, memasuki usia ke 10 tahun, adalah usia yang tepat bagi ASEM untuk melihat sejauh mana ASEM telah memenuhi harapan para anggotanya serta mempertimbangkan arah yang ingin dituju.

"Ini adalah waktu yang baik baik kita untuk menguji apa yang sudah kita lakukan selama 10 tahun ini dan merencanakan apa yang akan kita lalukakan di masa mendatang. 10 tahun bukan waktu yang lama bagi keberlangsungan suatu forum.“

KTT pertama kali berlangsung di Bangkok, 10 tahun silam. Para pimpinan negara menilai hubungan Asia-Eropa mencapai kemajuan yang cukup berarti selama ini, terutama pada hubungan ekonomi. Perdagangan di antara kedua wilayah mencapai lebih dari 40 persen dari total perdagangan barang dunia. Dialog politik dan budaya, serta penegakan hak asasi manusia terus diperluas. Bahkan kini mencakup pula upaya penanggulangan ancaman keamanan global, seperti pemberantarasan terorisme dan pencegahan konflik.

Pertemuan ASEM dirasakan penting oleh anggota-anggotanya, agar baik negara-negara Eropa maupun Asia bisa saling lebih memahami satu sama lain. Presiden Finlandia Tarja Halonen mengatakan, perekonomian dunia kini tengah membaik, namun sayangnya jurang perbedaan antara negara-negara kaya dan miskin masih lebar. Untuk itu forum ini dapat dimanfaatkan untuk memperkecil jurang tersebut.

"Maka dari itu kita harus memfokuskan diri pada dimensi sosial globalisasi, dan pengurangan angka kemiskinan. Pertemuan ASEM dapat membawa perubahan yang adil dalam proses globalisasi.”

Apalagi kini dunia tengah bersiap menuju era perdagangan bebas. Presiden Komisi Eropa Jose Manuel Barroso dalam pertemuan tersebut sempat mengungkapkan kekecewaannya terhadap tersendatnya perundingan perdagangan bebas dunia. Aturan-aturan yang dibuat oleh negara maupun wilayah tertentu seharusnya disesuaikan dengan sistem perdagangangan multilateral.

"Kami percaya, bahwa perundingan Doha harus dihidupkan kembali tanpa sedikitpun penundaan. Dan perjanjian dagang di tingkat regional tetap harus melengkapi sistem perdagangan dunia."

Eropa kini menghadapi kompetisi manufaktur-manufaktur Asia yang mampu menjual barang dengan harga murah, namun dianggap kurang memperhatikan kesejahteraan dan hak-hak buruh dan lingkungan. Komisi Eropa mengkritik manufaktur-manufaktur Asia yang kurang memperhatikan efek tingkat gas emisi rumah kaca. Negara-negara Eropa tak mungkin memeranginya sendirian tanpa dukungan negara-negara Asia dalam memerangi pemanasan global.

Asia dan Eropa mewakili sekitar 40 persen dari jumlah penduduk dunia dan 50 persen dari pertumbuhan ekonomi di seluruh dunia. Hal ini harus dimanfaatkan untuk memerangi perubahan iklim. Negara-negara anggota ASEM ingin menyepakati langkah lanjutan dari Protokol Kyoto yang habis pada tahun 2012 untuk menekan tingkat gas rumah kaca. Kanselir Jerman, Angela Merkel mengatakan:

"Kita harus tahu, bagaimana kemajuan kita setelah 2012. Maka dari itu, kita harus membahasnya secara jelas dan di semua tingkatan. Karena, kehidupan di bumi nantinya akan bergantung kepada hal tersebut.“

Bicara soal penghematan energi, Perdana Menteri Cina Wen Jiabao mengatakan, seharusnya negar-negara Eropa menularkan teknologinya untuk mengurangi konsumsi energi.

Di sisi lain, Presiden Komisi Eropa Barroso bangga dengan banyaknya mitra Asia yang menjadikan pengalaman negara-negara Eropa sebagai sebagai sumber inspirasi terciptanya stabilisasi keamanan wilayah dan perdamaian. Oleh sebab itu, dalam pertemuan ini dibangun pula kerjasama-kerjasama dalam memerangi terorisme, kejahatan terorganisir dan ancaman lainnya. Dialog antar budaya didiskusikan untuk membantu mencegah kekerasan yang mengatasnamakan agama. Dalam hal ini, Indonesia memiliki peran yang cukup besar, sebagai negara berpenduduk Muslim terbesar di dunia.

Perdana Menteri Jepang, Junichiro Koizumi, dalam kesempatan ini menyampaikan keinginan pemerintahnya untuk menjadi tuan rumah Konferensi Tingkat Pejabat Senior dan para pakar tentang terorisme pada 2007.

Sementara itu, dalam bidang hak asasi manusia, Uni Eropa juga mendesak Burma untuk segera menerapkan peta jalan damai menuju demokratisasi. Termasuk diantaranya membebaskan tokoh pro demokrasi Burma Aung San Suu Kyi.

Di luar acara resmi pertemuan KTT ASEM, terjadi konfrensi tandingan yang dihelat oleh sejumlah perwakilan masyarakat sipil. Forum itu disebut AEPF, atau The Asia-Europe People's Forum, Forum Rakyat Asia Eropa, yang merupakan koalisi lembaga masyarakat sipil Asia dan Eropa. Dua tema utama mengemuka, yaitu masalah lingkungan hidup, khususnya mengenai energi alternatif serta jurang mengenai teknologi digital yang sampai sekarang masih menganga. Selain itu forum tandingan lainnya adalah Forum Lingkungan Hidup, Forum Serikat Buruh dan Forum Pertukaran Budaya dan Budayawan, serta Forum Editor. Eks Presiden Finlandia, Martti Ahtisaari yang menjadi salah seorang pembicara di acara ini menilai, seluruh forum masyarakat sipil itu sangat berarti. Karena masukan masyarakat dari berbagai bidang ini memperkaya dan bisa menjadikan pembicaraan yang bakal berlangsung di ASEM nanti lebih kreatif.

Kendati forum lembaga-lembaga masyarakat sipil muncul begitu banyak dan beragam, mereka biasanya memperlihatkan kesamaan pendekatan. Yakni pendekatan dari bawah ke atas, atau pendekatan pembangunan berbasis masyarakat. Lebih dari itu, lembaga masyarakat sipil juga memiliki akses yang unik untuk masuk ke rakyat bawah. Sehingga mereka memiliki kemampuan untuk menggalangan dukungan masyarakat awam.”

Hal menarik dalam pertemuan ASEM kali ini adalah rencana perluasan keanggotaan. Perdana Menteri Finlandia Matti Vanhannen mengungkapkan bahwa KTT ASEM akan mengundang sejumlah negara dan organisasi lainnya, termasuk India, Mongolia, Pakistan, Sekretariat ASEAN dan Rumania untuk turut bergabung dengan ASEM.