1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya

KTT ASEAN di Phnom Penh

2 April 2012

ASEAN rencanakan sampai 2015, pengembangan wilayah serupa Uni Eropa.

https://p.dw.com/p/14WLc
Foto: DW

Sengketa wilayah, keamanan dan peluncuran roket Korea Utara, serta reformasi Myanmar, diperkirakan menjadi isu utama pertemuan ASEAN, di Kamboja. Demikian ungkap Sekretaris Jenderal ASEAN Surin Pitsuwan hari Senin (02/04).

Pertemuan ASEAN akan berlangsung dua hari mulai Selasa (03/04) dan diselenggarakan di Phnom Penh. Secara resmi dinyatakan bahwa penekanan kali ini adalah pada pembentukaan komunitas regional yang serupa Uni Eropa.

Menguatkan Posisi Regional

Ditargetkan rampung hingga tahun 2015, komunitas regional ini akan berupa satu pasar dan wilayah produksi yang diharapkan bisa menyaingi Cina dan India. Sementara secara politik, pengembangan komunitas ini juga bisa menjadi peluang dalam menghadapi persaingan antara Amerika Serikat dengan Cina di wilayah ASEAN.

Kambodscha Vorbereitungen auf ASEAN Gipfel in Phnom Penh
Gedung pertemuan ASEAN di Phnom PenhFoto: Reuters

Disamping tema ini, setiap negara juga bisa menyampaikan isu khusus. Menurut Sekjen Surin Pitsuwan, konflik Laut Cina Selatan yang kaya minyak pasti akan dibahas bersama. Hal ini disampaikan setelah Filipina yang juga terlibat konflik perairan itu itu, menuntut agar ASEAN satu suara dalam menghadapi Beijing.

Cina mengaku seluruh perairan Laut Cina Selatan sebagai miliknya. Di pihak lain, selain Filipina, Malaysia, Vietnam dan Brunei juga mengaku punya hak atas perairan yang penting bagi lalu-lintas laut dan dikenal kaya minyak.

Menyepakati Kode Etik

Kepada para menlu ASEAN lainnya, Menteri Luar Negeri Filipina Albert del Rosario menegaskan pentingnya rancangan kode etik yang berlandaskan prinsip-prinsip konvensional dan menekankan posisi hukum internasional dalam menyelesaikan sengketa. Ia tambahkan, anggota ASEAN perlu menyepakati kode etik itu sebelum berhadapan dengan Cina.

Tahun lalu, kode etik tersebut sudah dibicarakan, tapi hingga kini dokumen itu masih belum selesai diolah. Cina juga sudah menyatakan kesediaannya untuk membahas soal itu. Hal yang disambut oleh Sekjen ASEAN Surin Pitsuwan, yang menyebut bahwa dokumen itu akan rampung selambatnya akhir tahun ini.

Surin menegaskan, ke sepuluh anggota ASEAN selalu bertindak bersama dalam menghadapi negara-negara luar, termasuk Cina.

Kamboja dikenal sebagai negara mitra Cina. Menjelang pertemuan ASEAN ini Presiden Cina Hu Jintao mengunjungi Phnom Penh, dan antara lain membantu negara itu untuk mengatasi hambatan menejemen ASEAN, antara lain dengan menyumbangkan peralatan eletronik senilai 400 ribu Dolar.

Keputusan-keputusan ASEAN ditetapkan hanya setelah ada konsensus seluruh anggotanya, dan batal apabila salah satu negara anggota menentang.

EK/ap/rtr
Editor: Andy Budiman