Kritik Sawit Soal Orangutan, Sekolah Malaysia Dianggap Sebar ″Kebencian″ | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 03.07.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Lingkungan

Kritik Sawit Soal Orangutan, Sekolah Malaysia Dianggap Sebar "Kebencian"

Malaysia menindak tegas sebuah sekolah lantaran dianggap menyebarkan "kebencian" terhadap industri sawit. Pemicunya adalah pernyataan sejumlah siswa tentang penyusutan populasi orangutan akibat ekspansi perkebunan

Orangutan yang terusir dari habitatnya menyusul deforestasi, ditampung oleh Program Konservasi Orangutan SOCP di Kuta Mbelin, Sumatera Utara.

Orangutan yang terusir dari habitatnya menyusul deforestasi, ditampung oleh Program Konservasi Orangutan SOCP di Kuta Mbelin, Sumatera Utara.

Malaysia akan menindak sebuah sekolah internasional lantaran dinilai menyebarkan "propaganda anti minyak sawit." Niat tersebut diumumkan Kementerian Pendidikan pada Rabu (3/7) usai kemunculan sebuah video yang menampilkan murid membahas menyusutnya populasi orangutan akibat ekspansi hutan industri sawit. 

"Keterlibatan murid dalam aktivitas propaganda bertentangan dengan kebijakan nasional dan bisa berdampak pada reputasi baik negeri ini," kata Amin Senin, Sekretaris Jendral Kementerian Pendidikan seperti dilansir Reuters. Meski demikian pemerintah tidak membocorkan nama sekolah yang akan ditindak.

Baca juga:Layani Permintaan Pasar, Brasil dan Indonesia Babat Lebih Banyak Hutan 

Menteri Perindustrian Teresa Kok bahkan lebih jauh lagi menyebut pihak sekolah mempromosikan "ideologi kebencian" terhadap industri sawit. "Saya mengimbau sekolah agar menghentikan upaya menyulut sentimen anti sawit di antara murid Malaysia, seperti yang dilakukan Eropa terhadap negara kita."

"Saya juga mengajak manajemen sekolah agar datang ke kementerian saya atau ke Dewan Minyak Sawit Malaysia untuk memahami upaya merawat lingkungan oleh industri sendiri," imbuhnya kepada harian The Star.

Sejak beberapa tahun terakhir Malaysia dan Indonesia sebagai produsen sawit terbesar di dunia bertindak sensitif terhadap kritik. Kedua negara berulangkali menuding Uni Eropa melakukan "kampanye hitam" ketika membahas dampak lingkungan produksi dan ekspansi perkebunan sawit di Asia Tenggara.

Gencarnya penolakan Sawit bersumber pada persepsi negatif terkait kebakaran hutan, pengeringan lahan gambut dan pembantaian satwa langka. Namun baik Malaysia dan Indonesia bersikap acuh pada kritik tersebut dan sebaliknya menuding Uni Eropa bertindak "tidak adil" terhadap produk sawit mereka.

Kedua negara juga mengancam akan mengadukan kasus ini kepada Organisasi Perdagangan Dunia WTO setelah Komisi Eropa mengumumkan produksi minyak sawit memicu deforestasi dan sebab itu tidak lagi patut dianggap sebagai bahan bakar berkelanjutan. UE memutuskan akan menghentikan penggunaan minyak sawit sebagai bahan campuran bahan bakar kendaraan mulai 2030.

Baca juga: Bagaimana Nasib Sawit Indonesia Tanpa Uni Eropa?

Menurut data Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Indonesia kehilangan 1,24 juta hektar hutan pada era ekspansi perkebunan sawit antara 2009—2011, atau sekitar 620.000 hektar per tahun. Organisasi Lingkungan Rainforest Rescue mencatat saat ini perkebunan sawit menutupi 27 juta hektar lahan di seluruh dunia.

Ilmuwan menyebut perkebunan sawit sebagai padang pasir hijau lantaran membunuh keanekaragaman hayati.

Meski demikian baik Indonesia atau Malaysia banyak menggantungkan diri pada industri sawit yang menyumbang enam persen pada penerimaan negara. Saat ini negeri jiran di utara itu tercatat memiliki sekitar lima juta hektar perkebunan sawit yang menampung ratusan ribu tenaga kerja.

rzn/hp (Reuters)

Tonton video 06:25

Berpacu Dengan Waktu Selamatkan Orangutan Dari Kepunahan

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait