Krisis Timur Tengah: Tanggapan Atas Konsep Resolusi PBB | Fokus | DW | 07.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Krisis Timur Tengah: Tanggapan Atas Konsep Resolusi PBB

Betapa pun besarnya upaya perdamaian internasional, pertempuran antara Israel dan milisi Hisbullah terus berlanjut

Roket-roket Hisbullah yang menghujani Israel

Roket-roket Hisbullah yang menghujani Israel

Sementara kabinet Israel merembukkan konsep resolusi PBB, di wilayah utara negara itu terjadi serangan yang menelan paling banyak korban sejak dimulainya pertempuran tanggal 12 Juli lalu.

Tak jauh dari perbatasan Libanon dekat kota Kirjat Schmona, sebuah roket Hisbullah kemarin jatuh di tengah-tengah sekelompok tentara cadangan Israel. Sirene mengaung pula di sejumlah desa dan kota di utara Israel. Ribuan orang melalui hari Minggu (6/8) mereka di bunker-bunker perlindungan. Lebih dari 100 roket Hisbullah ditembakkan ke Israel.

Angkatan Udara Israel juga melanjutkan serangan ke berbagai sasaran di Libanon, yaitu di Lembah Bekaa dan dekat kota Zidon. Seluruhnya diperkirakan 10 warga sipil menjadi korban. Militer Israel juga melaporkan telah menangkap seorang anggota komando Hisbullah yang tanggal 12 Juli lalu menculik dua tentara Israel, pemicu serangan Israel terhadap milisi Hisbullah.

Konsep resolusi PBB yang diajukan oleh AS dan Perancis ditanggapi pemerintah Israel dengan sikap menahan diri. Lewat radio militer Menteri Kehakiman Chaim Ramon mengemukakan, Israel akan melanjutkan serangan sampai tibanya pasukan pelindung internasional, sebab masih ada beberapa sasaran yang hendak dicapai.

Sebaliknya Hisbollah menegaskan tidak akan menerima gencatan senjata selama tentara Israel masih berada di bumi Libanon. Demikian pula pemerintah Libanon menolak rancangan resolusi tersebut. PM Fuad Siniora menilai resolusi itu tidak memperhatikan kepentingan Libanon. Dikatakannya:

"Jelasnya, mereka yang mengolah resolusi itu hendak mencapai perdamaian. Jadi kami sampaikan kepada mereka, konsep itu tidak tepat, karena tidak akan mencapai tujuan yang diinginkan oleh pihak-pihak yang terlibat."

Pemerintah Libanon akan mengusulkan perubahan kepada PBB di New York. Demikian dikemukakan kalangan pemerintahan di Beirut.

Demikian pula Sekjen Liga Arab Amre Moussa mengritik konsep resolusi itu. Dalam sebuah wawancara televisi ia mengatakan:

"Mengapa konsep itu harus diterima? Kami mengutuk penghancuran Libanon. Sedangkan soal penculikan, tentara Israel pun menculik jurubicara parlemen Palestina. Jadi mengapa satu penculikan dikutuk sedangkan penculikan lainnya dibenarkan. Standar ganda inilah yang membunuh warga di kawasan ini."

Penjabat Menlu Libanon, Tarek Mitri yang mewakili Libanon di PBB, mengemukakan:

"Konsep itu tidak berisikan tuntutan penarikan tentara Israel dari Libanon. Ini merupakan resep terbaik bagi berlanjutnya konfrontasi."

Resolusi itu memang tidak menuntut agar Israel segera menarik pasukannya dari Libanon, tetapi Menlu AS, Condoleezza Rice, mengemukakan tidak ada yang menginginkan Israel berada selamanya di Libanon.

Bagi Condoleezza Rice, konsep resolusi PBB mengenai Libanon itu barulah merupakan langkah pertama menuju diakhirinya tindak kekerasan selanjutnya. Hal ini dikemukakannya di Crawford, Texas, dimana Presiden AS George W. Bush sedang berlibur. Tetapi diakuinya, kekerasan di Libanon belum tentu dapat dihentikan sepenuhnya.

Hari Senin (7/8) ini para menlu Liga Arab akan bertemu di Beirut untuk membicarakan konflik yang terus berkepanjangan.