Krisis Pemerintahan di Ukraina Berakhir | dunia | DW | 04.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Krisis Pemerintahan di Ukraina Berakhir

Presiden Viktor Yushchenko akhirnya mengusulkan lawannya Viktor Yanukovich sebagai PM, jabatan yang sudah dipegangnya dari tahun 2002-2004.

Bakal PM baru Viktor Yanukovich

Bakal PM baru Viktor Yanukovich

Setelah tergeser dalam Revolusi Oranye kini Yanukovich yang pro Rusia kembali ke tampuk kekuasaan. Yushchenko menerangkan, ia menerima pencalonan lawannya itu, setelah Yanukovich menjamin kelanjutan politik reformasinya yang pro barat. Blok Yulia Timoshenko memilih menjadi oposisi.

Semalam presiden Ukraina Yushchenko mengisyaratkan pembentukan pemerintahan dengan menerima nominasi saingannya Viktor Yanukovich yang pro Rusia. Yushchenko mengatakan, ia menerima pencalonan Viktor Yanukovich sebagai PM Ukraina."

Lewat berbagai pembicaraan dan perembukan Yushchenko berhasil membuat para anggota koalisi pemerintahan mendatang menanda-tangani pakta kesatuan, yang merupakan kebijakan politik dalam dan luar negeri Ukraina, sesuai dengan keinginan Yushchenko yang pro barat.

Ukraina mengutamakan pendekatan ke Uni Eropa. Dan Yushchenko juga bebas untuk melanjutkan rencananya mencapai keanggotaan dalam NATO. Tetapi atas kehendak Yanukovich, sebelum benar-benar menjadi anggota, harus dilakukan referendum.
Nampaknya Yushchenko berhasil menjadikan bahasa Ukraina sebagai satu-satunya bahasa negeri, tetapi bahasa perkantoran adalah bahasa Rusia. Taras Chernowil dari partai nasionalis merasa puas dengan kesepakatan itu.

Taras Chernowil: "Soal bahasa, itu sesuai dengan konstitusi. Keputusan ini dapat diterima oleh semua pihak, karena dalam Konvensi Eropa disebutkan pula mengenai bahasa-bahasa kelompok minoritas. Menyangkut keanggotaan dalam NATO, itu mungkin saja, bila disetujui rakyat lewat referendum. Kerjasama dengan NATO akan dilanjutkan dan diintensifkan."

Dengan kesepakatan dalam soal landasan politik, maka partai presiden Yushchenko, yang artinya "Ukraina Kami" dapat masuk dalam koalisi pemerintahan. Pemilihan Yanukovich sebagai PM hari ini hanyalah tinggal formalitas belaka.

Yulia Timoshenko yang mendampingi Viktor Yushchenko selama Revolusi Oranye, menolak pemerintahan baru ini dan memilih menjadi oposisi. Ia sudah menyerukan demonstrasi massal. Anatoli Seminoga dari kubu Yulia Timoshenko mengemukakan:

"Kami menilainya sebagai pengkhianatan dari kedua pihak. Yanukovich berpaling dari prinsip-prinsipnya. Artinya bagi mereka yang penting adalah kekuasaan dan bukan perkembangan negeri ini. Yushchenko juga mengkhianati para pemilihnya dan memantapkan pengkhianatan itu dalam politik Ukraina."

Setelah pemilu bulan Maret sudah tersiar bahwa Yushchenko mendukung koalisi partainya dengan partai Yanukovich yang keluar sebagai pemenang. Kampanye pemilu menunjukkan, di segi politik Ukraina terpecah antara warganya yang berasal dari Rusia dan berbicara bahasa Rusia di bagian timur dan warga yang pro barat di barat Ukraina. Yushchenko hendak mempersatukan Ukraina dengan pembentukan koalisi tsb.

Iklan