Krisis Pangan dan Pasar Keuangan Cina
26 Juni 2008
Setahun yang lalu, Perdana Menteri Cina Wen Jiabao pernah memperingatkan, setidaknya 120 juta hektar lahan pertanian di Cina harus dipertahankan. Jika tidak, menurut para pakar pertanian di Cina, negeri tirai bambu itu akan mengalami krisis bahan pangan yang sangat parah.
Saat ini rencana ambisius pemerintah di Beijing, yaitu mengubah fungsi lahan pertanian yang luas untuk perkebunan produksi bahan bakar nabati, terpaksa dipeti-eskan. Walau pun begitu, sejak pertengahan 2007, harga bahan pangan pokok terus meningkat. Di sebagian besar kota-kota di Cina, kenaikan harga itu meningkat hingga 40 persen, di pedesaan bahkan lebih.
Bagi Dr. Zöbel, pakar pertanian Cina dari Universitas Duisburg, Jerman, penyebabnya bukan hanya kenaikan harga produksi pertanian, melainkan, “Jika kita membicarakan persediaan palawija di Cina, kita harus melihat, seberapa luas lahan yang benar-benar dipikirkan untuk menjadi lahan pertanian. Sejak 1999 lahannya semakin luas, dan panennya juga terus meningkat. Jadi sebenarnya tidak ada krisis. Tapi, kenaikan harga bahan pangan tidak mencakup semua produk pertanian, melainkan terutama harga daging babi. Lalu, harus dilihat juga, sekitar 12 persen warga Cina menderita kekurangan gizi. Penyebab utamanya adalah harga yang tinggi.”
Saat ini pemerintah di Beijing menekankan bahwa subsidi produk pertanian akan terus dikurangi dan harga benar-benar ditentukan oleh pasar. Jika terdapat cukup penawaran, mengapa harga terus meningkat? Menurut lembaga non pemerintah internasional, penyelundupan palawija dari Cina makin marak. Pasalnya, perusahaan pertanian dari Cina ternyata turut terlibat dalam kenaikan harga palawija. Apalagi, bank internasional seperti ABN AMRO dari Belanda terus meningkatkan investasinya di perusahaan menengah Cina agar seluruh dunia membeli produk palawija dari Cina dan mengakibatkan harga palawija terus meningkat.
Dr. Zöbel menerangkan, “Secara umum, warga Cina dapat makan kenyang. Namun saat ini di barat laut Cina terjadi bencana kekeringan. Benih yang disemai petani tidak tumbuh. Karena daerah itu merupakan daerah pemukiman warga minoritas, warga yang menderita kekurangan dapat menjadi faktor ketidakstabilan.”
Guna mengantisipasi ketidakstabilan, pemerintah di Beijing sudah lama berupaya membeli semua hasil panen produk palawija untuk gudang persediaan nasional. Akibat tingginya tingkat inflasi di Cina saat ini yang berkisar sembilan persen, secara tidak langsung harga beli beras juga sangat tinggi. Apalagi, sekarang bencana kekeringan tidak hanya terjadi di wilayah barat laut Cina. Di wilayah lain seperti daerah Cina tengah yang rawan gempa bumi dan tanah longsor, kini menunjukkan tanda-tanda kekurangan persediaan beras. Hal itu menjadi salah satu faktor penyebab semakin parahnya kelangkaan produk palawija dunia.
Menurut Dr. Zöbel, Cina memiliki waktu maksimal lima tahun untuk melakukan tindakan struktural dan untuk mengantisipasi ancaman krisis pangan di negaranya. Namun hingga kini belum terlihat tindakan nyatanya.
Dr. Zöbel dari Universitas Duisburg, "Situasi menentukan kenaikan harga, yaitu bahwa di pasar palawija Cina pun tidak ada yang transparan. Spekulasi sangat berkuasa di sini. Inilah masalah yang sebenarnya di Cina. Kemudian, sejak Cina menjadi anggota WTO di tahun 2001, Cina menjadi terkait dengan rezim internasional ekspor impor palawija. Akibatnya, harga pasar dunia secara langsung dan tidak langung berpengaruh terhadap situasi persediaan pangan di Cina.“(ls)