Krisis di Turki Setelah Gagalnya Pemilihan Presiden | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 08.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Krisis di Turki Setelah Gagalnya Pemilihan Presiden

Dengan gagalnya pemilihan presiden, Turki semakin terpecah. Sengketa terjadi antara Partai AKP dan oposisi di bawah Partai CHP yang menilai Abdullah Gül tidak layak jadi presiden.

Menlu Turki Abdullah Gül

Menlu Turki Abdullah Gül

Calon presiden dari partai AKP, Abdullah Gül menarik pencalonan dirinya setelah banyaknya protes di masyarakat, kritik dari militer dan keputusan mahkamah konstitusi untuk menganulir pemilihan pertama di parlemen. Pengadilan tertinggi Turki mengambil keputusan itu dengan alasan, tidak cukup anggota parlemen ikut dalam pengumpulan suara.

Kini Turki sedang menghadapi pemilu yang diajukan, serta debat mengenai sekularisme dan Islam. Sebagian besar masyarakat Turki khawatir, kestabilan negara akan goyah setelah pemilu, yang direncanakan 22 Juli mendatang, berakhir.

Partai-Partai di Turki

Di Eropa orang bertanya-tanya tentang pengaruh partai berhaluan moderat tengah kanan dan tengah kiri, yang di tahun 80 dan 90an berpengaruh besar, serta menjadi sumber stabilitas negara. Analis politik Erhan Goksel mengatakan, transformasi ekonomi Turki, liberalisasi pasar serta integrasi ke dalam sistem internasional telah menunjukkan perubahan berarti di tahun 80an. Dan itu terutama mempengaruhi kelas menengah, yang menjadi penunjang partai tengah kanan dan kiri.

20 tahun lalu, 80% pemberi suara adalah pendukung partai-partai itu. Sedangkan pada pemilu terakhir 2002 lalu, mereka hanya didukung sekitar 20%. Partai AKP yang konservatif Islam telah memerintah sejak 2002. Dalam 5 tahun terakhir AKP telah memimpin reformasi politik dan ekonomi dan berhasil menggerakkan Uni Eropa untuk memulai perundingan keanggotaannya. Namun demikian AKP juga mengambil langkah-langkah yang sifatnya konservatif Islam.

Seruan Rakyat

Beberapa pekan belakangan ratusan ribu orang berdemonstrasi di Ankara dan Istanbul mendukung sekularisme dan menentang calon presiden dari AKP. Sebagian dari mereka mengacungkan bendera Turki dan poster Kemal Ataturk, pendiri negara Turki yang menekankan pentingnya pemisahan agama dan negara.

Mereka juga menyerukan persatuan partai kanan dan kiri. Seruan ini mendapat jawaban dari partai tengah kanan DYP dan ANAP. Keduanya kini bersatu di bawah panji Partai Demokrasi. Wakil ketua ANAP, Suleyman Saribas menyatakan, perpecahan antara partai-partai tengah kanan adalah salah satu penyebab krisis yang dihadapi Turki sekarang. ANAP dan DYP menyadari masalah ini dan menyadari tanggungjawab mereka untuk bersatu bagi kepentingan rakyat Turki. Sementara itu, oposisi kiri, partai CHP dan DSP juga bersatu untuk menghadapi pemilu mendatang. Wakil Sekretaris Jenderal Partai DSP, Hasan Ercelebi mengatakan, mereka bersatu dengan tujuan utama mencegah AKP kembali berkuasa.

Debat Utama

Peta politik yang baru kemungkinan muncul di Turki sebelum pemilu 22 Juli mendatang. Tetapi debat utama tetap saja berkisar pada sekularisme dan peranan agama dalam politik. Menurut wartawan politik Sedat Bozkurt, peranan agama dalam politik telah lama didiskusikan di negara itu, kemungkinan sejak seabad yang lalu. Sebagai argumentasi politik yang berpengaruh, hal itu juga bisa menggerakkan massa.

Analis politik Erhan Goksel juga berpendapat serupa, bahwa diskusi sekularisme akan menjadi topik utama dalam pemilu mendatang. Tetapi ia ragu bahwa persatuan kubu tengah kanan akan berhasil. (ml)

Iklan