Krisis di Nigeria | Fokus | DW | 22.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Krisis di Nigeria

Provokator politis salahgunakan sengketa karikatur Nabi Muhammad untuk pembenaran kekerasan

Umat Muslim di Nigeria.

Umat Muslim di Nigeria.

Puluhan orang tewas pada hari-hari terakhir ini dalam serangan atas kelompok warga Kristen di Nigeria. Sebabnya bermacam-macam: apakah karena aksi polisi dalam menindak demonstran karikatur Nabi Muhammad atau upaya diskusi umum mengenai perubahan konstitusi yang memungkinkan jabatan presiden yang ketiga kalinya. Hari Selasa kemarin, warga Kristen di Nigeria Selatan melakukan aksi balasan. Hal ini menunjukkan betapa labilnya hubungan antara kedua umat beragama di Nigeria.

Satu hal yang jelas, sedikit sekali hubungan antara sengketa karikatur Nabi Muhammad dengan pembunuhan dan pembakaran di berbagai kota Nigeria. Ini dapat terlihat dari kenyataan bahwa kerusuhan anti Denmark terjadi hanya di sebuah kota saja. Sementara di berbagai daerah secara meluas terdapat kelompok-kelompok yang menyalahgunakan kesempatan untuk memperalat agama Islam, Kristen atau pun masalah kesukuan demi kepentingan mereka sendiri.

Kecenderungan ini terutama terdapat di daerah rawan sosial dan ekonomi lemah. Misalnya belahan utara Nigeria yang berpenduduk mayoritas Islam, merasa diabaikan sejak bagian selatan Nigeria, yang mendominasi perekonomian, memegang tampuk pimpinan pemerintah melalui Presiden Olusegun Obasanjo. Di Delta Niger yang kaya dengan minyak, kebanyakan penduduk masih tidak dapat menikmati hasil kekayaan bumi mereka.

Serangan terhadap warga Kristen di utara dan kerusuhan di Delta Niger menunjukkan, Nigeria hingga kini tidak memiliki konsep masa depan yang meyakinkan. Di bidang politik dan ekonomi setiap orang terlebih dahulu mengutamakan kepentingan diri sendiri dan golongannya masing-masing. Untuk itu semua jalan dihalalkan, bahkan risiko terjadinya perang saudara. Presiden Obasanjo sampai saat ini tidak berhasil menyelesaikan masalah itu secara mendasar. Dia hanya mencoba menyelesaikan masalah melalui kompromi, misalnya dengan menerima penerapan hukum Shariah di Nigeria Utara yang sebenarnya bertentangan dengan konstitusi. Atau memerintah dengan menggunakan kekuasaan militer.

Obasanjo yang disegani di luar negeri, tampaknya kini berusaha agar terpilih sebagai presiden untuk ketiga kalinya. Pemilihan presiden akan dilaksanakan tahun depan. Dan menurut konstitusi Nigeria, seorang presiden tidak boleh menduduki jabatan tiga kali. Sementara Obasanjo membisu, para pendukungnya mengupayakan penggantian konstitusi. Di kota Katsina, isu penggantian konstitusi lah yang memicu serangan atas warga Kristen.

Permasalahan semakin meruncing, karena banyak politisi menyalahgunakan agama demi kepentingan pemilu. Sengketa karikatur adalah sebuah umpan yang baik untuk dimanipulasikan guna kepentingan politik. Jika Nigeria menghendaki masa depan yang baik, maka pemimpin politik dan agama harus mengerti bagaimana menemukan penyelesaian ala Nigeria untuk masalah Nigeria. Hal ini hanya bisa tercapai melampaui batas-batas keagamaan dan kesukuan, sebab Nigeria adalah negara yang pluralistis.

Untungnya di Nigeria masih ada warga yang mengerti bahwa masa depan dapat dicapai dengan lebih baik jika diisi bersama dan secara damai. Dalam hal ini, masyarakat internasional diharapkan untuk membantu Nigeria semaksimal mungkin. Yang patut disinggung misalnya adalah 'Pusat Dialog Antaragama' di Kaduna, Nigeria Utara. Pada tahun-tahun yang lalu di Kaduna, berulang kali terjadi bentrokan berdarah antara umat Islam dan Kristen yang menimbulkan ratusan korban tewas. Sejumlah provokator akhirnya sadar bahwa kekerasan hanya menimbulkan kekerasan baru. Mungkin karena dialog tersebut, Kaduna sampai saat ini tidak mengalami kerusuhan dan tenang.

  • Tanggal 22.02.2006
  • Penulis Thomas Mösch
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJeN
  • Tanggal 22.02.2006
  • Penulis Thomas Mösch
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CJeN