Korea Utara Lakukan Ujicoba Atom | Fokus | DW | 09.10.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Korea Utara Lakukan Ujicoba Atom

Kantor berita resmi KCNA mengemukakan ujicoba itu dilakukan dengan tekonologi yang dimiliki Korea Utara sendiri. Dari lokasi ujicoba itu tidak keluar pancaran radioaktif yang berbahaya.

3,5 skala Richter, kekuatan gempa dari ujicoba atom Korut

3,5 skala Richter, kekuatan gempa dari ujicoba atom Korut

Seorang pejabat tinggi keamanan Korea Selatan membenarkan bahwa di Hamyong, pesisir timur Korea Utara, sekitar 100 km sebelah utara Seoul ibukota Korea Selatan, pada pukul 10.36 waktu setempat tercatat gempa berkekuatan 3,5 pada skala Richter. Pemerintah di Tokyo dilaporkan memperoleh informasi dari Cina, setengah jam setelah adanya ledakan. Cina sendiri memperoleh kabar 20 menit sebelumnya dari Korea Utara. Sementara ini Cina sudah mengecam ujicoba itu dan menuntut Korea Utara agar kembali ke meja perundingan.

Jurubicara pemerintah Jepang menyebut ujicoba itu sebagai ancaman serius bagi keamanan di kawasan itu. Korea Selatan meningkatkan kesiagaan. Presiden Roh Moo Hyun mengumpulkan semua penasehatnya untuk menghadiri sidang darurat. Roh Moo Hyun juga bertemu dengan PM Jepang Shinzo Abe, yang datang ke Seoul dalam rangka kunjungan perkenalannya.

Semula para pakar menduga ujicoba itu akan dilakukan hari Minggu 8 Oktober, bertepatan dengan peringatan mulai berkuasanya Kin Jong Il. Hari Minggu (08/10) kemarin, media-media Korea Utara menyanjung pemimpin negara itu sebagai keajaiban jaman, tetapi tidak menyinggung sedikit pun tentang ujicoba atom.
Kemungkinan kedua adalah hari Senin (09/10) ini, yang dirayakan Korea Utara sebagai Hari Partai Buruh.

Penangguhan itu mungkin dilakukan Korea Utara sebagai tenggang rasa terhadap Cina. Sebab kemarin PM Jepang sedang berada di Beijing untuk memulihkan hubungan politik antara Jepang dan Cina. Ujicoba atom hanya akan mengganggu pertemuan itu dan akan memalukan Cina.


Dengan mengacu pada keterangan seorang pakar militer Rusia di Pyongyang, sebuah harian Inggris melaporkan, Korea Utara mengujicoba bom atom sepanjang 3 meter dengan berat 4 Ton dan daya ledak 20 kiloton. Kalau benar, maka itu mirip dengan bom atom "Fat Man" yang dijatuhkan AS di Nagasaki. Jenis bom atom ini berfungsi dengan prinsip implosi. Ledakan lapisan luar memadatkan plutionium di bagian dalam bom itu, baru kemudian meledak. Minggu lalu Korea Utara membela dilakukannya ujicoba itu dengan adanya ancaman nuklir dari AS dan berbagai sanksi.

Berbagai reaksi bermunculan menanggapi laporan ujicoba atom tersebut. Diantaranya, wakil ketua urusan keamanan nasional dan politik internasional pada Center for American Progress, Joseph Cirincione, yang mengatakan: "Reaksi pertama, tentunya kami tidak mau mereka melakukannya. Reaksi kedua, ini adalah kegagalan politik AS, yang tidak mencegah ujicoba itu. Ada tahun-tahun dimana Korea Utara dapat dicegah untuk melakukannya. Sejarah dalam 20 tahun terakhir cukup jelas. Kalau kita berbicara dengan Korea Utara, kita mampu menjangkau program mereka, kalau kita mengancam, mereka akan mempercepatnya."

Hanns Günther Hilpert, seorang pakar dari Yayasan Ilmu Pengetahuan dan Politik di Berlin mengemukakan: "Motif dan waktunya harus dibedakan. Soal waktu, nampaknya ada kaitan dengan kunjungan PM baru Jepang Abe di Beijing dan Seoul, dan kemungkinan terpilihnya menlu Korea Selatan Ban Ki Moon sebagai Sekjen PBB. Soal motif, Korea Utara rupanya hendak mengubah status gencatan senjata dengan AS yang berlaku sejak 1953, demi kepentingannya, dan menganggap dapat berunding dengan AS sebagai lawan yang sederajat bila memiliki senjata atom."

Sedangkan PM Australia John Howard mengemukakan di depan parlemen di Canberra bahwa: "Korea Utara keliru besar, kalau menganggap ujicoba nuklir akan mengangkat posisinya dalam perundingan. Ujicoba itu membuat kawasan ini tidak stabil dan membahayakan keamanan Korea Utara sendiri."