Korban di RS Tarakan Kebanyakan Remaja | INDONESIA: Laporan topik-topik yang menjadi berita utama | DW | 22.05.2019
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Pilpres 2019

Korban di RS Tarakan Kebanyakan Remaja

Kerusuhan 22 Mei di Jakarta menyebabkan enam orang tewas. Dua di antaranya dilarikan ke RS Tarakan. Sementara itu Prabowo menghimbau pendukungnya agar tidak melakukan tindak kekerasan.

Tonton video 02:27

Jakarta Pascapengumuman Hasil Pilpres 2019

Tercatat enam orang meregang nyawa dalam kerusuhan 22 Mei. Dua di antaranya sempat dirawat di Rumah Sakit Tarakan, Jakarta Barat, Hingga Rabu (22/5) sore sebanyak 141 korban luka-luka masih dirawat di RS Tarakan, menyusul bentrokan antara peserta demonstrasi pro Prabowo Subianto dengan aparat keamanan.

Adam Nooryan dan Widianto Rizky Ramadhan merupakan dua nama korban tewas yang dilarikan ke rumah sakit tersebut. Saat ini manajemen RS Tarakan sudah menyiapkan lebih banyak alat medis untuk menampung korban tambahan. Menurut pantauan repoter DW, Rizki Akbar Putra, kebanyakan korban yang dilarikan ke rumah sakit tersebut masih berusia remaja.

Dalam jumpa pers Kepala Polri Tito Karnavian menolak tudingan aparatnya menggunakan peluru tajam selama menghalau demonstran. Meski demikian dia mengakui korban tewas mengalami luka bekas senjata api. "Informasinya ada yang kena luka tembak, ada yang kena senjata tumpul," katanya seperti dilansir AFP.

Hingga Rabu petang massa di depan gedung Bawaslu masih bertindak rusuh. Mereka antara lain melemparkan petasan dan batu ke arah kerumunan kepolisian.

Kapolres Jakarta Pusat Kombes Harry Kurniawan yang hadir di lokasi berusaha menenangkan massa dan meminta bantuan pemuka agama di barisan demonstran untuk turut menjaga situasi kondunsif. Namun seperti yang dilaporkan Kompas TV, seruan tersebut tidak digubris para pendemo.

"Pak ustaz kantor dibakar, jangan..jangan...teman-teman jangan..jangan lakukan itu, jangaaann...," serunya Kombes Harry lewat pengeras suara. Saat ini massa berangsur-angsur bubar menyusul batasan waktu demonstrasi yang telah ditetapkan kepolisian.

Prabowo Subianto sendiri telah menegaskan agar para pendukungnya menjaga situasi agar tetap kondunsif. Dia meminta para pendemo tidak terpicu oleh aksi provokasi. "Saya tegaskan kepada semua yang masih mau mendengar saya, para pendukung saya, sekali saya tegaskan hindari kekerasan fisik berlakulah sopan santun. Hormatilah pejabat pejabat penegak hukum dan jangan sekali-kali menggunakan kekerasan. Memang berat, saya memahami."

Tonton video 03:26

Usai Pemilu, Mau Diapakan Bekas Spanduk dan Atribut Kampanye?

Kisruh seputar hasil penghitungan suara sudah berkecamuk sejak Selasa (21/5) malam seusai pengumuman pemenang pemilu oleh KPU. Massa antara lain membakar sejumlah kendaraan, merusak asrama Brimob dan merangsek masuk ke gedung Bawaslu di kawasan Sarinah, Jakarta Pusat.

Polisi mengaku telah menangkap lebih dari 100 orang provokator dan mengantongi nama terduga dalang kerusuhan. Kapolri mengklaim aparatnya menemukan amplop berisikan uang senilai Rp. 6 juta yang diyakini sebagai bayaran untuk para perusuh. Barisan Prabowo-Sandiaga sempat berujar massa yang rusuh tidak termasuk Gerakan Nasional Kedaulatan Rakyat.

Sementara itu Kementerian Komunikasi dan Informatika memblokir media sosial untuk sementara. Pemerintah terutama ingin membatasi penyebaran foto dan video dari lokasi demonstrasi untuk menghadang kabar palsu dan hoaks. Polisi sebelumnya misalnya dituding menyerbu sebuah masjid, hal yang dibantah oleh Mabes Polri.

Tonton video 02:04

Pidato Kemenangan Jokowi-Ma'ruf: Mari Bersatu Bangun Indonesia

rzn/hp (afp,rtr,kompastv)

Laporan Pilihan

Audio dan Video Terkait