Kontroversi Ujicoba pada Binatang | Iptek | DW | 15.08.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Iptek

Kontroversi Ujicoba pada Binatang

Ujicoba obat baru atau produk kosmetika pada binatang, sudah sejak lama menjadi standar di laboratorium percobaan. Namun kontroversi merebak sejak beberapa tahun terakhir, setelah kelompok pembela hak binatang memprotes standar ujicoba tersebut.

Penderita parkinson sekarang dapat merasakan manfaat dari penelitian pada binatang

Penderita parkinson sekarang dapat merasakan manfaat dari penelitian pada binatang

Kasus paling ekstrim terjadi di Universitas Oxford, institusi akademik paling tua dan terkemuka di dunia, dimana terjadi aksi protes dengan kekerasan, yang dipicu oleh para pembela hak binatang. Pasalnya, di Oxford sedang dibangun laboratorium baru untuk ujicoba menggunakan binatang.

Kampanye Melalui Intimidasi

Kerusuhan ini memicu debat di kalangan universitas dan publik, menyangkut etika dan efisiensi pemanfaatan binatang dalam penelitian. John Curtin salah seorang pemrotes, menegaskan betapa efektivnya kampanye dengan cara intimidasi seperti itu.

Curtin: Jika berhadapan dengan gerakan pelindung binatang, bisnis anda jadi serba salah. Kami adalah mimpi buruk yang mengganggu. Sekali saja kami memutuskan memerangi sesuatu, kami tidak akan berhenti. Perusahaan Vivisector tahu persis mengenai hal ini, dan kontraktor baru juga harus belajar dari apa yang terjadi dengan kontraktor sebelumnya.“

Hak Binatang dan Kepentingan Manusia

Akan tetapi, ada yang dilupakan oleh para pembela hak binatang. Sebab aksi mereka mengganggu dan melecehkan umat manusia, menjadi tidak konsisten dengan aksinya untuk membela hak binatang. Namun Curtin tidak melihat adanya kontradiksi. Sebagai pembela binatang yang tergolong radikal, ia balik menuduh banyak yang tidak mengerti para aktivis seperti dirinya. Mereka memandang dirinya sebagai saudara dari binatang percobaan dan melakukan segala cara, untuk melindungi binatang tersebut.

Aksi Semakin Brutal

Aksi para pembela hak binatang, dalam beberapa tahun belakangan ini semakin radikal. Aksi di Universitas Oxford adalah bagian dari trend tersebut. Mereka tidak hanya mengancam dan mengintimidasi para pekerja bangunan yang sedang membangun laboratorium atau para ilmuwan peneliti, tapi juga para pemasok peralatan ujicobanya. Beberapa kelompok pembela hak binatang, selain menggunakan ancaman fisik, juga menggunakan cara teror untuk mengintimidasi para pengusaha.

Kontradiksi

Kini polisi terpaksa turun tangan untuk melindungi para kontraktor, ilmuwan maupun pemasok peralatan laboratorium. Aktivis pembela hak binatang menyerang mereka yang dituduh menyiksa binatang sebagai penjahat. Tapi dalam aksinya, kelompok ini juga melakukan cara-cara kriminal. Seorang pemasok peralatan laboratorium mengungkapkan:

Yang paling membuat stress, adalah ketika satu hari, ketika saya sedang duduk di kebun, cabang perusahaan menelpon saya dan mengatakan, kami baru sekarang mengetahui, bahwa ada surat kaleng yang dikirimkan ke tetangga saya dalam radius setengah mil dari rumah, yang mengatakan bahwa saya seorang paedophil, dan meminta agar tetangga menjauh dari rumah saya.“

Intimidasi terhadap Peneliti

Kampanye kotor semacam itu, kini semakin sering dilancarkan oleh para aktivis pembela hak binatang yang radikal. Padahal, harus disadari, para ilmuwan dan peneliti bukanlah pahlawan maupun penjahat. Mereka bekerja berdasarkan tuntutan profesinya. Para peneliti yang juga mengalami sendiri kampanye kotor dan intimidasi semacam itu, menilai taktik para aktivis itu sebagai mengerikan. Seperti yang diungkapkan Paul Bolam, salah seorang ilmuwan yang memanfaatkan binatang percobaan, dalam penelitiannya untuk melacak penyebab penyakit Parkinson.

Saya pikir, intimidasi paling hebat yang saya rasakan, adalah ketika sahabat saya sejak 20 tahun terakhir di desa tempat saya tinggal, yang memiliki perusahaan konstruksi bangunan, menerima surat dari front pembela hak binatang, yang mengancam jika perusahaan menerima order dari universitas, perusahaannya akan dihancurkan seperti juga perusahaan lain sebelumnya.“

Protes dari Dalam

Memang jumlah aksi protes kelompok pembela hak binatang terhadap Universitas Oxford, belakangan ini agak surut. Pasalnya pihak universitas mengadukan aksi teror itu ke pihak kepolisian. Akan tetapi, dari pihak universitas sendiri kini juga muncul kecaman menyangkut ujicoba menggunakan binatang. Sekitar 20 staff universitas bergabung melakukan aksi protes.

Pemanfaatan Binatang Percobaan Harus Dihapuskan

Untuk memecahkan kontroversi, juga digelar diskusi diantara para pemrotes, para peneliti serta para pasien, yang dipancarluaskan oleh televisi Oxford. Seorang aktivis pembela hak binatang, Mel Broughton, mengatakan, penderitaan binatang percobaan sebetulnya tidak perlu. Karena ujicoba dengan binatang tidak memberikan kesimpulan yang benar, bagaimana mekanisme sebenarnya pada manusia. Broughton dengan ngotot meneyebutkan, di zaman modern semua ujicoba bisa dilakukan dengan kultur jaringan atau simulasi komputer.

Penelitian Tak Akan Berjalan Tanpa Binatang Percobaan

Akan tetapi, profesor Tipu Aziz, pakar ilmu saraf di Universitas Oxford membantah argumentasi tersebut.

Tipu Aziz: Jika proyek penelitian dapat dilakukan menggunakan model komputer atau kultur jaringan, maka komite etika di universitas pasti akan melarang kami melakukan ujicoba pada binatang.“

Profesor Aziz juga menegasakan banyak keuntungan dapat dipetik dari ujicoba pada binatang. Terobosan di bidang kedokteran tidak mungkin dapat dilakukan tanpa ujicoba pada binatang di laboratorium. Untuk memberikan buktinya, ia membawa seorang pasien penderita penyakit Parkinson bernama Mike Robinson pada diskusi tersebut. Robinson terkena penyakit Parkinson 10 tahun lalu dan sekarang merasa lebih sehat dan lebih bahagia.

Uji Coba dengan Binatang

Hal itu terjadi sebagai hasil dari pengobatan dengan cara stimulasi pada otaknya, yang dikembangkan Prof. Aziz. Di otak Robinson ditanam dua elektroda kecil, yang secara kontinyu mengirimkan impuls listrik, dan mampu menekan sepenuhnya gejala gemetar yang diidapnya. Untuk mendemonstrasikan dampaknya, ia mematikan sejenak impuls listrik tersebut. Badannya langsung gemetar tidak terkendali. Prof. Aziz mengatakan, pengobatan yang dilakukan terhadap pasien Parkinson seperti Robinson, dikembangkannya melalui ujicoba pada monyet percobaan.

Prof. Aziz lebih jauh mengatakan, puluhan ribu orang kini dapat memetik manfaat dari penelitian pada binatang. Jumlah binatang yang menderita dalam proses penelitian, jauh lebih kecil dari jumlah orang yang dapat memetik manfaatnya. Disebutkan, dalam penelitian di laboratorium, sekitar 150 ekor monyet percobaan harus menderita. Tapi dalam praktek pengobatan di seluruh dunia, dalam beberapa tahun terakhir ini sekitar 50.000 pasien dapat memetik keuntungan dari penelitian tersebut.