Konsep untuk Menghadapi TBC | Fokus | DW | 23.03.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Konsep untuk Menghadapi TBC

"TBC di suatu tempat berarti TBC di mana-mana" - Inilah moto hari Tuberkulose internasional. WHO menyatakan dalam laporan terakhirnya, penyebaran TBC berhasil ditekan. Apakah TBC berhasil dikalahkan?

125 tahun setelah ditemukannya penyebab penyakit Tuberkulose oleh dokter dan pemenang hadiah Nobel asal Jerman, Robert Koch, 1,6 juta orang tertular penyakit tersebut setiap tahunnya. Demikian perkiraan Organisasi Kesehatan Dunia – WHO. Dalam laporan terakhir yang diterbitkan organisasi itu dalam rangka hari TBC internasional dikatakan, strategi pemberantasannya mencapai keberhasilan pertama. Tetapi sesungguhnya, penyakit hanya menyebar lebih lamban dari pertumbuhan penduduk. Bagi Jürgen Hammelehle, pemimpin organisasi Bantuan Lepra dan TBC Jerman – DAHW, hasil penelitian baru tidak menyebabkan optimisme. Tiap harinya tetap saja sekitar 5.000 orang meninggal akibat TBC, dan jutaan lainnya tertular.

Seperti wabah lainnya, TBC terutama penyakit orang miskin. Tempat tinggal yang sempit dan berkondisi buruk, tidak adanya sistem kesehatan serta kurangnya penyuluhan membantu penyebaran TBC. Dulu di Eropa setiap tujuh kematian disebabkan penyakit ini. Sekarang Tuberkulose terutama merajalela di Afrika dan Asia. Dan jumlah yang tertular di wilayah bekas Eropa Timur, kian meningkat.

Upaya Penyembuhan

Padahal TBC mudah disembuhkan. Sejak 1946 antibiotika berfungsi baik sebagai obat TBC. Tetapi bakteri TBC yang resisten semakin berkembang di banyak negara. Penyebabnya adalah, pengobatan sering terhenti, antara lain karena pos kesehatan yang lokasinya terlalu jauh. Jürgen Hammelehle dari DAHW mengatakan, oleh sebab itu terapi kerap dihentikan. Jika terapi kemudian dimulai lagi, antibiotika sudah tidak berfungsi.

Kuman TBC yang resisten fatal bagi upaya pemberantasannya. Karena tiap pasien menularkan kuman kepada 10 sampai 15 orang tiap tahunnya. Kuman yang resisten, yang terutama berjangkit di Afrika Selatan dan Eropa Timur, tidak dapat dilawan dengan antibiotika. Obatnya belum ditemukan. Alternatif lain adalah kemoterapi, yang bagi pasien kerap terlalu mahal. Obat penangkal TBC hingga kini belum ada, dan perusahaan farmasi kurang berminat meneliti, karena biayanya mahal dan pasien terlalu miskin.

Program WHO

Yang sekarang disarankan WHO adalah program DOTSnya, yang manjur dalam menghadapi wabah itu. DOTS mencakup 5 poin. Yang pertama, keinginan secara politis negara yang menghadapi masalah dan kesediaan negara donor untuk membiayai program dalam jangka panjang. Kedua, penawaran tes kesehatan dalam jumlah besar bagi penduduk, serta pendirian lebih banyak laboratorium untuk meneliti hasil tes. Yang ketiga, tawaran pengobatan, di mana pasien juga dibimbing. Poin keempat adalah pemberian obat yang efektif. Dan yang terakhir, hasil penelitian harus dibuat transparan.

Jürgen Hammelehle dari DAHW mengatakan, paling optimal jika pasien dibimbing perawat kesehatan, yang benar-benar memperhatikan, apakah pasien minum obat secara teratur. Jika saya boleh berharap, saya ingin agar pasien mengikuti pengobatan sepenuhnya hingga sembuh. Menurut perkiraan WHO dan partner-partnernya, dana yang diperlukan untuk pemberantasan TBC mencapai 56 milyar Dolar. Demikian Walaupun ada sumbangan berjumlah besar, seperti dari Yayasan Bill Gates dan dari berbagai negara, lebih dari separuh dana masih belum terkumpul. (ml)

  • Tanggal 23.03.2007
  • Penulis Helle Jeppesen
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CItu
  • Tanggal 23.03.2007
  • Penulis Helle Jeppesen
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CItu