Kongres Teknik Pertanian Internasional | Sosial | DW | 06.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kongres Teknik Pertanian Internasional

Hingga kapanpun, manusia di dunia ini akan tetap memerlukan pangan sebagai kebutuhan pokok untuk hidup. Hal ini bahkan menjadi perhatian Perserikatan Bangsa-Bangsa dengan mencanangkan Tujuan Millenium 2015 yang salah satunya adalah pemberantasan kelaparan di seluruh dunia.

default

Target ini bisa dipenuhi bila penelitian, ilmu pengetahuan dan indsutri pada bidang teknologi pertanian di seluruh dunia bisa bekerja sama secara simultan. Dari tanggal 3 hingga 7 September, 800 pakar pertanian dan pangan dari 55 negara bertemu pada kongres internasional di Universitas Bonn, Jerman, dan mendiskusikan perspektif mengenai teknik agrikultur.

Teknik agrikultur untuk dunia yang lebih baik“ menjadi tema yang diangkat dalam kongres ini. Tantangan utama dalam bidang teknologi pertanian adalah pertanian berkelanjutan untuk masa datang. Berbagai sesi diskusi dari penggunaan teknologi tepat guna hingga teknologi robot untuk pertanian digelar pada pertemuan lima hari tersebut.

Para pakar menyadari, biaya tinggi, perbedaan infrastruktur, latar belakang budaya, perbedaan iklim dan kondisi geografis membuat alat alat pertanian berteknologi tinggi tidak selalu dapat diaplikasikan pada negara lain.

Padahal, teknologi agrikultur sangat dibutuhkan untuk meningkatakan hasil pertanian. Prof Axel Munack, mantan ketua Komisi Teknik Agrikultur Internasional, mengemukakan pendapatnya untuk mengatasi perbedaan infrastruktur pertanian:

Hal ini dapat diatasi dengan teknik yang dicocokkan dengan situasi negara-negara tersebut. Teknik ini tentu saja harus lebih sederhana karena kemungkinan di negara-negara berkembang tingkat pendidikannya juga lebih rendah. Hal ini juga merupakan suatu masalah di bidang pendidikan.“

Meningkatnya penggunaan mesin di bidang pertanian bertujuan meningkatkan mutu dan efektifitas. Namun dampaknya, tenaga kerja yang diserap oleh bidang pertanian akan menyusut dan hal ini tak terelakkan.

Munack: "Tentu saja selalu seperti itu, di bidang apapun. Bila mesin digunakan, manusia akan digantikan dengan mesin mesin tersebut. Sebuah mesin mampu melakukan pekerjaan yang biasanya dikerjakan manusia dengan tangan. Saya pikir, di negara negara berkembang akan lebih sedikit orang yang bekerja di bidang pertanian namun sebagai gantinya akan ada peningkatan jumlah orang yang bekerja di bidang industri, layaknya di negara maju.“

Namun, berkurangnya tenaga kerja pada bidang pertanian, bukan berarti mengurangi minat generasi muda untuk mempelajari teknologi pangan. Dewasa ini pertanian tak selalu berhubungan dengan sawah dan lumpur, seperti yang dituturkan Profesor Fedro Zanueta dari Universitas Florida Amerika.

"Untuk pergi ke Mars, orang tak bisa membawa bekal makanan biasa. Apalagi untuk perjalanan sebulan, bahkan lebih. Jadi, untuk perjalanan ke Mars, orang harus mampu menciptakan makanan yang akan dikosnumsi selama perjalanan. Hal ini memerlukan sebuah sebuah sistem siklus buatan dan segalanya harus didaur ulang. Kita membawa energi ke dalam sistem, namun bukan dalam bentuk materi atau massa. Menumbuhkan tanaman di ruang angkasa telah menjadi tantangan masa kini.“

  • Tanggal 06.09.2006
  • Penulis Miranti Hirschmann dan Anggatira Rinaldi
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPWV
  • Tanggal 06.09.2006
  • Penulis Miranti Hirschmann dan Anggatira Rinaldi
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CPWV