Kongres Rakyat COPE Afrika Selatan Dibentuk | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 16.12.2008
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages
Iklan

Dunia

Kongres Rakyat COPE Afrika Selatan Dibentuk

COPE dilihat sebagai alternatif bagi partai pemerintah ANC. Dibawah kepemimpinan Jacob Zuma, kebijakan ANC dinilai merugikan Afrika Selatan karena melanggar prinsip-prinsip dasar konstitusi.

Mosiuoa Lekota ketika diangkat sebagai ketia partai baru COPE

Mosiuoa Lekota ketika diangkat sebagai ketia partai baru COPE

Afrika Selatan harus kembali seperti dulu saat berjuang melawan apartheid dan berhasil mengalahkannya. Inilah slogan partai baru di Afrika Selatan yang disampaikan ketuanya, Mosiuoa Lekota.

Kongres Rakyat, COPE, didirikan Selasa kemarin (16/12) di Bloemfontein setelah melewati kongres tiga hari. Prinsip dasarnya adalah penghormatan pada konstitusi, demokrasi dari bawah dan kerjasama semua bangsa demi kesejahteraan semua negeri di dunia.

"Kita menginginkan partai yang betul-betul tidak berbasis rasial, rumah dan suara bagi semua rakyat Afrika Selatan, tanpa memperhitungkan ras, kelas atau jenis kelamin." Demikian dinyatakan Mosiuoa Lekota.

Bukanya tanpa alasan partai baru ini dinamakan COPE, singkatan dari Congress of the People, Kongres Rakyat. Secara sadar nama ini merujuk pada kongres rakyat tahun 1955 dimana para penentang apartheid dari semua ras dan arah politik mensahkan piagam kebebasan. Dan persis itulah yang ingin dihidupkan kembali oleh partai baru yang mayoritas pendirinya adalah anggota partai pemerintah ANC yang tidak puas. Mereka menilai, terutama sejak dipimpin Jacob Zuma tahun lalu, ANC menjadi tidak toleran, pongah dan tidak demokratis.

Mosiuoa Lekota, yang sampai tahun lalu mengetuai ANC dan kini memimpin partai baru COPE, menerangkan: "Praktek demokrasi dilepaskan oleh para pemeimpin negeri ini dengan kecepatan yang mengkuatirkan. Prinsip-prinsip dasar demokrasi dari Nelson Mandela sudah dilupakan."

Namun harus dikatakan, bahwa sejak masa kepresidenan Thabo Mbeki, ANC sudah meninggalkan arah politik Nelson Mandela. Pemimpin terpisah dari rakyat, pemusatan kekuasaan semakin mencolok, loyalitas lebih dihargai daripada kompetensi, sensitif terhadap kritik dan cepat curiga adalah isyarat peringatan. Bangsa pelangi dengan beragam warna kulit juga tidak dibicarakan lagi. Warga kulit putih semakin ditekan. Sementara warga berdarah campuran selalu dituduh, dulu tidak cukup putih, sekarang tidak cukup hitam. Pos-pos penting dalam pemerintahan diperdagangkan yang kerap disalahgunakan demi kepentingan pribadi. Semua ini menjurus pada persaingan dan perebutan kekuasaan di dalam tubuh partai Kongres nasional ANC, terutama antara kubu Jacob zuma dan Thabo Mbeki.

COPE tidak berbeda banyak dengan ANC di segi program, melainkan dari langgam politik dan atmosfirnya. Siapapun warga Afrika Selatan, apapun warna kulitnya bisa menajdi anggota. Cope mengkalim, dalam kurun 6 pekan terakhir, mereka menerima lebih dari 400 ribu anggota. Diantaranya bukan hanya mereka yang sampai kini masih terdaftar sebagai fungsionaris partai ANC, tapi juga banyak warga kulit putih dan golongan kelas menengah. Pada pemilu awal tahun 2009, COPE bisa membujuk banyak pemilih untuk tidak memilih ANC.

Menanggapi diluncurkannya partai politik baru di Afrika Selatan itu, Zwelinzima Vavi, Sekjen organisasi payung serikat buruh Cosatu yang juga salah satu akwan terdekat pemimpin ANC jacob Zuma mengatakan: "Kita akan menghapus mereka dari muka bumi.“ (rp)