Kongres Internasional PEN di Berlin | Sosial | DW | 30.05.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kongres Internasional PEN di Berlin

Sekitar 450 penulis dari 80 negara datang ke Berlin menghadiri kongres PEN ke-72.

Günter Grass mengecam keras politik perang Amerika Serikat

Günter Grass mengecam keras politik perang Amerika Serikat

Setiap tahun, organisasi pengarang PEN menggelar konggres internasional setiap tahunnya. PEN, singkatan dari poets, essayists, novelis. Kali ini Jerman menjadi tuan rumah, yang pertama sejak 2 dekade. Selama 6 hari, darui 23 sampai 28 mei lalu, para penulis puisi, esai dan novel dari berbagai negara berkumpul di Berlin. PEN memperjuangkan kebebasan dalam berkarya dan menentang setiap bentuk kebencian antarras, antarkelas, dan antarbangsa. Pertemuan tahun ini mengusung tema “menulis dalam dunia yang tak tenang“.

Konggres internasional PEN jarang mendapat sambutan besar, seperti yang sekarang. Bahwa pembukaan dilakukan oleh seorang kepala negara, seperti kali ini oleh Presiden jerman Horst Köhler, adalah hal luar biasa. Kanselir Angela Merkel, yang selama ini tak menunjukkan kontribusi sedikitpun pada bidang kultur, bersedia menerima para pengarang di kantornya. Tentu dibaliknya ada pertanyaan tentang siapa yang memanfaatkan panggung politik itu.

Pada pembukaan kongres, para anggota PEN menguraikan panorama perang yang besar dan bersejarah. Pengarang, tidak selalu memainkan peran mendamaikan. Mulai dari jaman Yunani-Romawi, perang dunia hingga konflik-konflik saat ini, ode bagi para pahlawan bersanding dengan kecaman tentang kehancuran dan kematian. Muse, 9 dewi yang mengurus ilmu pengetahuan dan kesenian dalam mitologi Yunani, tidak bungkam di masa perang, dan karya sastra bermunculan di seluruh dunia. Karena kisah-kisah di masa perang lebih beragam daripada di masa damai.

Dan sekarang? Sudah lama terbukti, harapan bahwa perdamaian akan menguasai dunia setelah perang dingin berakhir, hanyalah ilusi. Johano Strasser, Ketua Dewan PEN Jerman menguraikan skenario pembunuhan yang terbentang dari Balkan sampai Afganistan, dari Kongo hingga Kaukasus.

Johano Strasser: "Dengan rasa takjub dan kecemasan yang terus membesar, kita menyadari saat ini, bahwa perang agama, seperti yang kita alami di abad 16 dan 17, bukan hanya terjadi di masa lalu, seperti yang selama ini kita percayai dengan buru-buru. Bukan hanya kelompok fanatik dalam Islam, tapi juga Kristen, Yahudi dan Hindu yang dewasa ini mengumandangkan perang suci dengan api dan pedang, untuk membersihkan dunia dari orang-orang tak beriman."

Daerah operasi yang luas juga bagi PEN. Tetapi apakah perdamaian bisa diwujudkan semata dengan menuliskannya? Tak seorangpun peserta konggres di Berlin punya bayangan se-naif itu. Jiri Grusa, Ketua PEN Internasional mengatakan:

Jiri Grusa: "Bisakah orang menyatakan bahwa menulis adalah urusan yang penuh kedamaian? Ruang menulis seorang pengarang adalah medan pertempuran makna. Disini tak seorangpun menyumbangkan kedamaian dan menuntut interpretasi, karena menjaga agar ruang semantik tetap terbuka bukanlah sebuah tantangan melainkan makna dari pekerjaan kita."

Mencegah perang. Sepanjang sejarah sastra, belum ada satupun pengarang yang mampu melakukannya. Walau demikian, konggres internasional PEN memberikan isyarat penting. Pada acara pembukaan peraih penghargaan Nobel Sastra Günter Grass tidak menyampaikan kalimat-kalimat damai, melainkan analisa konflik yang meruncing untuk perkembangan politik setelah berakhirnya perang dingin.

Dari tepuk tangan yang membahana, penulis kondang Jerman Günter Grass menghakimi politik perang Amerika.

Günter Grass : "Saat ini kita hanya tidak berdaya menghadapi kekuatan adidaya, yang dalam pencarian untuk menemukan musuh baru. Untuk dipersalahkan, karena –tengok saja bin Laden- terorisme yang berkembang ingin ditaklukkandengan senjata. Namun perang yang diinginkan kekuatan itu dan yang mengabaikan hukum dunia yang beradab malah mendorong timbulnya teror dan tidak bisa mengakhirinya."

Dengan satu pukulan keras, Grass mempertegas alasan untuk apa PEN berdiri. Secara moral untuk campur tangan, berpihak pada mereka yang tak berdaya, hingga korban perang yang Cuma dikenal sebagai angka dan statistik, dan baru mendapat wujud dan nama lewat karya seorang pengarang. Secara politis, PEN berdiri di pihak yang pada kenyataannya tak punya tenaga untuk melawan.

Dalam situasi seperti ini para pengarang dapat berkontribusi untuk membangun komunikasi. Tetapi, Grass juga tak mau membiarkan dirinya kecanduan harapan yang penuh ilusi itu. Jadi, apa yang tersisa?

Günter Grass: "Kita para pengarang adalah perampok mayat, kita hidup dari barang-barang yang hilang, juga dari sisa-sisa peninggalan perang yang sudah berkarat. Di sepanjang medan pembantaian dan timbunan puing-puing kita mencari rumah, dan menemukan kancing seragam yang tercecer, boneka dari seluloid yang ajaiab sekali utuh tanpa cacat. Sisa-sisa seperti itu menceritakan pada kita tentang tentara yang tercabik-cabik dan anak kecil yang dikuburkan."

20 tahun lalu, Grass juga membuka konggres internasional PEN di Jerman. Ketika itu gerakan perdamaian belum diejek sebagai model yang ketinggalan Jaman. Dewasa ini, yang berpegang pada nilai-nilai ideal seperti itu adalah peninggalan dari masa generasi tahun 68-an, saat mahasiswa Jerman masih kiri dan secara politis menentang warisan dari generasi orangtua mereka.

Masa itu sudah lama berlalu. Dan persis disitulah hal yang menyedihkan dari konggres PEN ini. Karena yang memberikan tekanan hampir semuanya lelaki tua yang berapi-api. Lalu dimanakah anak mudanya?

Paling tidak, PEN Jerman kekurangan anggota dari generasi yang lebih muda. Mengingat para pengarang dari generasi ini lebih meladeni selera pasar dan menyibukkan diri untuk membuat produk-produk bestseller. Bukannya mau menentang para pengarang yang bukunya laku keras di pasaran, tetapi tidak adanya tenaga muda juga tampak pada layanan terbesar PEN, yaitu kontribusi bagi pengarang yang mendekam di penjara, Writers in Prison, dan yang terpaksa hidup sebagai eksil, Writers in Exile.

Patut disyukuri, bahwa dalam jaman serba hemat seperti ini, pemerintah Jerman memutuskan terus mendukung program Writers in Exile. Yaitu dengan memberikan bea siswa bagi 6 pengarang yang dikejar-kejar oleh pemerintah di negaranya masing-masing dan lari ke Jerman. Dukungan itu ibarat setetes air di atas tungku panas, tetapi paling tidak, dari segi jumlah tidak berkurang.

Di tingkat internasional, organisasi pengarang PEN memperluas jaringannya. Baru-baru ini didirikan dewan baru PEN di Pretoria, Afrika Selatan. Jaringan di kawasan Amerika Latin dan Asia juga akan diperkuat.