1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
Pantai Patong di Phuket, Thailand
Pantai Patong di Phuket, ThailandFoto: Salinee Prab/AP Photo/picture alliance
EkonomiAsia

Konflik Ukraina Redam Optimisme Turisme Vietnam dan Thailand

David Hutt
23 Maret 2022

Kedua negara adalah tujuan favorit para turis Rusia di Asia Tenggara. Setelah invasi Rusia ke Ukraina, Vietnam dan Thailand harus mencari kiat baru untuk pulihkan pariwisata.

https://www.dw.com/id/konflik-ukraina-redam-optimisme-turisme-vietnam-dan-thailand/a-61228066

Pada masa pra-pandemi, sebagian besar pengunjung asing ke Phan Thiet, sebuah kota di Vietnam selatan yang dikenal sebagai "Little Moscow ", adalah turis dari Rusia. Karena itu, menu restoran di sana juga mencantumkan dalam bahasa Rusia. Di resor tepi pantai, makanan Rusia mendominasi penawaran menu. Banyak agen perjalanan secara khusus hanya melayani wisatawan dari Rusia.

Perkembangan itu sebagian terkait dengan sejarah negara itu. Uni Soviet adalah satu-satunya mitra komunis Vietnam pada 1980-an. Uni Soviet ketika itu punya pangkalan angkatan laut di Teluk Cam Ranh, salah satu pangkalan terpenting mereka di wilayah itu.

Bulan ini Vietnam bersiap membuka kembali sektor pariwisatanya setelah ditutup selama dua tahun karena pandemi Covid-19. Otoritas pariwisata sebenarnya berharap akan kedatangan jauh lebih banyak turis dari Rusia daripada di masa normal. Pada 26 Desember lalu, provinsi Khanh Hoa menyambut kedatangan rombongan turis Rusia pertama sejak Maret 2020.

Suvenir untuk turis di Vietnam
Suvenir untuk turis di VietnamFoto: dpa

Pukulan berat bagi kawasan tujuan favorit turis Rusia

Namun invasi Rusia ke Ukraina membuyarkan harapan besar Vietnam. Ini adalah "pukulan telak" bagi tempat-tempat seperti provinsi Khanh Hoa dan Phu Quoc, "yang merupakan tujuan favorit pengunjung Rusia," kata Nguyen Khac Giang, analis di Victoria University of Wellington. Hal itu akan berdampak pada industri pariwisata nasional Vietnam, tambahnya.

Apalagi pengunjung Rusia dikenal cukup boros ketika berlibur. Mereka rata-rata menghabiskan 1600 dolar AS per masa inap. Sedangkan pengunjung asing lain hanya rata-rata menghabiskan sekitar 900 dolar, menurut survei Administrasi Pariwisata Nasional Vietnam pada 2019.

Situasi di Thailand juga serupa. Pada 2019, turis Rusia memang hanya 4% dari semua pengunjung ke negara itu. Tetapi mereka adalah kelompok turis yang cukup besar di kawasan wisata Phuket, dan pemerintah Thailand sebenarnya mengharapkan lebih banyak pelancong Rusia akan datangt tahun 2022.

Setelah Thailand meluncurkan skema "Sandbox " pada bulan Juli, di mana wisatawan asing yang divaksinasi tidak perlu menjalani karantina lagi, turis asing yang datang paling banyak adalah dari Rusia, harian South China Morning Post baru-baru ini melaporkan.

Kedatangan wisatawan mancanegara di Vietnam sampai 2018
Kedatangan wisatawan mancanegara di Vietnam sampai 2018

Dampak pada 'semua maskapai, pasar, dan wilayah'

Vietnam dan Thailand dilaporkan mengharapkan bisa menyambut sekitar 1,8 juta turis dari Rusia tahun ini, tapi target itu sekarang tidak mungkin tercapai. Padahal sektor pariwisata diharapkan bisa menjadi pendorong utama dalam upaya pemulihan sektor ekonomi yang hancur karena pandemi Covid-19. Pra-pandemi, pariwisata di Thailand menyumbang sekitar 12% dari Produk Domestik Bruto (PDB), dan seperlima tenaga kerja Thailand dipekerjakan di industri ini.

Selain kehilangan pengunjung dari Rusia, perang di Ukraina diperkirakan memiliki implikasi yang lebih luas di Asia Tenggara. "Konflik Ukraina berdampak pada semua maskapai penerbangan, semua pasar dan semua wilayah," kata Brendan Sobie, analis independen dan pendiri perusahaan Sobie Aviation yang berbasis di Singapura.

Akibatnya, maskapai penerbangan harus menaikkan tarif mereka. AirAsia Malaysia telah mengatakan akan memberlakukan kembali biaya tambahan bahan bakar, biaya yang dihapuskan sejak 2015. Beberapa hari kemudian, Malaysia Airlines mengatakan akan melakukan hal yang sama mulai 23 Maret di rute tertentu. Tetapi penerbangan yang lebih mahal juga akan mengurangi jumlah pelancong internasional ke Asia Tenggara, kata para analis. Apalagi, perang di Ukraina mengakibatkan kemerosotan ekonomi dan inflasi di banyak kawasan dunia.

Seberapa besar dampak semua ini terhadap upaya Asia Tenggara membangkitkan lagi sektor pariwisatanya masih harus ditunggu. Namun yang jelas terlihat, optimisme di pihak otoritas pariwisata di kawasan itu mulai kembali meredup.

(hp/as)