1. Buka konten
  2. Buka menu utama
  3. Buka situs DW lainnya
KonflikTaiwan

Militer Cina Simulasikan Blokade Laut terhadap Taiwan

Richard Connor | Zac Crellin Reuters, AFP, AP
29 Desember 2025

Cina umumkan latihan tembak di perairan Taiwan untuk "mencegah intervensi asing," menyusul kisruh diplomatik soal pernyataan PM Jepang Sanae Takaichi. Dia mengatakan kemungkinan akan campur tangan demi membela Taiwan.

https://p.dw.com/p/5649h
Cina 2025 | Kapal Perang Menembakkan Meriam saat Latihan Militer Tentara Pembebasan Rakyat di Dekat Taiwan
Cina mengatakan latihan tembak nyatanya mensimulasikan blokade terhadap pelabuhan-pelabuhan penting TaiwanFoto: Eastern Theatre Command/Handout via REUTERS

Cina mengumumkan latihan militer “besar” di sekitar Taiwan pada Senin (29/12). Pengumuman ini muncul di tengah meningkatnya ketegangan dengan Jepang soal komitmen Tokyo membela Taipei. Pulau yang cuma berjarak 160km dari daratan Cina itu berstatus merdeka, tapi diklaim Beijing sebagai wilayahnya.

Latihan militer juga dilakukan di tengah kemarahan Cina atas penjualan senjata Amerika Serikat (AS) ke Taiwan. Penjualan itu diumumkan sebagai paket terbesar dalam sejarah kedua negara, dan menggariskan perubahan strategi pertahanan Taipei, yang berpotensi merumitkan medan invasi bagi Beijing. 

Meskipun militer Cina sebelumnya pernah mengadakan latihan tembak nyata dan simulasi blokade pelabuhan di sekitar Taiwan, ini adalah pertama kalinya mereka secara terbuka mengatakan bahwa latihan tersebut bertujuan untuk mencegah intervensi militer dari pihak luar.

Latihan terbaru Cina di sekitar Taiwan

Militer Cina menjelaskan bahwa latihan di lima zona besar sekitar Taiwan akan mencakup:

  • Operasi gabungan angkatan udara, angkatan laut, dan pasukan roket.
  • Wilayah latihan meliputi Selat Taiwan dan empat area di sekitarnya.
  • Patroli kesiapan tempur laut dan udara.
  • Latihan untuk menguasai "superioritas komprehensif" atau dominasi terkoordinasi di seluruh pasukan.
  • Simulasi blokade pelabuhan penting di Taiwan.
  • Pencegahan militer multidimensi di luar rantai Pulau Taiwan.
  • Penggunaan berbagai alat tempur udara, termasuk jet tempur, pembom, drone, dan pasukan roket jarak jauh.
  • Serangan terhadap target bergerak di laut dan udara di Selat Taiwan bagian tengah.
Peta sketsa yang dirilis oleh Komando Teater Timur Tentara Pembebasan Rakyat Tiongkok (PLA) untuk menunjukkan area yang terlibat dalam latihan gabungan yang dilakukan di sekitar Pulau Taiwan
Komando Teater Timur Cina mempublikasikan diagram yang menunjukkan lokasi latihan yang akan dilakukan di sekitar TaiwanFoto: Meng Lijing/Xinhua/picture alliance

Awalnya, militer Cina mengatakan latihan yang dinamai “Just Mission 2025” ini akan dimulai Selasa (30/12) dengan latihan tembak nyata. Namun, pada Senin (29/12) Cina menyatakan sudah melakukan latihan tembak nyata terhadap target maritim di utara dan barat daya Taiwan.

“Ini merupakan peringatan serius bagi pasukan separatis ‘Kemerdekaan Taiwan’ dan pasukan campur tangan eksternal, dan merupakan tindakan yang sah dan perlu untuk menjaga kedaulatan dan kesatuan nasional Cina,” kata Shi Yi, juru bicara Komando Teater Timur Cina.

“Latihan ini fokus pada pelatihan patroli kesiapan tempur maritim dan udara, mendapatkan kontrol terpadu, menutup pelabuhan dan area penting, dan melakukan pencegahan multidimensi,” tambahnya.

Reaksi Taiwan terhadap latihan Cina

Presiden Taiwan, William Lai Ching-te, mendesak Cina “untuk tidak salah menilai situasi dan menjadi pengganggu di kawasan.”

“Menanggapi pengabaian otoritas Cina terhadap norma internasional dan penggunaan intimidasi militer untuk mengancam negara tetangga, Taiwan menyatakan kecaman kerasnya,” kata juru bicara presiden, Karen Kuo, dalam sebuah pernyataan.

Kementerian Pertahanan Taiwan mengatakan pada Senin (29/12) pagi bahwa mereka telah mendeteksi dua pesawat Cina dan 11 kapal Cina beroperasi di sekitar pulau dalam 24 jam terakhir. Kementerian tersebut mengatakan telah membentuk pusat respons cepat dan berjanji untuk “melindungi demokrasi, kebebasan, kedaulatan, dan keselamatan” di pulau itu.

“Sebuah pusat respons telah dibentuk, dan pasukan yang sesuai telah dikerahkan,” kata militer Taiwan, menambahkan bahwa angkatan bersenjatanya “telah melakukan latihan respons cepat.”

Meningkatnya ketegangan antara Cina dan Jepang

Taiwan yang demokratis telah memerintah dirinya sendiri selama beberapa dekade, tetapi Cina menganggapnya sebagai provinsi separatis dan lama telah berjanji akan merebutnya dengan kekuatan jika diperlukan.

Pengumuman latihan militer ini muncul setelah Beijing menyatakan kemarahan atas komentar Perdana Menteri nasionalis baru Jepang, Sanae Takaichi, yang menyarankan bahwa tindakan Cina terhadap Taiwan bisa menjadi “situasi yang mengancam kelangsungan hidup”, sebuah penetapan di bawah hukum Jepang yang membuka pintu bagi intervensi militer.

Ini juga terjadi setelah Amerika Serikat mengumumkan penjualan senjata terbesar sepanjang masa ke Taiwan, dengan paket senilai $11,1 miliar (sekitar Rp185 triliun).

Artikel ini pertama kali diterbitkan dalam bahasa Inggris

Diadaptasi oleh Rahka Susanto

Editor: Rizki Nugraha