Konflik di Thailand Selatan | Sosial | DW | 28.11.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Konflik di Thailand Selatan

Karena alasan keamanan, lebih dari 300 sekolah di propinsi Pattani Thailand Selatan tutup mulai Senin (27/11) kemarin.

Setelah berkali-kali terjadi serangan terhadap guru-guru agama Budha di sekolah-sekolah negeri di wilayah yang mayoritas penduduknya beragama Islam, guru-guru memutuskan untuk tidak mengajar sementara waktu ini. Yang terkena adalah hampir semua sekolah dasar dan sekolah lanjutan di provinsi tersebut. Keamanan para guru tidak lagi bisa dijamin, demikian pernyataan Boonsom Thongsriplai, ketua perhimpunan guru di Pattani. Jumat (24/11) lalu, kepala sekolah di Sai Buri ditembak, sehari sebelumnya seorang guru di Pattani.

Lebih dari 1400 orang tewas dalam dua tahun terakhir akibat serangan bom dan aksi kekerasan lainnya di Thailand Selatan. Tempat yang menjadi sasaran sebagian besar adalah kantor polisi, pos militer dan juga sekolah-sekolah negeri. Sudah sejak lama, para guru berangkat ke tempat bekerja mereka dengan dikawal oleh polisi.

Semenjak kudeta militer terhadap pemerintahan Thaksin, pemerintahan transisi Thailand berusaha untuk mengatasi situasi di Thailand Selatan. Namun, serangan disana tidak berhenti hingga sekarang. Sunai Pasuk dari organisasi kemanusiaan Human Rights Watch untuk Thailand mengatakan, di masa lalu juga banyak kejahatan yang dilakukan pihak militer, yang merusak rasa saling percaya di wilayah tersebut.

Di berbagai provinsi di Thailand Selatan dulunya adalah bagian Kerajaan Malaysia dan direbut tahun 1902 oleh Siam. Penduduk wilayah tersebut mayoritas beragama Islam dan merasa lebih dekat dengan Malaysia daripada Thailand yang mayoritas penduduknya beragama Budha.

Namun perbedaan agama dan budaya bukanlah satu-satunya alasan terjadinya kekerasan di sana. Menurut pihak pemerintah, kelompok kriminalitas juga terlibat. Ada dugaan bahwa gerakan pemberontakan regional dipengaruhi oleh kelompok Jemaah Islamiyah. Peneliti masalah terorisme Virgine Andre dari Universitas Monash di Australia tidak menutup kemungkinan bahwa kelompok tersebut memanfaatkan situasi di Thailand Selatan bagi kepentingan mereka sendiri.

Banyak pengusaha beragama Budha di Thailand Selatan yang telah menyerah akan tekanan kelompok Muslim dan menutup perusahaan mereka setiap hari Jumat dan Minggu. Bahkan menurut berita harian Thailand 'The Nation’, semakin banyak umat Budha yang memilih untuk meninggalkan wilayah tersebut karena takut akan serangan selanjutnya.