Konferensi Ulama Sunni dan Syiah Digelar Selasa ini | DUNIA: Informasi terkini dari berbagai penjuru dunia | DW | 02.04.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Konferensi Ulama Sunni dan Syiah Digelar Selasa ini

Indonesia menggelar Konferensi Internasional Ulama-Ulama Syiah dan Sunni di Istana Bogor, yang akan berlangsung selama dua hari.

Konferensi yang akan dihadiri berbagai ulama dari mancanegara ini akan membahas upaya perdamaian di negara-negara Timur Tengah, seperti misalnya Irak, yang sedang dilanda konflik.

Lebih 60 persen dari sekitar 20-an ulama berpengaruh dari berbagai negara telah menyatakan kesiapannya menghadiri Konferensi Internasional Ulama-Ulama Syiah dan Sunni di Bogor, Selasa ini. Utusan Khusus Pemerintah untuk negara-negara di Timur Tengah , Alwi Shihab menjelaskan pertemuan ini diharapkan akan dapat membawa perdamaian di negara-negara Timur Tengah, yang kini tengah dilanda konflik.

„Kita harapkan bahwa pertemuan ini dapat diteruskan bagi mereka yang bertikai. Karena kita tahu konflik Mashab atau aliran terbawa-bawa meski kita sadari pada dasarnya konflik ini tidak didasari konflik aliran, tetapi politik. Kita harap para ulama dapat mengeluarkan rekomendasi atau pernyataan bersama agar mereka yang konflik dapat menahan diri. Dan kembali sadar bahwa antara Sunni dan Syiah sebenarnya tidak ada yang patut diperselisihkan, karena mereka sebenarnya dapat hidup berdampingan, hanya saja keadaan yang membawa mereka pada dua kubu yang saling konflik, ini kita sayangkan. Kita harap para ulama dapat mengeluarkan anjuran dan didengar oleh mereka yang terbawa-bawa oleh konflik.“

Pengamat masalah Timur Tengah, Smith Al Hadar mengatakan konferensi ini mungkin memiliki peran penting untuk penyelesaian konflik antara Sunni dan Syiah, yang semakin memburuk akhir-akhir ini. Namun meski secara umum dapat menyumbang perbaikan dalam menyelesaikan sengketa antar aliran di tatanan global, bukan berarti konflik di Irak dapat segera terselesaikan.

„Jadi bila tujuannya mendamaikan kelompok konflik di Irak, saya kira salah. Di Irak masalah politik sebenarnya yang terjadi antara dua kelompok ini. Sejak sebelum dan zaman Saddam Husein, Sunni yang meskipun minoritas, mendominasi pemerintahan. Setelah invasi Amerika Serikat di Irak. Kemudian pembentukan pemerintahan baru, maka kaum Sunni tersingkirkan. Mereka berontak untuk minta peran lebih besar. Mereka tidak setuju dengan konsep federalisme dalam undang-undang Irak sekarang ini yang akan merugikan mereka. Nantinya Irak akan dibagi menjadi tiga negara bagian. Kurdi di utara, dengan minyak melimpah, Sunni di tengah yang tidak punya sumber alam sama sekali, dan Syiah di selatan yang banyak sumber daya alam. Kalau ini diterapkan maka Sunni akan tersingkirkan. Kemarahan Sunni terhadap Kurdi dan Syiah yang dianggap berkolaborasi dengan Amerika Serikat membentuk pemerintahan baru. Bila konflik ini kemudian menyeret agama sebenarnya persoalan kedua. Tapi akar permasalah sebenarnya adalah politik dan ekonomi.“

Indonesia dinilai merupakan fasilitator yang tepat untuk menghelat konferensi ini, mengingat posisinya yang relatif netral, karena tidak memiliki sengketa dengan negara-negara di Timur Tengah. Para ulama yang hadir dalam pertemuan ini diantaranya berasal dari Arab Saudi, Libanon, Jordania, Mesir, Irak, Suriah, Malaysia, Pakistan dan lain-lain.

  • Tanggal 02.04.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP7c
  • Tanggal 02.04.2007
  • Penulis Ayu Purwaningsih
  • Cetak Cetak halaman ini
  • Permalink https://p.dw.com/p/CP7c
Iklan