Konferensi Pers Terakhir Annan | Fokus | DW | 21.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Konferensi Pers Terakhir Annan

Sepuluh tahun sudah Kofi Annan menjabat sebagai Sekretaris Jenderal Perserikatan Bangsa-bangsa, PBB. Sepanjang waktu itu ia harus menghadapi segudang krisis internasional.

Kofi Annan

Kofi Annan

Suasana konferensi pers terakhir Kofi Annan berjalan santai. Sekretaris Jenderal Kofi Annan menggunakan podiumnya sekali lagi untuk berupaya mendorong penuntasan krisis Darfur di Sudan. Annan menekankan bahwa lebih banyak orang meninggal dunia setiap harinya dan semakin hari semakin banyak yang mati, jika tidak ada perbaikan dalam pengamanan sesegara mungkin.

Afghanistan, Iran, Irak, Siprus, reformasi di tubuh PBB, dan skandal minyak untuk pangan di Irak, ikut mewarnai sepuluh tahun masa jabatannya menjadi orang nomor satu di PBB. Namun selama itu pula, sejumlah keberhasilan patut dicatat. Diantaranya adalah upaya mencapai Sasaran Pembangunan Milenium, kampanye melawan virus HIV AIDS, di samping penegakan hak-hak asasi manusia.

Bulan-bulan tersulit dilalui Annan, ketika PBB gagal mencegah perang Irak dan soal skandal program minyak Irak untuk pangan. Ketika itu, lebih dari 2000 perusahaan asing saling sikut berebut tender dengan menyogok Saddam Hussein sebesar 1,8 Miliar Dollar AS. Dalam penyelidikan yang digelar oleh komisi independen PBB, Annan disebut-sebut ikut terlibat. Namun Annan menuding sejumlah pihak telah menggunakan skandal tersebut untuk mendiskreditkan organisasi yang dipimpinnya.

Menurut Annan, jika seorang sejahrawan meneliti kasus ini, maka dia akan berkata, 'ya telah terjadi mis-menajemen di tubuh PBB yang melibatkan sejumlah staff di PBB. Tapi skandal ini juga melibatkan 2200 perusahaan yang menyepakati kerja sama bawah tangan dengan Saddam.'

Sekjen PBB dari Ghana tersebut juga menjawab para penkritik paling pedas PBB dengan menekankan, bahwa meski terdapat beberapa kekeliruan, PBB tetap merupakan organisasi yang tidak bisa dipandang dengan sebelah mata.

Para pengkritik harus bertanya pada diri sendiri, jika PBB tidak ada, siapa yang dapat membantu memperbaiki kemiskinan di dunia, siapa yang mengkoordinasikan bantuan tsunami? Siapa yang mengirimkan pasukan untuk melindungi kaum tertindas, bantuan ke Darfur serta daerah krisis lainnya?

Pada tanggal 31 Desember nanti, Annan secara resmi akan meninggalkan panggung PBB. Ia berjanji akan tetap terlibat aktif dalam penegakan hak-hak asasi manusia, pemanasan global dan krisis di Afrika.

Kepada penerusnya, Annan menyampaikan satu nasihat. Yakni melakukan tugas sesuai dengan caranya sendiri, seperti yang juga telah ia lakukan dalam sepuluh tahun terakhir.