Konferensi Penempatan Pasukan Internasional ISAF | Fokus | DW | 14.09.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Konferensi Penempatan Pasukan Internasional ISAF

Situasi keamanan Afghanistan semakin rapuh, namun tak ada negara anggota NATO yang bersedia mengirimkan pasukan tambahan ke negara itu.

Pasukan internasional kewalahan di Afghanistan

Pasukan internasional kewalahan di Afghanistan

Pada sebuah konferensi yang membahas isyu tersebut di kota Mons, Belgia, tak satupun wakil negara yang hadir menyatakan kesepakatannya. Pemerintah Jerman juga tidak bersedia memenuhi permintaan itu. Hari Rabu (13/09) kemarin, Jerman menetapkan perpanjangan tugas pasukan Jerman di Afghanistan tanpa merubah mandat.

Tidak ada keputusan resmi yang dihasilkan Konferensi Penempatan Pasukan Internasional ISAF di Afghanistan. Negara-negara NATO belum mencapai kesepakatan untuk mengirimkan pasukan-pasukan baru ke negara itu. Panglima NATO di Eropa, Jenderal James Jones dari Amerika Serikat, meminta tambahan 2.500 tentara untuk memerangi kelompok Taliban yang ternyata lebih kuat dari yang disangka. Jurubicara NATO, James Appathurai tetap positif. Ia menjelaskan:

Memang betul belum ada keputusan, tapi ada isyarat-isyarat positif. Baik dari segi politis dan militer, hal ini masih harus dibahas di masing-masing negara. Selama pembahasannya masih langsung, tidak akan ada keputusan resmi”.

Inggris, Jerman, Turki, Spanyol dan Italia sudah menyatakan tidak dapat mengirimkan pasukan tambahan. Saat ini pasukan ISAF terdiri dari 18.000 tentara. Menurut jurubicara NATO, James Appathurai, kepastian mengenai negara mana saja yang dapat mengirimkan pasukan mungkin baru bakal diketahui akhir bulan ini, pada saat menteri-menteri Pertahanan NATO bertemu di Slovenia.

Sementara Aliansi ini menegaskan, bahwa operasi Medusa yang sedang diluncurkan untuk menghantam kelompok Taliban di Afghanistan Selatan tidak terancam. Namun, di wilayah itu tentara-tentara Kanada, Belanda, Amerika Serikat, Denmark serta Afghanistan yang berperang bahu membahu, memang harus memperhitungkan jatuhnya korban yang lebih tinggi daripada yang diperkirakan. Menurut Appathurai:

Misi ini belum tuntas, tapi banyak kemajuan yang telah dicapai. Para pemimpin pasukan angkatan darat, termasuk Jenderal Jones yakin pasukannya cukup besar untuk mensukseskan misi ini”.

Jenderal NATO, James Jones, terutama ingin membentuk pasukan cadangan yang dapat secepatnya diturunkan ke lokasi kritis di Afghanistan Selatan. Jerman telah menolak untuk memindahkan pasukannya dari Afghanistan Utara yang relatif lebih aman. Saat ini tugas 2.700 pasukan Jerman sudah diperpanjang.

Duta Besar Amerika Serikat untuk NATO, Victoria Nuland, menuntut pihak Aliansi untuk memenuhi janjinya, mendukung Afghanistan menjadi negara yang stabil. Ia menyatakan, Amerika Serikat akan mengalihkan sebagian pasukannya yang berada di Afghanistan ke wilayah selatan negara itu, guna memperkuat perlawanan terhadap Taliban.

Di Afganistan, pasukan AS yang berkekuatan sekitar 19.000 orang, tidak berada di bawah komando NATO. Mereka beroperasi dengan nama “Enduring Freedom” di wilayah Timur. Diperkirakan pada KTT NATO di Riga, yang akan berlangsung akhir November mendatang, pasukan ISAF akan mengambil alih komando di wilayah Timur, di mana Taliban masih belum dikalahkan.