Konferensi Irak di Mesir | dunia | DW | 03.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Konferensi Irak di Mesir

Perdana Menteri Irak Nuri al Maliki membuka konferensi di Sharm el Sheik – Mesir dengan menyerukan kepada semua negara untuk menghapuskan hutang luar negeri negaranya yang sangat besar.

Menteri Luar Negeri Inggris Margaret Beckett (kanan) dan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice (kiri) pada sesi pembukaan Konferensi Irak di Sharm El-Sheik, Mesir.

Menteri Luar Negeri Inggris Margaret Beckett (kanan) dan Menteri Luar Negeri AS Condoleeza Rice (kiri) pada sesi pembukaan Konferensi Irak di Sharm El-Sheik, Mesir.

Jumlahnya diperkirakan mencapai 50 milyar dolar Amerika. Bersama dengan Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condolezza Rice, al Maliki meminta bantuan untuk menyelamatkan Irak dari kekacauan dan kebangkrutan. Berikut pernyataan Rice :

„Kita semua telah pernah mengatakannya. Irak yang stabil adalah keinginan kita semua. Kini saatnya bagi setiap negara untuk mendukung tujuan ini dengan gerakan-gerakan baru.“

Bantuan telah dipastikan datang dari Mesir. Menteri Keuangan Irak Bayan Jabor mengatakan Mesir telah setuju untuk menghapuskan semua hutang Irak, yang berjumlah sekitar 800 juta dolar Amerika. Jabor juga mengatakan Slovenia, Bulgaria dan Polandia telah setuju untuk menghapus 80 persen dari hutang Irak, namun ia tidak mengatakan berapa jumlah pastinya. Sementara itu, Uni Eropa akan memberikan Irak dana bantuan sebesar 200 juta dolar Amerika. Bantuan semacam ini juga masih dinantikan dari beberapa negara Asia. Walaupun Irak sebenarnya membutuhkan bantuan dalam bentuk apa pun, negara ini menolak tawaran dari Rusia yang akan menghapus hutang Bagdad dengan imbalan berupa akses ke ladang minyak milik Irak. Selain mengharapkan bantuan penghapusan hutang dari negara peserta konferensi, juga diharapkan dapat lahir sebuah perjanjian internasional dengan Irak atau ICI dari konferensi tersebut. Perjanjian ini adalah rencana lima tahun untuk menstabilkan negara yang terus berperang ini dan mengembangkan struktur perekonomiannya.

Konferensi Irak ini juga diwarnai rencana pertemuan antara Menteri Luar Negeri Amerika Serikat Condoleezza Rice dengan Menteri Luar Negeri Suriah Walid al Moualem. Ini adalah pertemuan pertama tingkat tinggi kedua negara dalam dua tahun terakhir. Sementara kabar yang beredar mengenai kemungkinan adanya pertemuan Rice dengan perwakilan Iran dibantah oleh Saleh Zankana, penasehat Menteri Luar Negeri Iran Manuchehr Mottaki.

„Konferensi ini adalah mengenai situasi di Irak dan bukan tentang hubungan Iran dan Amerika. Amerika Serikat memiliki kekuasaan militer di Irak. Mereka merasa bertanggung jawab atas perkembangan disana. Namun, masalah di Irak juga menjadi perhatian Iran, karena Irak adalah negara tetangga kami. Karena itu penting untuk mencari jalan keluarnya dan menguji sejauh mana Amerika Serikat dan negara yang lain dapat menemukan sebuah solusi.“

Konferensi yang berlangsung di Sharm el Sheikh di Mesir ini diikuti oleh perwakilan dari lebih 30 negara dan akan berakhir hari Jumat ini.

Iklan