Konferensi Iklim di New York | dunia | DW | 15.05.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Dunia

Konferensi Iklim di New York

Kota-kota besar memiliki masalah yang besar juga. Paling tidak dalam masalah lingkungan hidup dan energi. Konferensi di New York mengenai perubahan iklim global tingkat walikota dan gubernur kota besar berlangsung dari 14.5 hingga 17.5 tahun ini.

New York, kota besar pengguna energi terbesar

New York, kota besar pengguna energi terbesar

Sejak pesawat mendarat di bandara, mata para hadirin Pertemuan Iklim di New York pekan ini sudah jeli mengamati situasi di sekitar mereka. Bagaimana pengaturan transportasi umum? Bagaimana sistim jalan-jalannya?

Pengamatan Katrin Lompscher, Senator Berlin yang mengurus Lingkungan Hidup cenderung berhubungan dengan jabatannya, hal itu pula juga yang menjadi alasan kedatangannya ke Konferensi Iklim di New York. Michael Geissler, Ketua Badan Energi Berlin yang mendampinginya memantau beberapa hal yang membuatnya heran. Ia mengatakan,

„Kami di sini tinggal di hotel yang sangat terkenal, di mana dalam bayangan saya yang bodoh ini, seharus nya sudah menggunakan lampu-lampu yang menghemat energi, dan bukan lampu pijar. Tapi saya tidak melihat satupu lampu hemat energi di sini.“

Sementara sepanjang tur yang pertama, Senator Katrin Lompscher bersama rekannya dari Barcelona menanyai supir taksi kapal di pelabuhan berapa efisiennya energi yang digunakan untuk transportasi itu. Ia mempertimbangkan, apakah taksi kapal merupakan alat transportasi umum yang tepat untuk Berlin, yang sungainya mengalir melewati tengah kota.

Berlin, yang populasinya berkisar pada 5 juta orang, merupakan satu-satunya kota Jerman yang mengirimkan seorang wakil ke konferensi ini. Sementara kota-kota lain yang mengirimkan wakilnya, mulai dari Bogota, Mumbay hingga Sydney memiliki populasi yang jauh lebih besar. Walikota dari Meksiko, Addis Abeba, Bangkok, Rotterdam, Tokyo dan berbagai kota besar lainnya hadir di situ, juga wakil dari 10 kota di Amerika Serikat. Mengapa begitu?

Anna Tibaijuka, direktur eksekutif organisasi Habibat dan wakil sekjen PBB menilai, bahwa urbanisasi yang berkelanjutan merupakan kunci bagi pembangunan yang berkelanjutan. Menurut dia, untuk pertama kalinya dalam sejarah, diperkirakan tahun ini jumlah penduduk urban melewati penduduk pedesaan. Dan kenyataannya, tiga perempat energi di dunia digunakan oleh kota-kota besar di seluruh dunia. Penggunaan energi inilah yang berdampak pada perubahan iklim global.

Bagi Senator Katrin Lompscher dari Berlin ini merupakan masalah penting. Ia menilai,

“Menurut saya, nilai pertemuan ini justru karena kita tidak lagi menunggu keputusan PBB atau Bank Dunia, tapi bahwa pemerintah kota itu memiliki tanggung jawab dan menggunakan kesempatan yang ada untuk bertindak memperbaiki lingkungan.”

Pertemuan tiga hari ini memfokus berbagai kemungkinan mengatasi perubahan iklim, dengan cara-cara yang menggairahkan para pengusaha dan ekonomi lokal.

Tema yang dibahas termasuk masalah energi dan air, serta pembangunan gedung-gedung yang hemat energi di kawasan perkantoran maupun perumahan. Selain itu di konferensi ini dibicarakan kemungkinan mentransformasi sampah menjadi energi, penggunaan sistem-sistem daur ulang yang mengurangi sampah kota, dan bagaimana pasar finansial bisa membantu perkembangan ini dengan cara-cara yang menguntungkan kota-kota besar dan bisnis-bisnis.

Iklan