Konferensi Donor Internasional untuk Afghanistan | Fokus | DW | 01.02.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Konferensi Donor Internasional untuk Afghanistan

Selasa kemarin konferensi negara donor untuk Afghanistan dimulai di London. Disamping kelanjutan bantuan dana internasional, agenda penting lainnya adalah proses alokasi dana itu.

Presiden Karsai di tengah-tengah peserta konferensi donor Afghanistan

Presiden Karsai di tengah-tengah peserta konferensi donor Afghanistan

"Afghanistan berhasil memilih presiden lewat jalur demokratis, membentuk parlemen baru serta pemerintahan daerahnya – proses ini akan kami dukung terus.“

Dengan pernyataan tersebut Sekretaris Jenderal NATO Jaap de Hoop Scheffer menandaskan maksud utama diselenggarakannya konferensi Afghanistan ini. Bagi dunia barat keberhasilan Afghanistan merupakan cerita sukses yang harus didukung terus.

Tanpa dukungan kuat dari dunia internasional, Afghanistan tidak mungkin bisa mencapai keberhasilan yang memadai. Agar pembangunan dapat dilanjutkan lebih terarah, telah disusun sebuah pakta setebal 15 halaman yang tinggal disahkan. Dokumen itu atau "Pakta untuk Afghanistan“ berisi strategi pembangunan yang terdiri dari tiga komponen. Yang pertama, perbaikan situasi keamanan. Kedua, penerapan prinsip-prinsip negara hukum. Dan komponen terakhir, pembangunan ekonomi dan sosial.

Kesulitan besar dalam penerapan strategi itu adalah pemusnahan lahan-lahan tanaman candu yang akan makan waktu lama. Demikian dikatakan Ayesha Khan dari Londoner Royal Institute for Foreign Affairs, sebuah badan penelitian politik luar negeri terkemuka. Khan mengatakan:

“Masalah perdagangan obat bius akan membebani perjanjian di segala bidang, seperti situasi keamanan negara dan pembangunan ekonomi. Dari hasil penjualan obat bius para gembong menyokong aksi teror mereka, tentara serta penjara mereka, Taliban, Al Qaeda, semuanya. Sehingga kekuasaan pemerintahan Karsai hanya sebatas Kabul.”

Pusat perdagangan obat bius Afghanistan adalah provinsi Helmand. Hampir 90 persen dari lahan yang tersedia digunakan untuk tanaman candu. Inggris akan meningkatkan jumlah tentaranya dari 850 menjadi 5.700 orang, guna membantu Afghanistan dalam upaya pemusnahan penyelundupan obat bius. Tetapi, Presiden Afghanistan mengelak. Ia mengatakan tujuan penempatan tentara asing di Afghanistan untuk menjamin stabilitas keamanan. Sedangkan masalah obat bius merupakan urusan dalam negeri Afghanistan. Karsai memaparkan:

"Lahan tanaman candu berhasil kami susut 21 persen dari jumlah sebelumnya. Dan para petani di sana kembali menanam buah-buahan. Perdagangan lainnya pun dapat berjalan dengan baik, karena infrastruktur di daerah tersebut telah diperbaiki. Kalau semua berjalan terus seperti ini, maka beberapa tahun lagi tidak ada lahan opium.”

Presiden Karsai memuji kemajuan yang telah dicapai selama ini. Namun ia juga mengatakan bahwa bantuan lebih besar dari masyarakat internasional tetap dibutuhkan. Untuk satu tahun, Afghanistan memerlukan sedikitnya 3,5 miliar Dollar AS. Suara-suara kritis pun semakin keras. Karena, hanya seperempat bantuan luar negeri mengalir langsung ke anggaran negara Afghanistan. Sedangkan sisanya ditujukan kepada organisasi-organisasi non-pemerintah. Bank Dunia mengkritik situasi tersebut, karena pembagian keuangan seperti ini dapat mengganggu rancangan anggaran jangka panjang.

Selama dua hari strategi pembangunan pemerintah Afghanistan akan dibahas.Sudah terbukti, bahwa Afghanistan berhasil menjadi negara yang lebih demokratis.