Konferensi Afganistan di Berlin | Fokus | DW | 31.01.2007
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Fokus

Konferensi Afganistan di Berlin

Pembangunan kembali Afganistan merupakan agenda utama dalam sebuah konferensi internasional di Berlin yang diselenggarakan tanggal 30 sampai 31 Januari ini.

Menlu Afganistan dan Menlu Jerman

Menlu Afganistan dan Menlu Jerman

Ruangan terbesar di gedung Kementrian Luar Negeri Jerman di Berlin dipenuhi oleh peserta konferensi dari Kabul yang diwakili para menteri dari Afganistan, wakil dari negara-negara donor, utusan Perserikatan Bangsa Bangsa, Uni Eropa dan para jenderal Pakta Pertahanan Atlantik Utara (NATO). Konferensi Afganistan yang terakhir diselenggarakan tahun lalu. Sejak itu banyak hambatan dan kemunduran yang dialami. Tahun 2006 adalah merupakan tahun yang paling sarat dengan tindak kekerasan sejak jatuhnya Taliban.

Namun, bagi tuan rumah, Menteri Luar Negeri Jerman Frank-Walter Steinmeier, kekerasan itu bukan merupakan alasan untuk hanya mengandalkan peningkatan pasukan internasional.

"Kita harus mengaitkan misi militer dengan kebijakan pembangunan kembali sipil.“

Menyatukan dua hal tersebut memang sulit. Tanpa keamanan tidak ada permbangunan kembali. Terutama di Afganistan selatan dan timur, di mana Taliban berkuasa. Para jenderal Amerika memperkirakan, Taliban akan melancarkan serangan baru pada musim semi mendatang. Pemerintah Jerman merencanakan pengiriman enam pesawat pengintai Tornado ke Afganistan Selatan, namun selebihnya, sekitar 3.000 tentara Jerman ditempatkan jauh dari daerah pertempuran.

Menteri Perdagangan Afganistan Amin Farhang tidak keberatan dengan pembagian tugas itu, tetapi ia memiliki harapan yang besar akan keterlibatan Jerman.

“Kami harapkan, pemerintah Jerman menekankan keterlibatannya dalam pembangunan kembali dan perkembangan ekonomi. Penolakan mereka untuk mengirimkan tentaranya ke Afganistan Selatan dapat dimengerti. Dan ini dapat dikompensasikan dengan penekanan bantuan pembangunan kembali.“

Menteri luar negeri Jerman dan para donor internasional lainnya sebenarnya ingin menyerahkan tugas-tugas tersebut ke tangan Afganistan. Seperti yang diterangkan Steinmeier:

"Saya kira, kita harus melakukan segalanya, meningkatkan upaya untuk membantu Afganistan agar mampu mandiri.“

Akan tetapi badan-badan pemerintah masih lemah dan pengaruh pemerintah pusat tidak menyentuh semua provinsi. Karena itu, pada bulan-bulan mendatang, negara-negara donor hendak lebih meningkatkan pendidikan angkatan bersenjata dan kepolisian negara itu. Angkatan bersenjata dan kepolisian yang kuat diperlukan untuk menangani masalah korupsi dan campur tangan luar di Afganistan. Dan keadaan yang stabil merupakan prasyarat bagi suatu perkembangan ekonomi. Demikian menurut Menteri Perdagangan Afganistan Amin Farhang.

Meskipun terdapat begitu banyak hambatan, tuan rumah Konferensi Afganistan, Steinmeier, mengimbau para peserta untuk tidak mengabaikan kemajuan yang telah dicapai dalam pembangunan di Afganistan dan melanjutkan bantuannya untuk negara itu.