Kondisi Anak-anak Timor Leste | Sosial | DW | 15.12.2006
  1. Inhalt
  2. Navigation
  3. Weitere Inhalte
  4. Metanavigation
  5. Suche
  6. Choose from 30 Languages

Sosial

Kondisi Anak-anak Timor Leste

Banyak anak dari keluarga miskin tidak dapat bersekolah

Anak-anak harapan masa depan

Anak-anak harapan masa depan

Kepala UNICEF di Timor Leste Shui Meng Ng telah menyerahkan laporan tentang situasi anak-anak di dunia kepada Kepala Pemerintahan Timor Leste Dr. Jose Ramos Horta dan Uskup Dr. Gunnar Stalsett yang tengah berada di Dili.

Dalam sambutannya, Shui Meng mengatakan bahwa 20 persen anak Timor Leste belum mendapatkan akses untuk memperoleh pendidikan yang layak. Shui Meng menambahkan, untuk mengatasi masalah ini, UNICEF bekerja sama dengan Bank Dunia, Australia, Selandia Baru, Jepang dan pemerintahan Timor Leste guna menjamin bahwa semua anak harus dapat bersekolah. Perdana Menteri Timor Leste Dr. Jose Ramos Horta menyambut dukungan komunitas internasonal tersebut.

“Kami akan mendirikan berbagai sekolah dan merekrut para tenaga pengajar dengan anggaran negara yang didukung oleh masyarakat dan donor internasional. Namun ini sulit diwujudkan dalam kurun waktu 4 atau 5 tahun ini. Anggaran negara bagi pendidikan dan kesehatan tetap tinggi, dan untuk mengimplementasikannya dalam waktu yang singkat sangat sulit sekali. Namun kita yakin bahwa dalam 10 tahun mendatang, tahun 2015 nanti, saya kira negara Timor Leste dapat menurunkan angka kemiskinan. Dan ini berarti juga penurunan angka warga yang masih buta huruf.”

Sementara itu, dalam laporan yang disampaikan oleh UNICEF juga diketahui bahwa kebanyakan anak-anak Timor Leste tidak bersekolah karena berasal dari keluarga miskin. Anak-anak itu harus bekerja untuk membantu memperoleh penghasilan tambahan bagi keluarga mereka. Laporan itu juga menyebutkan bahwa sekitar 21 persen anak laki-laki dan 17 persen anak perempuan yang berumur antara 5 -14 tahun bekerja sebagai tenaga pembantu di rumah. Uskup Gunnar Stalsett sendiri mengatakan bahwa sebenarnya masalah tersebut bagi Timor Leste telah cukup jelas.

“Timor Leste harus menyetujui Konvensi Internasional yang sesuai dengan Hak Asasi Manusia. Ini sebagai sebuah tanda bahwa negara ini mentaati konvensi yang ada. Timor Leste harus menjamin masa depan anak-anak. Ini juga sebagai pemikiran khusus bagi negara dan dunia dalam memperingati hari Internasional anak-anak.”

UNICEF sendiri sebenarnya sudah mulai berusaha memajukan bidang pendidikan bersama Kementrian Pendidikan Timor Leste. Bulan September lalu misalnya, mereka telah meluncurkan kampanye nasional ‘Back to School’ atau ‘Kembali Bersekolah’ untuk mendorong lebih dari 200 ribu anak-anak di Timor Leste untuk meneruskan sekolah mereka di tahun ajaran baru tersebut. Kampanye yang berlangsung selama dua bulan ini memfokuskan diri terhadap murid-murid dan guru-guru sekolah dasar dan juga pembukaan kembali sekitar 100 sekolah di Dili yang sempat ditutup karena kerusuhan akhir bulan Mei lalu.